Sebut IHSG Anjlok karena Pasar Shock, Purbaya yakin Pekan Depan Bakal Rebound
JAKARTA, investortrust.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyebut anjloknya indeks harga saham gabungan (IHSG) karena pasar shock dan bereaksi atas laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menyoroti isu transparansi di bursa saham Indonesia. Purbaya meyakini anjloknya pasar modal hanya bersifat sementara dan akan berbalik atau rebound pada pekan depan.
“Ini kan masih shock. Besok akan flat. Minggu depan lah Anda lihat minggu depan lah akan balik," kata Purbaya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Baca Juga
Purbaya menyebut reaksi pasar terhadap laporan MSCI berlebihan. Apalagi, laporan itu baru awal hingga nantinya diputuskan pada Mei 2026 mendatang.
"Ini saya pikir reaksi berlebihan karena ini kan baru laporan pertama kan. Masih ada waktu eksekusi sampai bulan Mei,” kata Purbaya.
Purbaya menyatakan telah berkomunikasi dengan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar dan memastikan seluruh catatan yang disampaikan MSCI akan dibereskan sebelum tenggat waktu pada Mei 2026. Purbaya meyakini perusahaan-perusahaan di Indonesia masih memiliki peluang besar untuk kembali masuk ke indeks MSCI dan menjadi tujuan investasi investor global.
“Ini hanya shock sesaat. Perusahaan-perusahaan itu pasti bisa memenuhi syarat MSCI dan kembali masuk indeks,” tegasnya.
Purbaya bahkan menilai kondisi saat ini justru menjadi momentum yang baik bagi investor untuk memborong saham. Hal ini menurutnya, karena fundamental ekonomi nasional masih baik. Apalagi, katanya, koordinasi Kemenkeu dan Bank Indonesia (BI) semakin baik untuk menyelaraskan kebijakan fiskal dan moneter.
"Jadi kalau bursa saham jatuh gara-gara itu, dan kita tahu itu akan diperbaiki dalam waktu yang tidak terlalu lama sebelum bulan Mei harusnya sekarang a good time to buy,” kata Purbaya.
Diberitakan, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (28/1/2026), ditutup anjlok 659,67 poin (7,35%) menjadi 8.320. Rentang pergerakan 8.187-8.980 dengan nilai transaksi Rp 43,16 triliun hingga sempat terkena trading halt selama 30 menit.
Penurunan indeks dipicu atas kejatuhan seluruh sektor saham dengan penekan utama datang dari saham-saham big cap, seperti saham BREN, PTRO, BRPT. Penurunan juga melanda saham big cap lainnya, seperti BBCA, DSSA, MORA, PANI, hingga RATU.
Sebaliknya, sejumlah saham masih berhasil catatkan kenaikan hingga auto reject atas (ARA), yaitu saham WAPO naik 34,04% menjadi Rp 252, STAR naik 24,80% menjadi Rp 780, dan BOGA naik 24,74% menjadi Rp 1.790. Kenaikan pesat juga melanda saham BALI sebanyak 23,84% menjadi Rp 1.740 dan AGAR naik 12,10% menjadi Rp 278.
Baca Juga
Sebelumnya, MSCI pada Selasa (27/1/2026) mengumumkan pemberlakuan perlakuan sementara terhadap pasar Indonesia dengan membekukan sejumlah perubahan dalam proses index review, termasuk pada peninjauan indeks Februari 2026. Kebijakan tersebut meliputi pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), penghentian sementara penambahan konstituen baru ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI), serta pembekuan perpindahan naik antarsegmen indeks ukuran.
MSCI menyatakan, kebijakan ini bertujuan menekan tingkat index turnover dan mengurangi risiko terhadap kelayakan investasi, sekaligus memberikan waktu bagi otoritas pasar untuk meningkatkan transparansi.

