2026 Jadi Tahun Penentuan Arah Ekonomi dan Pasar Modal RI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Wakil Pemimpin Redaksi (Wapemred) Investortrust.id, Abdul Aziz menyebut 2026 menjadi periode krusial yang akan menentukan arah perekonomian Indonesia pada tahun-tahun berikutnya, baik dari sisi pertumbuhan ekonomi nasional maupun kinerja pasar modal.
Hal itu disampaikan Abdul Aziz dalam sambutannya pada ajang Best Stock Awards 2026 yang diselenggarakan oleh Investortrust dan Infovesta Utama di The Westin, Jakarta, Rabu (28/1/2026).
Ia mengatakan, 2025 dilalui sebagai fase konsolidasi, sementara 2026 menjadi tahun penentuan apakah Indonesia mampu keluar dari tren pertumbuhan sekitar 5% menuju level yang lebih tinggi. “2026 adalah tahun penentuan. Tahun yang akan menentukan arah ekonomi Indonesia pada tahun-tahun berikutnya, apakah kita bertahan di pertumbuhan 5%, atau mampu melompat ke 5,6%, bahkan menembus 6%,” kata Abdul Aziz.
Baca Juga
Dia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi sekitar 5% pada 2025 patut disyukuri, tetapi dinilai belum cukup untuk menjawab tantangan struktural. Menurut Aziz, dengan jumlah pengangguran terbuka 7,5 juta orang dan 25 juta penduduk miskin absolut, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dan berkualitas.
Meski demikian, Aziz menilai posisi Indonesia di kawasan ASEAN masih relatif solid dan berada di atas rata-rata regional, serta tetap menjadi salah satu motor pertumbuhan utama di Asia Tenggara.
Ia menambahkan, pentingnya 2026 juga didorong oleh perkiraan membaiknya siklus ekonomi global serta mulai masuknya program-program pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ke fase implementasi dan akselerasi.
Program tersebut, antara lain mencakup ketahanan pangan dan energi, hilirisasi industri, penguatan pertahanan, pembangunan infrastruktur pencipta lapangan kerja, program makan bergizi gratis (MBG), hingga pembangunan tiga juta rumah. “Inilah fondasi yang membuat optimisme 2026 menjadi rasional,” ujar Aziz.
Beranjak ke pasar modal, Aziz menyampaikan, 2025 menjadi salah satu periode paling impresif bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencatatkan kenaikan lebih dari 22%. Namun, ia menekankan bahwa penguatan tersebut tidak terjadi secara merata.
Dikatakan Aziz, ketika IHSG naik lebih dari 22%, indeks LQ45 hanya tumbuh sekitar 2,4%. Kondisi tersebut menunjukkan reli pasar yang sempit atau narrow rally, yang ditopang oleh sejumlah saham berkapitalisasi besar.
Ia menyebut sepanjang 2025 investor asing mencatatkan aksi jual bersih sekitar US$ 1 miliar, dipengaruhi suku bunga global yang tinggi, penguatan dolar AS, serta sikap hati-hati terhadap pasar negara berkembang.
Memasuki awal 2026, Abdul Aziz menyatakan mulai terlihat tanda-tanda perubahan. IHSG tetap menguat, investor asing mulai kembali meski selektif, dan pasar mulai memberikan apresiasi terhadap fundamental emiten.
Baca Juga
BEI Lakukan Trading Halt Transaksi Saham 30 Menit, IHSG Anjlok 8%
Adapun sejak awal 2026, IHSG mencatatkan beberapa kali rekor tertinggi sepanjang masa atau all time high. Aziz menyoroti, rekor tersebut mencerminkan ekspektasi pasar terhadap berakhirnya puncak suku bunga serta potensi kembalinya likuiditas global. “ATH hari ini bukan akhir perjalanan, melainkan awal babak baru,” tutur dia.
Ke depan, kata Aziz, pasar berpotensi memasuki fase kenaikan lebih luas dan sehat, yang dipimpin saham-saham dengan fundamental kuat. Semangat tersebut menjadi dasar penyelenggaraan Best Stock Awards 2026.
Pada kesempatan itu, dia juga menyampaikan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan penerima penghargaan Best Stock Awards 2026 atas kualitas, disiplin, dan komitmen jangka panjang yang ditunjukkan.

