Schroders: Proses Peralihan Pemerintah Akan Menentukan Arah Pasar Modal
JAKARTA, investortrust.id – Pertumbuhan pasar modal bergantung pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan begitu, peralihan kepemimpinan presiden baru akhir tahun nanti, menjadi penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Bicara capital market, bagaimanapun semua tergantung bagaimana ekonomi kita. Karena kalau ekonomi kita buruk, nggak ada orang asing maupun lokal yang mau melakukan investasi di capital market,” ujar CEO PT Schroders Investment Management Indonesia Michael Tjoajadi, pada Investortrust CEO Forum di Hotel Ayana Midplaza, Kamis (29/8/2024).
Dia memastikan, capaian target pertumbuhan ekonomi akan membawa dampak positif pada pasar modal. Namun sebelum sampai ke sana, pemerintah harus memfokuskan cara mencapai target tersebut, dengan perkiraan kebutuhan investasi sebesar US$ 800 juta – US$ 1.000 juta untuk lima tahun ke depan.
Untuk pemerintahan selanjutnya, Michael berpesan, yang penting bagi pasar modal adalah komitmen makro prudensial. Apakah pemerintah akan pro pertumbuhan atau memperbesar defisit. Hal ini dapat menentukan pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) menuju level 8.000 atau tidak.
Baca Juga
Hilirisasi Saja Dinilai Belum Cukup untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 8%
“Tentu harapan pasar modal, pemerintah harus pro-growth dan harus diikuti oleh gimana penunjukkan para menteri yang memang mendorong pertumbuhan ini. Bukan yang lebih defensif sehingga tidak akan ada pertumbuhan,” tegas Michael.
Dia juga berpesan agar pemerintahan baru lebih efisien menggunakan anggaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Jika tidak, dia khawatir pertumbuhan ekonomi akan melambat atau kurang dari target yang ditentukan.
“Di pasar modal sendiri, memang akan banyak yang harus diperbaiki. Namun tentu kita butuh banyak hal dari pemerintah, kebijakan yang lebih awal sebelum kita perbaiki pasar modal itu sendiri,” ucapnya.
Michael mengingatkan bahwa semua negara di dunia berlomba-lomba meraup kapitalisasi pasar tersebut. melalui investasi asing (foreign direct investment/FDI). Dia mencontohkan, India menerapkan kebijakan yang mendorong pertumbuhan kapitalisasi pasar dengan imbal hasil (return) signifikan.
Baca Juga
Ekonomi Indonesia Kerap Mendapat Durian Runtuh, Apa Maksudnya?
“Mereka melakukan digitalisasi besar-besaran sampai launching sistem pembayaran digital untuk masyarakat kecil,” imbuh Michael.
India juga fokus mengembangkan 13 industri yang mampu memajukan negaranya. Industri unggulan dimaksud, meliputi industri pertahanan. Sedangkan Pemerintah Indonesia diapresiasi atas program LPDP yang juga mengirim pelajar ke luar negeri.
“China juga pernah melakukan seperti itu, ke pertanian dan manufaktur. Mereka pernah banyak mengirim orang ke luar negeri untuk belajar science dan membiarkan mereka bekerja jadi asisten profesor, bermacam-macam posisi di Amerika. Begitu negaranya mulai membutuhkan, baru kembali ke China,” papar Michael.
Hal itu yang menyebabkan China mengalami lonjakan pertumbuhan manufaktur. Dia menegaskan, pertumbuhan ekonomi saat ini ditopang oleh tiga aspek, yakni demografi, decarbonisation, dan deglobalization. (CR-10)

