Simak! Berikut Tips Menghadapi Gejolak IHSG Akibat Sentimen MSCI
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Pada penutupan sesi pertama perdagangan Rabu (28/1/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat koreksi tajam sebesar 7,34% atau turun 659,01 poin ke level 8.321,22. Pelemahan signifikan ini terjadi di tengah pergerakan positif bursa saham regional Asia, dengan tekanan utama berasal dari sentimen domestik, khususnya terkait pengumuman terbaru dari MSCI.
Sentimen negatif menguat setelah MSCI merilis pembaruan terkait proses free float assessment pada Selasa (27/1/2026) malam. Sebelumnya, pelaku pasar mengantisipasi adanya potensi perubahan metodologi perhitungan free float, terutama usulan pengecualian kepemilikan di atas 5%, yang dinilai dapat berdampak pada bobot saham di indeks MSCI.
Namun demikian, hasil keputusan MSCI menunjukkan bahwa tidak terdapat penyesuaian pada periode Februari, di mana sebelumnya pasar berekspektasi sejumlah emiten, termasuk BUMI dan ANTM, berpeluang masuk ke dalam indeks. MSCI menegaskan bahwa proses pemantauan akan dilanjutkan hingga Mei 2026, dengan fokus pada peningkatan transparansi serta penguatan tata kelola pasar modal Indonesia.
"Investor disarankan untuk tetap tenang, menghindari keputusan terburu-buru, dan menerapkan strategi taktis melalui diversifikasi portofolio. Meskipun proses penyesuaian ini tidak mudah, diharapkan langkah-langkah ini akan meletakkan dasar bagi pasar saham Indonesia yang lebih sehat dan berkelanjutan ke depannya," imbau Eastpring Investment, Rabu (28/1/2026).
Baca Juga
Risiko yang perlu dicermati adalah apabila Indonesia gagal memenuhi kriteria tersebut, yang berpotensi memicu penurunan klasifikasi dari Emerging Market menjadi Frontier Market, dan pada akhirnya dapat mendorong arus keluar dana asing dalam skala signifikan. Tekanan ini tidak hanya berdampak pada saham-saham yang secara langsung terkait dengan indeks MSCI, tetapi juga meluas ke saham-saham grup konglomerasi yang selama ini menjadi bagian dari fenomena “MSCI game”.
"Sebelum koreksi pasar terjadi, strategi pengelolaan portofolio saham kami telah berada pada posisi yang relatif defensif dan terukur, dengan fokus pada sektor material khususnya nikel dan emas yang tidak terdampak langsung oleh dinamika MSCI. Eksposur terhadap saham berkapitalisasi besar serta saham grup konglomerasi juga telah dikurangi secara signifikan," tulis riset Eastpring.
Ke depan, portofolio akan secara bertahap diarahkan ke saham mid cap dengan fundamental yang solid, kepemilikan asing yang relatif rendah, tidak termasuk dalam MSCI game, serta memiliki basis investor ritel yang tidak terlalu dominan.
"Sejumlah saham di sektor konsumer dan emiten berbasis emas dinilai memenuhi kriteria tersebut dan berpotensi memberikan ketahanan portofolio yang lebih baik," tulisnya lagi.
Baca Juga
BEI Lakukan Trading Halt Transaksi Saham 30 Menit, IHSG Anjlok 8%
Di sisi lain, pasar obligasi domestik terpantau relatif resilien. Imbal hasil SBN tenor 5 tahun tercatat naik tipis sebesar 1 bps ke level 5,74%, sementara SBN tenor 10 tahun meningkat 1 bps ke 6,37%. Sejalan dengan itu, nilai tukar Rupiah sejauh ini bergerak menguat sekitar 0,45% ke level Rp16.692 per Dolar AS, mencerminkan stabilitas di pasar keuangan domestik di tengah volatilitas pasar saham.
Risiko lanjutan yang perlu dicermati adalah potensi tekanan apabila terjadi pelemahan rupiah akibat arus keluar portofolio asing, yang pada akhirnya dapat berdampak pada pasar obligasi. Namun demikian, stabilitas pasar obligasi ditopang oleh porsi investor domestik yang besar, sehingga pergerakannya cenderung lebih terkendali.

