Bitcoin Masih ‘Sideways’ di Level US$ 88.000 Saat Emas Tembus Rekor
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Harga aset kripto Bitcoin (BTC) masih bergerak menyamping (sideways) di kisaran US$ 87.000 - US$ 88.000, saat harga emas resmi melampaui level psikologis US$ 5.000 per oz.
BTC kini tertinggal jauh dengan penurunan sekitar 17% secara tahunan (year on year/yoy) dan terkoreksi 30% dari puncaknya pada Oktober 2025 sebesar US$ 126.000. Sementara emas telah menguat 83% dalam setahun terakhir, didorong aksi borong bank sentral, ketegangan geopolitik, dan pelemahan Dolar Amerika Serikat (AS).
Data CryptoQuant menunjukkan, pemegang Bitcoin jangka panjang mulai menjual aset mereka dalam kondisi rugi untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023. “Pola ini biasanya mengindikasikan fase konsolidasi yang berkepanjangan,” ujar Financial Expert Ajaib Kripto Panji Yudha, Selasa (27/1/2026).
Baca Juga
Bank Investasi AS Ini Batalkan Alokasi Bitcoin Karena Kekhawatiran Komputasi Kuantum
Di sisi makro, tekanan terhadap aset berisiko semakin kompleks, seiring merosotnya Indeks Dolar AS (DXY) ke level terlemahnya sejak 18 September 2025. Pelemahan dolar ini secara unik dipicu oleh langkah kolaboratif antara US Federal Reserve dan Bank of Japan yang melakukan intervensi pasar untuk mendongkrak nilai tukar Yen terhadap Greenback.
“Meski dolar melemah yang biasanya menguntungkan aset keras, likuiditas saat ini lebih memilih mengalir ke emas akibat meningkatnya risiko geopolitik dan ketidakpastian fiskal AS ketimbang ke pasar kripto,” simpul Panji.
Baca Juga
Bitcoin Naik Terbatas, Pasar WaspadaI Risiko Makro dan Tekanan Derivatif
Dia memprediksi, Bitcoin akan bergerak dalam rentang US$ 86.000 - US$ 89.000 hari ini, sedangkan Ethereum berpotensi bergerak di sekitar US$ 2.800 - US$ 3.000.
Dalam 24 jam terakhir, Bitcoin (BTC) sedikit pulih dan naik 1,6% bertengger di kisaran US$ 88.230 atau Rp 1,47 miliar. Kemudian dominasi pasar BTC (BTC.D) kini berada di level 59,73%, sementara total kapitalisasi pasar aset kripto menguat 1,95% menjadi ke level US$ 2,95 triliun.

