IHSG Berpotensi Sideways Level 7.450–7.550, Saham Energi Layak Jadi Incaran
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) IHSG di Bursa Efek Indonesia diperkirakan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Kondisi ini mendorong saham-saham sektor energi menjadi incaran pelaku pasar seiring prospek yang dinilai tetap menjanjikan.
Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengungkapkan bahwa secara teknikal IHSG berpotensi bergerak mendatar (sideways) di kisaran 7.450 hingga 7.550 dalam waktu dekat.
Baca Juga
Wall Street Bangkit Ditopang Saham Teknologi, S&P 500 dan Nasdaq Melesat di Atas 1%
“Selama harga minyak tetap tinggi dan konflik geopolitik belum mereda, sektor energi berpotensi tetap menjadi leading sector yang menopang pergerakan indeks. Oleh karena itu, strategi yang dapat diambil investor adalah memanfaatkan momentum di saham-saham energi, namun tetap dengan disiplin manajemen risiko,” ujarnya kepada investortrust.id, dikutip Selasa (14/4/2026).
Pada awal pekan ini, IHSG menunjukkan daya tahan yang cukup kuat di tengah meningkatnya tekanan global. Indeks ditutup menguat 0,56% ke level 7.500, capaian yang menarik karena sebagian besar bursa di Asia dan Eropa justru melemah seiring memanasnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Aksi beli bersih (net buy) investor asing sebesar Rp 646 miliar menjadi penopang utama pergerakan indeks, ditambah penguatan nilai tukar rupiah yang turut memberikan sentimen positif bagi pasar domestik. “Hal ini mencerminkan bahwa secara fundamental, investor masih melihat Indonesia sebagai pasar yang relatif stabil di tengah ketidakpastian global,” tuturnya.
Baca Juga
IHSG Cenderung Menguat Menuju 7.580, Tiga Saham Berikut Jadi Pilihan Hari ini
Di balik penguatan IHSG, dinamika global juga cukup signifikan. Kegagalan perundingan gencatan senjata antara AS dan Iran memicu kekhawatiran eskalasi konflik, terutama terkait rencana blokade Selat Hormuz oleh AS.
Situasi tersebut mendorong harga minyak dunia melonjak hingga menembus di atas US$ 100 per barel, yang meningkatkan kekhawatiran inflasi global.
Dampaknya, ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral global seperti The Federal Reserve berpotensi tertunda, bahkan membuka peluang suku bunga bertahan tinggi lebih lama. “Inilah yang kemudian menekan mayoritas pasar saham global serta memicu pelemahan sektor-sektor sensitif suku bunga,” kata Hendra.
Saham Pilihan
Melihat kondisi tersebut, sejumlah saham direkomendasikan untuk dicermati, antara lain PGAS, ELSA, SUPA, dan GZCO.
Saham PGAS direkomendasikan dengan strategi speculative buy dapat dipertimbangkan di kisaran 1.900–1.930 dengan target 1.990 dan support di 1.850, seiring peluang peningkatan kinerja dari kenaikan harga energi.
Baca Juga
Reli Kripto, Bitcoin Melampaui US$ 74.000 dan Ethereum Naik di Atas US$ 2.300
ELSA juga dinilai menarik sebagai saham sektor jasa energi, dengan area masuk di 760–780, target 805, dan support di 740, terutama karena pergerakannya cenderung agresif saat sektor energi menguat.
Sementara itu, SUPA dapat menjadi pilihan dengan strategi buy di rentang 920–950, target 985, dan support di 900, cocok bagi investor yang mengincar pergerakan lebih stabil.
Adapun GZCO menjadi opsi trading dengan risiko tinggi namun berpotensi memberikan imbal hasil cepat, dengan area entry di 220–230, target 246, dan support di 210, sehingga membutuhkan disiplin tinggi dalam pengelolaan risiko.

