Bukit Uluwatu (BUVA) Genjot Recurring Income melalui Rights Issue, Harga Sahamnya Bisa Segini
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) memperkuat ekspansi bisnis recurring income dalam lima tahun ke depan melalui serangkaian aksi korporasi dan pengembangan proyek strategis di Bali dan Labuan Bajo.
Samuel Sekuritas dalam riset yang ditebritkan di Jakarta, kemarin, menyebutkan bahwa Bukit Uluwatu (BUVA) mengalokasikan hasil rights issue senilai Rp 600 miliar untuk mendukung akuisisi lahan premium dan sinergi pengembangan dengan aset unggulan perseroan.
Baca Juga
Bukit Uluwatu (BUVA) Rancang Rights Issue Jumbo 203,11% Saham, Harga Langsung Melesat
Perseroan juga mengalokasikan dana Sebesar Rp 416 miliar dari rights issue untuk mengakuisisi 99,99% saham PT Bukit Permai Properti (BPP) pada November 2025. BPP memiliki cadangan lahan (landbank) seluas 19,3 hektare di kawasan Uluwatu, Bali, berdekatan dengan Alila Villas Uluwatu, yaitu flagship BUVA yang menjadi kontributor terbesar pendapatan 2024.
“Dengan luas lahan BPP yang tiga kali lebih besar, dibandingkan Alila Villas Uluwatu, potensi pengembangan di kawasan tersebut diperkirakan dapat menghasilkan harga jual premium dan menguatkan prospek pertumbuhan BUVA dalam jangka menengah,” tulis analis Samuel Sekuritas Ahnaf Yassar.
Saat ini, BUVA tengah merancang penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHETD) II atau rights issue sebanyak 50 miliar saham atau setara dengan 203,11% dari jumlah saham ditempatkan dan disetor penuh saat ini. Aksi ini akan direalisasikan setelah mendapatkan restu pemegang saham bulan depan.
Selain itu BUVA melalui anak usaha Bukit Savanna Raya membeli lahan Rp 112 miliar (2,7 hektare) di Labuan Bajo, NTT. Lahan tersebut rencananya akan dimanfaatkan untuk Pembangunan hotel berkapasitas 126 kamar yang berpotensi meningkatkan laba pra-pajak sebesar 16,8% pada 2026 dan 17,3% pada 2027.
Peluang MSCI
Selain itu, rights issue BUVA juga meningkatkan peluang perseroan masuk indeks MSCI Small Cap. MSCI dijadwalkan mengumumkan hasil kajian indeks berikutnya pada 10 Februari 2026 dan berlaku efektif 2 Maret 2026.
Kenaikan harga saham BUVA sebesar 176% sejak November, serta peningkatan adjusted free-float market cap ke US$ 543 juta (di atas ambang US$ 330 juta), memperkuat peluang tersebut. Selama 12 bulan terakhir, rata-rata nilai transaksi harian BUVA mencapai US$ 6,1 juta per hari atau melebihi batas minimum US$ 1 juta untuk eligibility MSCI.
Baca Juga
BEI Unsuspensi 4 Saham, PSKT, MINA, dan BUVA Teraffiliasi dengan Hapsoro
Potensi masuk MSCI dinilai dapat meningkatkan visibilitas perseroan bagi investor global dan menarik aliran dana pasif dari fund berbasis indeks. Prospek BUVA turut ditopang pemulihan sektor pariwisata Bali yang diproyeksikan tumbuh 8,3% CAGR pada 2025–2030.
Sejumlah faktor tersebut mendorong Samuel Sekuritas untuk merekomendasikan speculative buy saham BUVA dengan target harga Rp 3.000 atau setara 33,7x P/B.

