Banting Setir ke Produk Hilirisasi, Abadi Lestari (RLCO) Ekspansi ke AS dan Asia Tenggara
Poin Penting
|
Jakarta, investortrust.id - PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) mempercepat transformasi bisnis dan banting stir dari eksportir sarang burung walet mentah menjadi produsen produk kesehatan bernilai tambah atau produk hilirisasi. Perseroan membidik pasar ekspor baru, seperti Vietnam, Thailand, dan Amerika Serikat (AS).
Menurut Direktur Utama RLCO, Edwin Pranata, strategi ini dijalankan seiring lonjakan permintaan global terhadap produk kesehatan (wellness) dan nutrisi.
“Kami sekarang memfokuskan pengembangan produk olahan, seperti minuman sarang burung walet dan suplemen kesehatan. Kami ekspansi ke pasar ekspor baru, antara lain Vietnam, Thailand, dan AS,” kata Edwin dalam konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), baru-baru ini.
Edwin Pranata menjelaskan, ekspansi ini menjadi langkah strategis meningkatkan nilai jual produk sekaligus memperkuat posisi perseroan di rantai industri kesehatan global. “Kami tidak lagi berorientasi pada ekspor bahan mentah. Fokus kami adalah produk jadi dengan margin lebih tinggi,” ujar dia.
Baca Juga
Saat IHSG Jatuh 0,59% Pekan Ini, RLCO Pimpin Top Gainers dengan Lonjakan 141%
Dia mengungkapkan, ekspor produk olahan akan dilakukan melalui entitas anak dengan merek global Realogy, sedangkan Real Food tetap difokuskan untuk pasar domestik.
Vietnam dan Thailand, menurut Edwin, dipilih karena pertumbuhan pasar wellness yang agresif. Adapun AS merupakan pasar strategis dengan daya beli tinggi. “Ekspor ke Vietnam telah dimulai pada kuartal IV-2025, disusul Thailand pada kuartal II-2026 dan ASS pada kuartal IV-2026,” tutur dia.
Selain minuman sarang burung walet, kata Edwin Pranata, RLCO menyiapkan pengembangan produk nutrisi lain, seperti kaldu ayam tinggi protein dan kolagen ikan. Langkah ini menegaskan pergeseran RLCO ke segmen kesehatan konsumen (consumer health).
Harga Saham Meroket 5.078%
Transformasi bisnis RLCO sejalan dengan lonjakan harga saham perseroan sejak melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. RLCO yang digawangi mantan Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), Achmad Baiquni sebagai Komisaris Utama, resmi melantai di BEI pada 8 Desember 2025 dan menjadi emiten ke-25 yang tercatat di bursa sepanjang tahun lalu.
Baca Juga
Saham Abadi Lestari (RLCO) Resmi Listing, Harga Langsung ARA
Pada hari pertama perdagangan, saham RLCO langsung melonjak 34,52% ke level Rp 226. Saham RLCO terus mencetak auto rejection atas (ARA) hingga akhirnya BEI menghentikan sementara (suspensi) perdagangan per 21 Januari 2026, saat harga saham RLCO menyentuh level Rp 8.700.
Dibandingkan harga IPO di posisi Rp 168, saham RLCO telah melonjak sekitar 5.078% atau lebih dari 51 kali lipat. Saat disuspensi di harga Rp 8.700, saham RLCO mencatatkan market cap Rp 27,2 triliun.
RLCO punya kinerja keuangan yang mentereng. Emiten ini mencetak lonjakan laba bersih per Mei 2025 hingga 608% menjadi Rp 12,3 miliar, dari Rp 1,7 miliar per Mei 2024 (year on year/yoy). Lonjakan laba bersih ditopang peningkatan pendapatan bersih sebesar 48% dari Rp 156,8 miliar menjadi Rp 231,3 miliar (yoy).
Pendapatan perseroan terutama dikontribusi penjualan sarang burung olahan (88,48%), sisanya sebesar 11,52% dari produk konsumen. Ekspor RLCO per Mei 2025 mencapai Rp 205 miliar, melonjak 47,5% dari Mei 2024 sebesar Rp 139 miliar. Di sisi lain,penjualan lokal melesat 58,8% menjadi Rp 27 miliar dari sebelumnya Rp 17 miliar.
Baca Juga
BEI Unsuspensi Transaksi 4 Saham Hari Ini, Ada RLCO hingga AYAM
RLCO telah mengantongi sertifikasi dan izin ekspor utama, termasuk General Administration of Customs of the People's Republic of China (GACC) untuk Tiongkok dan Food and Drug Administration (FDA) untuk AS.
“Dengan posisi Indonesia sebagai produsen sarang burung walet terbesar dunia, peluang pengembangan produk bernilai tambah masih terbuka lebar,” tegas Edwin Pranata.
Dalam IPO, RLCO melepas 625 juta saham atau 20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh dengan harga Rp 168 per saham. Dana segar yang dihimpun perseroan sekitar Rp 105 miliar. Dana tersebut dialokasikan untuk pembelian bahan baku dan penguatan kapasitas produksi melalui entitas anak.
“IPO menjadi pijakan untuk mempercepat ekspansi dan memperkuat posisi kami sebagai perusahaan produk kesehatan berbasis protein,” tutur Edwin.

