Gangguan Pasokan Emas Tak Goyahkan HRTA, Laba 2026 Dibidik Rp 877,5 Miliar
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) dinilai mampu untuk mempertahankan ketahanan operasional di tengah ketatnya pasokan emas domestik. Model bisnis terintegrasi perseroan dipandang menjadi kunci menjaga pertumbuhan kinerja 2025–2026.
Hal ini mendorong MNC Sekuritas menaikkan proyeksi laba bersih Hartadinata tahun buku 2025 menjadi Rp743,4 miliar atau naik 10,2% year on year (yoy). Pada 2026, profit diperkirakan mencapai Rp877,5 miliar seiring volume penjualan yang berkelanjutan.
Research Analyst MNC Sekuritas Raka Junico menilai bahwa gangguan pasokan emas domestik justru mempertegas posisi strategis Hartadinata. Gangguan pasokan tersebut dipicu insiden operasional PT Freeport Indonesia (PTFI) di tambang Grasberg, yang memaksa proses restart produksi dilakukan bertahap mulai kuartal IV-2025 hingga semester I-2026.
Baca Juga
Grasberg Block Cave menyumbang sekitar 70% total produksi emas PTFI. Sebelum insiden, Freeport menargetkan produksi emas 2026 sebesar 1,6 juta ons. Secara historis, PTFI berkontribusi sekitar 51,4% terhadap total produksi emas nasional sepanjang 2013–2023.
Raka menyampaikan kekhawatiran utama pasar bukan pada harga emas, tetapi potensi gangguan rantai pasokan. Pasalnya, impor emas masih dibatasi dan pasokan dalam negeri lebih terbatas. Meski sempat terkoreksi 10% dari level tertinggi US$4.400 per ons, secara jangka menengah harga emas masih melesat 112% dibanding dua tahun sebelumnya.
Di sisi lain, struktur pengadaan Hartadinata dianggap lebih fleksibel. Perseroan mendapat pasokan emas dari mitra grosir dan ritel berupa scrap dan batangan, serta dari perusahaan tambang lokal, seperti Bumi Resources Minerals. Hartadinata juga mengoperasikan model terintegrasi dari manufaktur, pemurnian, grosir hingga pegadaian, dengan kapasitas produksi tahunan mencapai 48 ton.
Divisi grosir dan pegadaian turut mendukung likuiditas karena memungkinkan emas didaur ulang menjadi persediaan maupun kas. Hingga September 2025, perseroan mengoperasikan 84 gerai grosir dan 124 unit pegadaian.
Baca Juga
Pendapatan Hartadinata Abadi (HRTA) Naik Hampir Dua Kali Lipat, Laba Tembus Rp 575 Miliar
MNC Sekuritas menaikkan proyeksi volume penjualan emas Hartadinata menjadi 19,1 ton pada 2025 atau tumbuh 43% yoy dan 20,2 ton pada 2026 atau naik 6% yoy.
Dari sisi kinerja, pendapatan Hartadinata hingga kuartal III-2025 mencapai Rp25,2 triliun, melonjak 89,6% yoy atau 86,6% dari target tahun penuh 2025. Lonjakan didorong peningkatan volume dan harga jual rata-rata emas. Volume kuartalan pada 3Q-2025 mencapai 5,9 ton, tumbuh 33,8% quarter on quarter (qoq) dan 46,9% yoy, sementara volume kumulatif sembilan bulan mencapai 14,7 ton atau naik 29% yoy.
Harga jual rata-rata emas HRTA secara kumulatif naik 46,3% yoy menjadi Rp1,7 juta per gram dibanding Rp1,2 juta per gram pada periode sama tahun lalu.
Segmen wholesale menjadi kontributor utama dengan pendapatan Rp 8,8 triliun pada kuartal III-2025, tumbuh 33,1% qoq dan 171,6% yoy, menyumbang 83% pendapatan Januari–September 2025 berkat permintaan kuat dari bank-bank bullion.
Baca Juga
Hartadinata (HRTA) Siapkan Enam Strategi Utama untuk Perkuat Bisnis Emas
Laba bersih kuartal III-2025 mencapai Rp 227,2 miliar, melonjak 136% yoy dengan margin 2,2%. Secara kumulatif, laba bersih sembilan bulan 2025 mencapai Rp 575,8 miliar atau tumbuh 90,7% yoy dan melampaui ekspektasi analis.
Menurut Raka, pertumbuhan profit Hartadinata didukung volume penjualan yang kuat serta pengelolaan biaya yang disiplin dalam lingkungan harga yang kondusif.
Risiko yang perlu dicermati investor meliputi potensi koreksi harga emas global, gangguan rantai produksi, serta melemahnya permintaan dari bank-bank bullion.

