Tarif Impor 32% dari AS Tak Goyahkan IHSG, Analis Sebut Investor Tetap Optimistis
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Meski Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump resmi mengumumkan tarif unilateral sebesar 32% terhadap produk ekspor asal Indonesia, pasar modal yang tecermin dalam indeks harga saham gabungan (IHSG) tetap menunjukkan ketenangan.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan, tidak seperti gejolak besar yang terjadi di awal perang dagang AS-China pada 2018 lalu. menurutnya, kali ini indeks justru bergerak stabil dan mampu kembali menembus level psikologis 7.000.
"Fenomena ini menandakan bahwa pasar kini jauh lebih dewasa dan kalkulatif dalam menyikapi kebijakan proteksionisme global. Pelaku pasar tampaknya tidak lagi bereaksi secara emosional, melainkan mempertimbangkan berbagai faktor fundamental dan strategi mitigasi yang sedang dan akan ditempuh oleh pemerintah," kata Hendra saat dihubungi investortrust.id Rabu, (9/7/2025).
Hendra juga menekankan fundamental ekonomi Indonesia yang kini lebih tangguh turut menjadi penopang utama. Hilirisasi sektor tambang, perbaikan neraca perdagangan, serta cadangan devisa yang kuat membuat investor merasa lebih percaya diri terhadap daya tahan ekonomi nasional.
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Melesat 0,40%, Tiga Saham Pendatang Baru Dipimpin COIN Terbang
Apalagi, lanjut Hendra, sejumlah kebijakan struktural seperti relokasi produksi ke negara bebas tarif, kerja sama joint venture dengan mitra AS, hingga perluasan pasar ekspor ke kawasan non-AS seperti Afrika dan Timur Tengah mulai dibangun sebagai bagian dari respons strategis nasional.
"Hal ini memperkuat keyakinan bahwa tekanan dari tarif AS dapat dikendalikan, bahkan dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperluas diversifikasi ekspor," ujarnya.
Hendra menyoroti saham-saham seperti MBMA dan INCO masih tetap menarik karena menjadi bagian penting dari rantai pasok baterai kendaraan listrik yang masih sangat dibutuhkan pasar global, termasuk AS.
Sementara JPFA dinilai tangguh karena kekuatan pasarnya di kawasan ASEAN dan potensi besar untuk menembus pasar halal di Timur Tengah. Tidak heran jika saham-saham tersebut direkomendasikan untuk dibeli, masing-masing dengan target harga MBMA di level Rp 550, INCO di level Rp 3.600, dan JPFA di level Rp 1.800

