BCA (BBCA): Raja Dividen yang Konsisten Naik 13 Tahun Berturut-turut
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA terus memperkokoh posisinya sebagai bank swasta terbesar di Indonesia dengan kinerja keuangan yang solid di tengah dinamika ekonomi global. Hingga akhir tahun 2025, BCA berhasil mencatatkan laba bersih yang tumbuh stabil.
Berdasarkan data operasional 10 bulan pertama tahun 2025, BCA membukukan laba bersih (bank only) sebesar Rp 48,25 triliun, meningkat 4,39% secara tahunan (YoY). Kenaikan ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih yang mencapai Rp 66,47 triliun serta efisiensi operasional yang tetap terjaga.
Dalam hal aksi korporasi, BCA dikenal sebagai emiten yang sangat royal dan konsisten dalam membagikan dividen. Berdasarkan catatan InvestingPro, Jumat (23/1/2026), BBCA telah menaikkan dividennya selama 13 tahun berturut-turut.
Pada Desember 2025, perusahaan baru saja mendistribusikan dividen interim sebesar Rp 55 per saham. Konsistensi ini menjadikan BBCA sebagai saham favorit bagi investor jangka panjang yang mengincar passive income di tengah volatilitas pasar.
Baca Juga
Asal tahu saja, ketika suatu perusahaan telah menaikkan dividen selama berturut-turut, ini menunjukkan komitmen konsisten untuk mengembalikan modal kepada pemegang saham. Kenaikan dividen yang konsisten adalah tanda kesehatan finansial dan stabilitas perusahaan.
Ini juga menunjukkan perusahaan punya keyakinan pada pertumbuhan pendapatannya di masa depan. Ini bisa dilihat sebagai sinyal positif atau bullish bagi investor, terutama mereka yang mencari pemasukan reguler dari investasinya.
Memasuki Januari 2026, harga saham BBCA menunjukkan fluktuasi yang menarik bagi para trader maupun investor. Per 22 Januari 2026, harga saham berada di kisaran Rp 7.600 - Rp 7.700 per lembar. Meskipun sempat mengalami tekanan jual dari investor asing (foreign net sell) senilai Rp 1,33 triliun pada pertengahan Januari, fundamental BCA yang kuat seringkali membuat harga sahamnya cepat pulih (rebound) dari level support.
Melihat potensi ke depan, konsensus analis di InvestingPro menunjukkan optimisme yang tinggi. Rata-rata target harga (fair value) 12 bulan untuk BBCA dipatok pada angka Rp 10.284, dengan estimasi tertinggi mencapai Rp 11.700.
Profil Usaha dan Kepemilikan Saham
Secara profil usaha, BCA merupakan pilar utama sistem perbankan Indonesia yang fokus pada layanan transaksi perbankan serta penyaluran kredit ke berbagai segmen. BCA mulai beroperasi pada tahun 1957 dengan nama Bank Central Asia NV.
Kini BCA merupakan bank swasta terbesar di Indonesia yang melayani beragam segmen nasabah, baik nasabah individu maupun nasabah bisnis melalui jaringan perbankan elektronik dan kantor cabang yang menjangkau hampir seluruh kota besar di Indonesia. Keunggulan utama BCA terletak pada ekosistem dana murah (CASA) yang sangat kuat, di mana rasio dana murahnya mencapai lebih dari 80%.
Baca Juga
Net Sell Asing Memuncak, BBCA Terbanyak Sumbang Rp 1,72 Triliun
Rasio CASA BCA pernah tercatat mencapai 81% pada tahun 2022 dan 82% pada awal 2023. Hal ini memungkinkan BCA memiliki biaya dana (cost of fund) yang sangat rendah dibandingkan kompetitornya, sehingga marjin keuntungan tetap terjaga meski suku bunga bergejolak.
Lantas, siapa di balik raksasa perbankan ini? Kepemilikan saham BBCA didominasi oleh Grup Djarum melalui PT Dwimuria Investama Andalan yang memegang 54,94% saham. Pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owners) dari entitas ini adalah orang terkaya di Indonesia, yaitu Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono.
Sisa kepemilikan saham sebesar 42,46% dimiliki oleh masyarakat umum (publik). Sementara sebagian kecil lainnya dimiliki oleh jajaran direksi dan komisaris perusahaan sebagai bentuk komitmen kepemimpinan.

