IHSG Berpotensi Sideways dan Rupiah Jadi Penentu, Saham JPFA, BUVA, dan KPIG Layak Dipantau
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (21/1/2026), berpotensi bergerak fluktuatif dengan kecenderungan sideways, seiring aksi tunggu pelaku pasar terhadap keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI).
Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow dan Republik Investor Hendra Wardana mengatakan sentimen BI masih menjadi kunci arah pasar dalam jangka pendek.
“Selama BI mampu untuk menjaga kebijakan moneter yang kredibel dan berorientasi pada stabilitas, sentimen pasar relatif akan tetap terjaga. Namun, volatilitas rupiah tetap menjadi faktor kunci yang memengaruhi arah pasar jangka pendek, terutama bagi investor asing,” ujarnya kepada investortrust.id, Selasa (20/1/2026).
Baca Juga
Secara teknikal, Hendra menilai, saat ini IHSG berada dalam fase konsolidasi naik setelah reli panjang. Tren bullish dinilai tetap terjaga karena indeks mampu bertahan di atas area support psikologis. “Struktur tren masih tergolong kuat karena indeks mampu bertahan di atas area support psikologis 9.100 hingga 9.125,” ucapnya.
Selama support tersebut tidak ditembus, dia mengungkapkan, peluang penguatan lanjutan masih terbuka menuju resistance terdekat di kisaran 9.150–9.175. Jika area tersebut ditembus disertai volume lebih solid, IHSG berpotensi menguji level yang lebih tinggi.
Meski demikian, beberapa indikator teknikal mulai menunjukkan kondisi jenuh beli ringan, sehingga pergerakan sideways dalam jangka pendek dinilai wajar. Apalagi saat tensi geopolitik meningkat setelah Amerika Serikat (AS) berniat mengambilalih Greenland dengan menerapkan kebijakan tarif bagi Eropa.
Baca Juga
Ancaman Tarif Trump Picu Aksi ‘Jual Amerika’: Dolar dan Obligasi AS Jatuh, Emas Tembus Rekor Baru
Hendra menambahkan, pergerakan nilai tukar rupiah juga menjadi faktor penentu arah IHSG. Jika tekanan pada nilai tukar mereda, indeks berpeluang menguji resistance atas. Namun jika rupiah kembali tertekan, risiko aksi ambil untung jangka pendek meningkat.
Sedangkan optimisme domestik masih ditopang saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan dan basic materials, serta ekspektasi stabilnya suku bunga acuan BI di level 4,75%. Namun, pelemahan nilai tukar rupiah ke kisaran Rp 16.950 per dolar AS menahan penguatan karena memicu kekhawatiran soal stabilitas makro dan aliran dana asing.
Baca Juga
Wall Street Ambles Terseret Isu Greenland, Dow Anjlok Hampir 900 Poin
Dalam strategi jangka pendek, Hendra menyarankan investor agar selektif dan fokus pada saham berlikuiditas tinggi dengan katalis jelas. Sektor basic materials dinilai menarik seiring tren kenaikan harga emas dan logam, dengan BRMS atraktif untuk trading jangka pendek dengan target Rp 1.500.
Di sektor konsumer dan agribisnis, JPFA menarik untuk trading buy dengan target Rp 3.200 seiring ekspektasi perbaikan margin. BUVA juga layak dicermati setelah pengumuman rencana rights issue, meski investor perlu memperhatikan risiko dilusi, dengan harga Rp 2.400. Sementara itu, KPIG dapat menjadi opsi spekulatif jangka pendek dengan target Rp 320.

