Wall Street Ambles Terseret Isu Greenland, Dow Anjlok Hampir 900 Poin
Poin Penting
|
NEW YORK, investortrust.id – Pasar saham Amerika Serikat (AS) mencatat kerugian besar pada Selasa waktu AS atau Rabu (21/1/2026) WIB. Wall Street ambruk setelah Presiden Donald Trump meningkatkan retorikanya terkait Greenland, dengan mengancam akan memberlakukan tarif baru terhadap negara-negara yang menentang penjualan wilayah Denmark tersebut kepada AS.
Baca Juga
Dow Futures Anjlok, Wall Street Cemas Eskalasi Tarif AS–Eropa
Imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak dan dolar AS melemah ketika ancaman Trump memicu pelarian dari aset-aset AS. Operator dana pensiun Denmark, AkademikerPension, mengatakan pada Selasa bahwa mereka keluar dari obligasi pemerintah AS karena kekhawatiran terhadap kondisi keuangan dan utang AS.
Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 870,74 poin atau 1,76% dan ditutup di level 48.488,59. Indeks S&P 500 turun 2,06% ke 6.796,86. Nasdaq Composite merosot 2,39% dan berakhir di 22.954,32. Ini merupakan sesi terburuk sejak Oktober bagi ketiga indeks utama tersebut.
Kerugian hari itu mendorong S&P 500 dan Nasdaq masuk ke wilayah negatif untuk tahun 2026. Indeks pasar luas kini turun 0,7%, sementara Nasdaq yang sarat saham teknologi melemah 1,2% sepanjang periode tersebut. Indeks Volatilitas Cboe (VIX) — yang dikenal sebagai “pengukur ketakutan” Wall Street — melonjak hingga menyentuh level tertinggi 20,99.
Trump mengumumkan melalui unggahan di Truth Social pada Sabtu bahwa impor Amerika Serikat dari delapan anggota NATO akan menghadapi tarif yang meningkat “hingga tercapai kesepakatan untuk pembelian Greenland secara lengkap dan total.” Tarif tersebut akan dimulai sebesar 10% pada 1 Februari dan naik menjadi 25% pada 1 Juni, kata Trump.
Trump kemudian mengancam akan mengenakan tarif 200% terhadap anggur dan sampanye Prancis di tengah laporan bahwa Presiden Prancis Emmanuel Macron enggan bergabung dengan apa yang disebutnya sebagai Dewan Perdamaian (Board of Peace). Trump juga menyerang Inggris, menyebut rencana pemerintah Inggris untuk menyerahkan kedaulatan Kepulauan Chagos — salah satunya menjadi lokasi pangkalan militer Inggris-AS — kepada Mauritius sebagai “tindakan kebodohan besar.” Ia mengatakan langkah itu merupakan salah satu lagi alasan mengapa Greenland harus diakuisisi.
Baca Juga
Krisis Greenland Memanas, Eropa Siapkan ‘Bazooka’ Dagang ke AS
Brad Long, kepala investasi Wealthspire, mengaku tidak terkejut atas perkembangan terbaru yang membebani pasar saham, mengingat pasar “sudah dihargai nyaris sempurna” dengan valuasi dan ekspektasi laba yang “tinggi.”
“Meskipun tarif bukan hal baru dan Greenland — atau minat pemerintahan terhadap Greenland — juga bukan hal baru, penggunaan tarif sebagai senjata dalam jangka pendek untuk mencapai tujuan non-ekonomi atau mungkin tujuan yang beririsan dengan ekonomi adalah hal baru,” urainya kepada CNBC.
“Eropa keluar dari 2025 relatif tanpa luka, atau setidaknya relatif tidak terdampak oleh tarif. Kini ini langsung menyasar beberapa sekutu terdekat AS — delapan negara di Eropa, dengan tarif 10% hingga 25%. Kita seperti kembali ke volatilitas April 2025 akibat ketidakpastian dan perubahan kebijakan Trump,” tambahnya.
Para pemimpin Eropa menggambarkan ancaman tarif terbaru Trump sebagai “tidak dapat diterima” dan dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah balasan — dengan Prancis disebut mendorong Uni Eropa untuk menggunakan ancaman ekonomi terkuatnya, yang dikenal sebagai Anti-Coercion Instrument (ACI).
“Di sisi lain dari defisit perdagangan dan perang dagang, terdapat arus modal dan perang modal,” kata pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio pada World Economic Forum di Davos, Swiss. “Jika Anda melihat konflik-konflik ini, Anda tidak bisa mengabaikan kemungkinan terjadinya perang modal. Dengan kata lain, mungkin tidak ada lagi kecenderungan yang sama untuk membeli utang AS dan sebagainya,” tambahnya.
Trump, yang dijadwalkan berbicara di Davos pada Rabu, mengatakan bahwa ia telah sepakat untuk berbicara dengan para pemimpin Eropa di konferensi tersebut guna membahas ambisinya terkait Greenland.
Baca Juga
Di Davos, Menkeu AS Tegaskan 'America First' Bukan Amerika Sendirian
Menteri Keuangan AS Scott Bessent membela rencana pengambilalihan Greenland oleh Trump. “Itu akan menghentikan segala bentuk perang kinetik, jadi mengapa tidak mencegah masalah sebelum dimulai?,” ujarnya.

