Rupiah Sentuh Level Terlemah Sepanjang Masa, Ini Kata Menkeu Purbaya
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah melemah semakin dalam, bahkan mata uang Garuda sudah menyentuh level penutupan terlemah sepanjang masa. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah terjerembab ke posisi Rp 16.981 per dolar AS pada Selasa (20/1/2026), dibanding hari sebelumnya di level Rp 16.935. Apa kata Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa?
Meski rupiah telah terdepresiasi hingga 1,53% selama tahun berjalan (year to date/ytd), Menkeu Purbaya optimistis tekanan terhadap mata uang NKRI dapat dikendalikan karena fundamental ekonomi Indonesia masih kuat. Dia meminta para spekulan tak terlalu menahan kepemilikan dolar AS.
Baca Juga
“Jadi, ekonomi kita kalau kita jaga terus dan kita perbaiki terus ke depan, rupiah akan cenderung menguat. Jadi, untuk spekulator-spekulator, jangan terlalu ambil posisi yang terlalu long,” ujar Purbaya di Jakarta, Selasa (20/1/2026).
Berdasarkan catatan investortrust.id, pada level penutupan Rp 16.981 per dolar AS hari ini, rupiah memecahkan rekor terendah baru sepanjang sejarah. Bahkan, di pasar spot antarbank Jakarta, rupiah sempat menembus level Rp 16.997, sebelum ditutup di posisi Rp 16.956 per dolar AS. Angka itu pun kian jauh dari asumsi makro APBN 2026, yakni Rp 16.500 per dolar AS.
Sebelum rekor hari ini, rupiah sempat menyentuh level Rp 17.107 per dolar AS secara intraday pada 24 April 2025, meskipun akhirnya ditutup di posisi Rp 16.865 per dolar AS.
Saat krisis moneter meluluhlantakkan perekonomian Indonesia pada 1997-1998, rupiah terdepresiasi hingga menyentuh rekor terendah saat itu di kisaran Rp 16.650 –16.800 per dolar AS pada 17 Juni 1998. Pada masa pandemi Covid-19, rupiah juga mengalami tekanan hebat hingga sempat menyentuh level Rp 16.575 – 16.600 per dolar AS pada Maret 2020.
Baca Juga
Rupiah Nyaris Sentuh Rp 17.000 per US$, Menkeu: Investor Spekulasi Thomas Djiwandono ke BI
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa yakin perekonomian nasional terus membaik. Dukungan segenap pemangku kepentingan, terutama parlemen, terhadap Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) akan mendukung perbaikan ekonomi ke depan.
“Jadi, dengan kebijakan yang sinergis antara pemerintah, bank sentral (BI), OJK (Otoritas Jasa Keuangan), dan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan), harusnya mesin-mesin ekonomi kita akan bergerak semua. Pemerintah dan swasta akan mendorong pertumbuhan ekonomi ke tingkatan lebih cepat lagi,” tegas dia.
Purbaya menjelaskan, dilihat dari persentasenya, pelemahan rupiah terbilang sedikit dibandingkan level sebelumnya. Seharusnya sistem sudah terbiasa merespons hal ini.
“Jadi, ke wholesale, dampaknya ke ekonomi akan minimum. Tapi yang penting adalah ketika fondasi ekonomi kita perbaiki terus, economic activity dalam negeri akan meningkat. Orang akan melihat tuh ekonominya bagus, investor akan balik lagi ke sini, termasuk investor asing,” ujar dia.
Level Psikologis Rp 17.000
Sementara itu, ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), Teuku Riefky menjelaskan, pelemahan hari ini mendorong rupiah ke level ekuilibrium barunya.
Baca Juga
Rupiah Kembali Melemah Terhadap Dolar AS, Diprediksi Bisa Sentuh Rp 17.000 per US$
“Ini sebetulnya tinggal nunggu beberapa saat lagi sampai rupiah rupiah menembus batas psikologis Rp 17.000,” tutur Riefky saat ditemui di kantor CSIS.
Riefky mengakui, terjerembabnya rupiah ke level psikologis baru bisa menjadi preseden buruk. Soalnya, pelemahan itu terjadi ketika tidak terjadi krisis.
“Padahal, kita nggak ada krisis. Kita nggak ada Covid-19, nggak ada krisis keuangan Asia seperti 1997-1998. Ini yang saya khawatir adalah jangan-jangan memang policy making process-nya membuat investor nggak melihat kita sebagai perekonomian yang sound,” tandas Teuku Riefky.

