Rupiah Semakin Dekat ke Rp 17.000 per US$
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Rupiah masih terpantau melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (20/1/2026). Pada pukul 10.29 WIB, rupiah terpantau melemah ke posisi Rp 16.973 per US$.
Pelemahan rupiah terjadi ketika indeks dolar AS atau DXY melemah ke posisi 99,01 atau turun 0,38%. Tak hanya rupiah yang keok terhadap dolar AS, sejumlah negara mitra dagang Indonesia juga terpantau masih mengalami pelemahan terhadap dolar AS.
Rupee India, won Korea Selatan, peso Filipina, dan dolar Singapura menjadi empat mata uang lain yang melemah terhadap dolar AS. Rupee melemah 0,05%, won melemah 0,33%, peso Filipina dan dolar Singapura melemah 0,02%.
Sementara itu, mata uang dua negara mitra dagang utama Indonesia seperti Jepang dan China menguat terhadap dolar AS. Yen menguat 0,11% dan yuan menguat 0,04%. Tak hanya itu, baht Thailand juga menguat 0,11% dan ringgit Malaysia menguat 0,06%.
Euro Uni Eropa terpantau menguat 0,07% dan poundsterling Britania Raya menguat 0,09%.
Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro melihat ancaman tarif Presiden AS, Donald Trump terhadap negara-negara Eropa yang menentang aneksasi Greenland menjadi salah satu sentimen yang ikut menekan kekuatan dolar AS.
Sebagaimana diberitakan Trump akan “menghadiahkan” tarif 10% mulai 1 Februari 2026 terhadap delapan negara, yakni Denmark, Norwegia, Swedia, Finlandia, Jerman, Inggris, Prancis, dan Belanda. Delapan negara ini akan mendapat tarif hingga 25% pada 1 Juni 2026 apabila kesepakatan mengenai Greenland tak tercapai.
Para pemimpin Eropa mengecam pernyataan tersebut. Opsi balasan akan ditempuh sembari melihat perkembangan situasi. Akibat kondisi ini, saham produsen otomotif dan barang mewah Eropa melemah, sementara itu beberapa saham sektor pertahanan menguat.
Di dalam negeri AS, investor merespons dinamika politik yang menyeret Ketua the Fed, Jerome Powell. Penyelidikan pidana Powell dan prediksi pasar terhadap sosok pengganti Powell, Kevin Warsh, mengguncang independensi the Fed.
“Mendorong investor menuntut imbal hasil yang lebih tinggi untuk surat utang berjangka panjang,” kata Andry.
Perhatian pasar AS kini tertuju pada rilis inflasi berdasarkan Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditure (PCE) dan data PDB pekan depan.
Andry memproyeksikan perdagangan rupiah di pasar spot akan bergerak di kisaran Rp 16.920-17.015 per US$.

