Venezuela Dikabarkan Simpan 600.000 Bitcoin, Risiko 'Supply Shock' Mencuat
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Isu tentang kepemilikan Bitcoin (BTC) Venezuela kembali menjadi sorotan setelah muncul laporan yang menyebut negara tersebut diduga menyimpan hingga 600.000 BTC. Jumlah ini cukup besar untuk memengaruhi pasokan Bitcoin dan pergerakan harga di pasar kripto.
Isu ini muncul di tengah volatilitas Bitcoin yang masih tinggi, membuat pasar semakin waspada. Pasar menyoroti potensi supply shock, kondisi ketika pasokan aset di pasar menyusut signifikan sementara permintaan relatif bertahan atau meningkat.
Melansir dari CoinPedia, Selasa (6/1/2025), Venezuela diduga memiliki cadangan Bitcoin senilai US$ 56–67 miliar, tergantung harga pasar. Jika klaim tersebut akurat, Venezuela akan masuk jajaran pemegang Bitcoin terbesar secara global.
Informasi ini bersumber dari laporan intelijen yang disoroti peneliti whale, Bradley Hope dan Clara Preve. Mereka menyebut proses akumulasi Bitcoin dilakukan secara tidak terbuka dan berlangsung bertahun-tahun, sehingga kerap disebut sebagai shadow reserve.
Baca Juga
Melansir dari Indodax, proses akumulasi Bitcoin Venezuela disebut dimulai sejak 2018, saat pemerintah menjual emas dari kawasan Orinoco Mining Arc. Sebagian hasil penjualan emas tersebut diklaim dikonversi ke Bitcoin ketika harga masih berada di kisaran US$ 5.000 per BTC.
Perkiraan awal menyebut sekitar US$ 2 miliar emas ditukar menjadi Bitcoin, menghasilkan kurang lebih 400.000 BTC. Dengan harga Bitcoin mendekati US$ 90.000 di awal 2026, nilai kepemilikan tersebut melonjak tajam.
Selain emas, laporan juga menyinggung beberapa sumber akumulasi lain, seperti transaksi minyak yang diselesaikan menggunakan USDT di tengah sanksi ekonomi, konversi sebagian USDT ke Bitcoin untuk menghindari risiko pembekuan alamat, penyitaan dari aktivitas mining kripto ilegal, serta skema barter minyak dan kripto sepanjang 2023 hingga 2025. Gabungan sumber tersebut memunculkan estimasi kepemilikan hingga 600.000 BTC.
Mengapa Isu Ini Memicu Kekhawatiran 'Supply Shock'?
Besarnya jumlah Bitcoin yang diklaim dimiliki Venezuela menjadi perhatian utama pasar. Sebagai perbandingan, penjualan sekitar 50.000 BTC oleh Jerman pada 2024 sempat memicu koreksi harga Bitcoin hingga 15%–20%.
Dengan estimasi kepemilikan yang jauh lebih besar, potensi dampaknya dinilai tidak sebanding. Jika Bitcoin tersebut tidak beredar di pasar, pasokan Bitcoin global bisa semakin ketat.
Sebaliknya, jika terjadi pelepasan dalam jumlah besar, volatilitas harga berisiko meningkat tajam. Kondisi inilah yang mendorong kekhawatiran pasar terhadap global supply shock, yakni guncangan pasokan yang berdampak langsung pada stabilitas harga Bitcoin.
Baca Juga
Lebih lanjut, laporan tersebut mengulas beberapa skenario terkait kepemilikan Bitcoin Venezuela. Pertama, aset Bitcoin berpotensi dibekukan jika disita oleh otoritas Amerika Serikat, sehingga tidak dapat dipindahkan atau dijual dalam waktu dekat.
Kedua, Bitcoin tersebut bisa disimpan sebagai cadangan strategis jangka panjang, mirip dengan pola kepemilikan institusi besar yang tidak aktif diperdagangkan. Ketiga, meski dinilai paling kecil kemungkinannya, terdapat risiko likuidasi cepat yang dapat memicu tekanan jual besar dalam waktu singkat.
Dua skenario awal justru berpotensi memperketat pasokan Bitcoin di pasar. Sementara skenario terakhir membawa risiko volatilitas ekstrem.
Di sisi lain, jika klaim ini mendekati kenyataan, pengaruh Venezuela terhadap pasar kripto dinilai tidak lagi berasal dari sektor energi, melainkan dari kepemilikan Bitcoin dalam skala besar. Meski belum dikonfirmasi secara resmi, isu ini menambah lapisan ketidakpastian baru yang dapat memengaruhi sentimen pasar hingga 2026. Pasar kini menunggu apakah isu ini akan berhenti sebagai laporan, atau berkembang menjadi faktor struktural yang benar-benar mengubah dinamika pasokan Bitcoin global.

