IHSG Cetak ATH 9.032 Hari Ini, Begini Prediksi dan Saham Pilihan ke Depan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Tren penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berlanjut setelah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah (all time high/ATH). Analis memperkirakan IHSG masih memiliki peluang menembus level 9.200 dalam waktu dekat.
Berdasarkan data BEI, Rabu (14/1/2026), IHSG menguat 84,28 poin atau 0,94% ke level 9.032. Indeks bahkan sempat menyentuh 9.049 dengan nilai transaksi mencapai Rp 227,40 triliun.
Baca Juga
LQ45 Tertinggal Dua Tahun Berturut, Danantara: Peluang Re-Rating Terbuka di 2026
Dari sisi teknikal, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana atau Didit menilai IHSG masih berada pada fase uptrend dan bergerak inline. “Untuk besok, Kamis (15/1/2026), IHSG masih berpeluang menguat meskipun terbatas dengan support 9.002 dan resistance 9.050,” ujar Didit kepada investortrust.id, Rabu (14/1/2026).
Sentimen positif turut datang dari mayoritas bursa Asia yang menguat, serta kenaikan harga komoditas emas dan timah. Namun, tekanan global masih muncul dari ketegangan geopolitik AS–Venezuela dan AS–Iran, serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam beberapa waktu terakhir.
Secara sektoral, penguatan IHSG didorong saham consumer cyclical dan infrastruktur, sementara emiten konglomerasi mulai bergerak kembali. Saham yang layak dicermati menurut Didit antara lain PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) dengan target harga Rp 2.330–2.390, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) Rp 9.900–10.050, dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) Rp 1.840–1.905.
Baca Juga
Senada, Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai keberhasilan IHSG menembus level psikologis 9.000 dan mencetak ATH mencerminkan kombinasi sentimen global dan domestik yang kondusif. “Rebound indeks hari ini terutama ditopang ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed yang semakin akomodatif setelah data inflasi AS menunjukkan pelonggaran,” ujar Hendra.
Ekspektasi siklus penurunan suku bunga global memperkuat minat investor terhadap aset berisiko di emerging markets. Dari dalam negeri, stabilnya nilai tukar rupiah serta sinyal kemampuan Bank Indonesia menjaga keseimbangan stabilitas–pertumbuhan meningkatkan kepercayaan pasar di tengah likuiditas sistem keuangan yang longgar.
Secara komposisi, reli IHSG tidak hanya ditopang saham perbankan dan big caps, tetapi juga sektor energi, infrastruktur, dan komoditas. Sektor energi menguat sejalan dengan kenaikan emas dan perak serta sentimen transisi energi dan proyek berkelanjutan seperti yang dijalankan PGEO. Saham konstruksi, infrastruktur, dan second liners turut mendapat rotasi sektor pasca penembusan ATH.
Baca Juga
Rosan Ungkap Transformasi BUMN oleh Danantara Dongkrak Valuasi Telkom (TLKM) Jadi Rp 115 T
“Ke depan, setelah level 9.000 berhasil ditembus, IHSG secara teknikal memiliki ruang menuju area 9.100–9.200 dalam jangka pendek, dengan catatan sentimen global tetap kondusif,” terang Hendra. Penopang utama reli diperkirakan berasal dari ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, stabilitas rupiah, dan masuknya aliran dana asing ke saham unggulan.
Namun, risiko perlu dicermati seperti potensi koreksi teknikal jangka pendek, pelemahan harga minyak, ketidakpastian geopolitik, dan rilis kinerja keuangan perbankan AS yang berpotensi memicu volatilitas. Kondisi tersebut dapat menahan reli dan mendorong IHSG bergerak konsolidatif di kisaran atas.
Untuk saham pilihan, Hendra merekomendasikan PT Petrosea Tbk (PTRO) buy dengan target Rp 13.000. PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) trading buy dengan target Rp 2.000, PT Panin Financial Tbk (PNLF) speculative buy dengan target Rp 330, dan PT MNC Land Tbk (KPIG) speculative buy dengan target Rp 300.

