LQ45 Tertinggal Dua Tahun Berturut, Danantara: Peluang Re-Rating Terbuka di 2026
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Laporan Danantara Economic Outlook 2026 mengungkapkan indeks saham LQ45 Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali tertinggal dalam dua hari beruntun, dibandingkan indeks lainnya. Kondisi ini mencerminkan bahwa penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya terdorong saham-saham konglomerasi, bukan indeks LQ45.
Adapun kinerja saham perbankan BUMN masih dibayangi tekanan kenaikan laba sepanjang 2025, seiring melemahnya permintaan domestik dan ketatnya likuiditas. Saat ini, saham BUMN dinilai sudah terdiskon terlalu dalam.
“Dengan ekspektasi laba lebih baik, saham-saham unggulan diprediksi tak lagi lanjutkan penurunan ke depan. Bahkan terbuka ruang pemulihan, apabila didukung katalis yang memadai,” tulis riset Danantara, dikutip Rabu (14/1/2026).
Baca Juga
Dalam kerangka tersebut, Danantara memosisikan diri sebagai motor untuk momentum berikutnya melalui Danantara Asset Management dan Danantara Investment Management. Danantara akan memfokuskan disiplin neraca keuangan, konsolidasi BUMN, serta keberlanjutan operasional guna memperbaiki kualitas laba dan fundamental emiten BUMN.
Danantara menilai bahwa tahun 2025 sebagai tahun reset untuk mengidentifikasi persoalan BUMN dan pemulihan. Sementara 2026 akan menjadi tahun pembuktian atas hasil restrukturisasi dan konsolidasi yang ditempuh.
Sejumlah aksi yang diterapkan Danantara tersebut mulai membuahkan hasil yang tercermin dari penguatan harga sejumlah saham BUMN, seperti PT Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS), PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA), PT Timah Tbk (TINS), dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM).
Baca Juga
TLKM Jadi Tolok Ukur Restrukturisasi BUMN, Saham Melonjak 30% dan Prospek Rerating Menguat
Selain reformasi BUMN, Danantara menyoroti potensi dorongan fiskal yang lebih pro-pertumbuhan pada 2026, didukung transmisi penuh pelonggaran moneter sepanjang 2025. Kebijakan pemerintah ditambah investasi dari Danantara berpeluang memperkuat permintaan sektor domestik.
Meski demikian, Danantara mengingatkan pemulihan saham fundamental masih membutuhkan waktu atau tak bisa berjalan cepat. Keterbatasan likuiditas pasar, dominasi investor asing pada saham-saham likuid, serta kebutuhan konsistensi kebijakan tetap menjadi faktor penting.
Dengan kombinasi agenda restrukturisasi BUMN, efektivitas kebijakan fiskal dan moneter, serta peran Danantara sebagai katalis investasi dan tata kelola, re-rating saham-saham fundamental bagus Indonesia pada 2026 semakin terbuka setelah turun dalam dua tahun terakhir.

