MTEL dan INTP: Kisah Dua Saham Jawara yang Tersisih dari Konstituen LQ45
JAKARTA, investortrust.id – Kabar mengejutkan datang dari Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) yang dikenal stabil di pasar resmi dikeluarkan dari daftar indeks LQ45.
INTP adalah pabrik semen terafiliasi dengan grup Salim, sedangkan MTEL merupakan anak usaha Grup Telkom yang pemain di bisnis digital infraco dengan jumlah kepemilikan menara telekomunikasi terbesar di Asia Tenggara.
INTP dan MTEL tercatat sebagai dua emiten dengan pertumbuhan bisnis yang stabil dan rutin membagikan dividen. Keduanya juga tercatat sebagai pemain utama di industrinya masing masing.
Baca Juga
Indocement (INTP) Kalahkan Pertumbuhan Industri, Sahamnya Menarik!
Bersamaan dengan saham PT Bukalapak Tbk (BUKA), INTP dan MTEL digantikan oleh saham-saham baru seperti PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Japfa Comfeed Tbk (JPFA), dan PT Map Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA).
Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id, Hendra Wardana menilai bahwa keputusan ini memicu tanda tanya besar di kalangan pelaku pasar terkait dua emiten yang masih mencatatkan kinerja solid justru terlempar dari indeks yang bergengsi.
Daftar Saham LQ45
Menurut Hendra INTP sebagai salah satu pemain utama di industri semen, mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang stabil hingga kuartal III-2024, mencapai Rp 18,34 triliun. Namun, tekanan dari kenaikan biaya operasional membatasi laba usaha, yang turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Meski demikian, fondasi bisnis INTP tetap kokoh, terutama di tengah potensi proyek infrastruktur besar yang direncanakan pemerintah," kata Hendra saat dihubungi investortrust.id di Jakarta, kemarin.
Baca Juga
Akuisisi Fiber Optik, Saham Mitratel (MTEL) Jadi Pilihan Teratas
Begitu juga dengan MTEL yang merupakan anak usaha Telkom berfokus pada infrastruktur telekomunikasi juga masih mencatat pertumbuhan pendapatan tahunan stabil sebesar Rp 2,11 triliun hingga kuartal III-2024. MTEL juga terus memperlihatkan ekspansi yang stabil di tengah gencarnya transformasi digital di Indonesia.
Namun, Hendra menegaskan, indeks LQ45 bukan hanya soal fundamental, indeks ini juga menilai likuiditas saham, frekuensi perdagangan, hingga kapitalisasi pasar. "Dengan dinamika pasar yang cepat berubah, ada kalanya saham dengan fundamental baik sekalipun kalah bersaing dalam hal likuiditas. MTEL dan INTP tampaknya menjadi korban dari perhitungan ini," tutur Hendra.
Peluang Investor
Meski begitu, jelas Hendra, keluar dari indeks LQ45 bukanlah akhir cerita. Banyak saham yang kembali bangkit setelah tersisih. Bahkan, bagi sebagian investor, ini adalah peluang untuk mengakumulasi saham undervalued dengan potensi besar.
"MTEL dengan pertumbuhan kebutuhan infrastruktur telekomunikasi, dan INTP, yang masih menjadi tulang punggung sektor semen nasional, tetap memiliki prospek cerah jika dilihat dari fundamental jangka panjang. Kisah INTP dan MTEL ini mengajarkan satu hal penting bagi investor tentang perubahan indeks adalah bagian dari dinamika pasar," ucap dia.
Baca Juga
Mitratel (MTEL) Ungkap Akuisisi Fiber Optik UMT akan Langsung Berkontribusi terhadap Pendapatan
Sementara itu, Pengamat Pasar Modal Panin Sekuritas, Reydi, berpandangan rebalancing indeks dilakukan secara berkala untuk mempertahankan kinerja dan kualitas dari indeks, namun untuk saham yang dikeluarkan dari LQ45 belum tentu mengalami kinerja yang buruk.
Untuk LQ45 sendiri, Reydi menilai ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi oleh emiten, salah satu kriteria tersebut contohnya adalah memiliki nilai transaksi harian rata-rata tertinggi dalam pasar regular.
"Jadi, mungkin saja saat rebalancing indeks, akan selalu ada posisi tiga kandidat terbawah untuk bisa di gantikan dengan tiga kandidat baru yang memiliki nilai transaksi harian rata-rata lebih besar, ini tentu apabila konteksnya sedang membicarakan nilai transaksi perdagangan harian di pasar regular," kata Reydi kepada investortrust.id Kamis (23/1/2025).
Ia mencermati apabila emiten-emiten yang dikeluarkan dari indeks LQ45 ada potensi harga sahamnya mengalami penurunan, karena hal ini berpengaruh terhadap keputusan manajer investasi dalam mengelola reksadana kelolaannya, apalagi kalau portfolio nya mengacu pada pergerakan harga indeks LQ45. Maka mereka tentunya akan memberikan tekanan jual cukup besar karena mereka akan membuang saham-saham tersebut lalu membali saham-saham yang masuk LQ45.
Baca Juga
Erick Thohir: RUU BUMN Perkuat Visi Pertumbuhan Ekonomi 8% Prabowo
Di samping itu, secara analisis teknikal, Analis Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta merekomendasikan accumulative buy INTP dengan target harga Rp 7.950 per saham, accumulative buy MTEL dengan target harga Rp 850 per saham.
Sementara saham BUKA accumulative buy dengan target harga Rp 163 per saham, Saham CTRA accumulative buy dengan target harga 1.070, sedangkan saham JPFA accumulative buy dengan target harga Rp 2.370 dan saham MAPA accumulative buy dengan target harga Rp 1.175.
Grafik Saham MTEL dan INTP

