Bagikan

Rebalancing MSCI Februari 2026, BUMI dan PTRO Dinilai Berpeluang Masuk Indeks

JAKARTA, investortrust.id Rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Februari 2026 menjadi perhatian utama pelaku pasar, seiring pembaruan metode penghitungan free float oleh MSCI yang lebih rinci dan mengacu pada data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Founder Stocknow dan Republik Investor Hendra Wardana menilai kebijakan baru tersebut membuka peluang lebih besar bagi saham-saham yang sebelumnya kurang tersorot untuk masuk indeks MSCI. Dari sejumlah saham yang berada dalam pantauan, peluang terbesar dinilai mengarah kepada PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Petrosea Tbk (PTRO).

Baca Juga

Bos Toyota: Industri Otomotif Perlu Stimulus Jangka Panjang, Bukan Insentif Sesaat

“BUMI memiliki keunggulan dari sisi kapitalisasi pasar yang besar, likuiditas yang sangat tinggi, serta free float yang kini lebih representatif dengan metode baru MSCI. Selain itu, BUMI sudah berada di MSCI Small Cap sehingga peluang naik kelas menjadi lebih realistis,” ujar Hendra kepada investortrust.id, Kamis (8/1/2026).

Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana

PTRO juga dipandang menarik dengan free float yang meningkat ke kisaran 30%, ditopang kinerja operasional kuat dan posisi sebagai kontraktor tambang besar yang mendapat manfaat langsung dari aktivitas pertambangan nasional.

Selain BUMI dan PTRO, emiten seperti PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dan PT Timah Tbk (TINS) masih memiliki peluang meski berada di lapis kedua karena faktor kapitalisasi dan volatilitas harga. Sementara PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) dinilai lebih bersifat spekulatif, namun menarik karena perbaikan fundamental dan likuiditas.

Baca Juga

BEI Surati MSCI, Minta Penjelasan Soal Perhitungan Free Float Saham Indonesia

Apabila saham-saham tersebut masuk ke dalam indeks MSCI, dampaknya terhadap IHSG dinilai cukup signifikan. Masuknya saham ke MSCI biasanya diikuti arus dana asing pasif dari fund global yang menjadikan MSCI sebagai acuan, sehingga dapat memperkuat sentimen, meningkatkan likuiditas, dan menopang IHSG terutama jika yang masuk adalah saham berkapitalisasi besar seperti BUMI dan PTRO.

“Dalam konteks pasar saat ini, sentimen MSCI juga berpotensi menjadi penyeimbang di tengah ketidakpastian global, sehingga menjaga IHSG tetap bergerak dalam tren positif,” kata Hendra.

Dari sisi strategi investor, Hendra mengingatkan agar tetap selektif. Secara historis, saham yang dirumorkan masuk MSCI cenderung menguat sebelum pengumuman resmi dan berisiko mengalami koreksi akibat profit taking setelah keputusan final.

Baca Juga

Lepas Saham Harita Nickle (NCKL), Investor Ini Raup Dana Rp 276,92 Miliar

Bagi investor agresif, momentum sebelum pengumuman dapat dimanfaatkan secara spekulatif dengan disiplin manajemen risiko. Sementara bagi investor menengah-panjang disarankan fokus pada saham dengan fundamental, likuiditas, dan visibilitas bisnis yang jelas.

Sejalan dengan itu, Hendra merekomendasikan BUMI speculative buy dengan target Rp 500, BRMS buy on weakness di Rp 1.180 dengan target Rp 1.300, DEWA speculative buy dengan target Rp 950, dan TINS buy on weakness di Rp 3.340 dengan target Rp 3.500.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024