Bagikan

Bos Toyota: Industri Otomotif Perlu Stimulus Jangka Panjang, Bukan Insentif Sesaat

Poin Penting

Stimulus jangka panjang dinilai lebih efektif dibanding insentif sesaat
Kelas menengah disebut punya multiplier effect bagi konsumsi
Vietnam turunkan pajak dan Malaysia beri stimulus pembeli mobil pertama

JAKARTA, investortrust.id – Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam menilai industri otomotif domestic masih membutuhkan stimulus jangka panjang untuk mendorong pemulihan ekonomi, bukan sekadar insentif sesaat.

Bob menjelaskan bahwa tantangan industri otomotif saat ini turut dipengaruhi tekanan ekonomi makro. Ruang fiskal pemerintah dinilai sempit, karena beban cicilan utang yang besar, penurunan penerimaan pajak hingga 30%, dan defisit yang mendekati 3%.

Baca Juga

Curi Perhatian di GJAW 2025, Toyota Veloz Hybrid Sudah Kantongi TKDN 65%

“Intinya, berharap disposal insentif itu tidak mungkin. Disposal insentif itu artinya dikasih insentif, dipakai, habis itu hilang. Yang kita butuhkan adalah insentif yang mempunyai daya ungkit ekonomi, sehingga berubah menjadi stimulus,” ujarnya dalam Media Workshop di Bandung, Jawa Barat, Jumat (9/1/2026).

Pameran mobil. Foto: Istimewa

Selain itu, Bob menekankan perlunya insentif bagi masyarakat kelas menengah untuk meningkatkan daya beli. Menurutnya konsumsi kelas menengah dapat menghasilkan multiplier effect bagi ekonomi, berbeda dengan bantuan sesaat yang lebih banyak menyasar kelompok bawah.

“Sebagai contoh, memberikan insentif untuk kelas menengah tidak populer. Yang populer memberi insentif untuk kelas bawah seperti bansos. Tapi itu disposal consumption yang sekali pakai. Nah kita butuh multiplier effect consumption yang biasanya ada di kelas menengah,” kata Bob.

Baca Juga

Pengamat Ungkap Alasan Mobil 'Hybrid' Berpotensi Geser EV Impor di 2026

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo itu juga mencontohkan kebijakan sejumlah negara. Vietnam tercatat menurunkan pajak, sementara Malaysia memberikan stimulus kepada masyarakat yang membeli mobil pertama sebagai upaya menjaga pasar domestik.

“Begitu juga Malaysia memberikan stimulus untuk pembeli kendaraan pertama. Jadi kalau pembeli pertama itu wajar dikasih stimulus karena dia stage of life. Jadi, dia punya kendaraan itu tidak dianggap barang mewah,” jelas Bob.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024