Ekonomi Indonesia Dinilai Relatif Aman dari Gejolak Venezuela
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai gejolak politik di Venezuela tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia.
Pasalnya hubungan dagang antara Indonesia dan Venezuela tidak terlalu besar secara nilai. Ia membeberkan, ekspor Indonesia ke Venezuela dalam 10 bulan pertama tahun 2025 hanya berjumlah sebesar US$68 juta atau kurang dari 0,1% total ekspor Indonesia.
"Sementara itu, impor Indonesia dari Venezuela hampir seluruhnya berupa produk kakao, dengan total impor sekitar US$14 juta selama 10 bulan pertama tahun 2025," kata Andry dalam laporan tertulis yang diterima Investortrust, Senin (5/1/2026).
Baca Juga
DPR Minta Pemerintah Indonesia Belajar dari Venezuela: Perkuat Kepercayaan Publik
Ia menambahkan, penanaman modal asing (PMA) di Indonesia yang datang dari Venezuela juga relatif lebih kecil dibandingkan negara-negara lain di benua Amerika. Investasi yang berasal dari Venezuela tercatat sebesar US$0,6 juta atau setara 0,02% dari total PMA negara-negara benua Amerika.
Risiko Perkembangan Harga Minyak Global
Menurut Andry, risiko utama dari yang perlu diperhatikan oleh pemerintah Indonesia adalah pada perkembangan harga minyak global. Karena Indonesia merupakan importir minyak mentah, kata dia, tekanan pada harga minyak menimbulkan risiko kenaikan inflasi dan risiko penurunan surplus perdagangan.
Ia melanjutkan, risiko kenaikan inflasi dan penurunan surplus perdagangan ini, yang suatu waktu dapat meningkatkan tekanan pada mata uang.
"Dampak fiskal kemungkinan akan negatif secara keseluruhan, karena pengeluaran subsidi dan kompensasi energi yang lebih tinggi akan melebihi keuntungan dari pendapatan pajak," ungkapnya.
Baca Juga
Venezuela Sebut 80 Orang Tewas Akibat Agresi AS di Caracas, Ada 32 Orang Pasukan Kuba
Andry membeberkan, kenaikan harga minyak sebesar US$1 dapat meningkatkan pengeluaran subsidi dan kompensasi sebesar Rp10,3 triliun.
Sementara itu, ia mengatakan APBN Tahun 2026 mengasumsikan harga minyak sebesar US$70 per barel, sedangkan harga minyak Brent saat ini berada di sekitar US$61 per barel. Jika harga minyak naik dan tetap konsisten di atas asumsi anggaran, kata dia, pemerintah perlu menyesuaikan harga bahan bakar bersubsidi.
"Berdasarkan perkiraan kami, kenaikan harga Pertalite sebesar 10% akan meningkatkan inflasi sekitar 0,27 poin persentase, sementara kenaikan harga diesel (Solar) sebesar 10% dapat menambah inflasi sekitar 0,05 poin persentase," terang Andry.
Dilansir Reuters, Minggu (4/1/2026), serangan AS dan penangkapan Presiden Penezuela Nicolas Maduro merupakan puncak dari tekanan selama berbulan-bulan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump terhadap Venezuela yang menuai kecaman dari beberapa pemimpin internasional.
Maduro dan istrinya ditangkap pada Sabtu (3/1) dini hari. Penangkapan diawali dengan serangan oleh pasukan AS. AS menyebut Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah. Setelah itu, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dibawa ke AS.
Trump telah mendesak Maduro untuk menyerahkan kekuasaan dan menuduhnya mendukung kartel narkoba. Trump menuduh Maduro dan kartel narkoba bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS yang terkait dengan penggunaan narkoba ilegal.

