Capai Rp 1.306,5 Triliun, BRI (BBRI) Jaga Tren Pertumbuhan Kredit di Tengah Tantangan Provisi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI mencatatkan laba bersih bank only sebesar Rp 4,4 triliun pada November 2025. Pencapaian itu naik 3% secara year on year (YoY), namun turun tipis 1% secara month on month (MoM). Hasil ini membuat laba bersih bank only selama 11 bulan di 2025 mencapai Rp 45,4 triliun atau melemah 9% YoY atau setara 81% estimasi prediksi di 2025.
Kinerja dalam dua bulan terakhir (Oktober–November 2025) menunjukkan perbaikan dari sisi Net Interest Income (NII) seiring penurunan beban pendanaan, tetapi terkompensasi opex yang kembali meningkat dan beban provisi yang masih tinggi.
Baca Juga
Dony Oskaria: Rebranding BRI Harus Diikuti Transformasi Fundamental
Sementara itu, pertumbuhan NII sudah kembali ke teritori positif dengan naik 3% YoY hingga November 2025, dibandingkan September 2025 yang masih turun tipis -1% YoY. Perbaikan ini utamanya didorong oleh biaya pendanaan yang turun akibat likuiditas yang meningkat. Time deposit dikurangi, sehingga mencatatkan pertumbuhan negatif 6% YoY per November 2025, dibandingkan 7% YoY per Agustus 2025 saat sebelum pemerintah melakukan injeksi likuiditas. Pengurangan dana mahal ini mendorong beban bunga (interest expense) turun -13% YoY selama 2 bulan terakhir.
Pertumbuhan kredit sendiri meningkat ke level 7% YoY per November 2025. Penyaluran kredit BRI hingga November 2025 diketahui tercatat sebesar 7,16% yoy menyentuh Rp 1.306,53 triliun. Pertumbuhan kredit ini dalam tren menguat dan masuk ke rentang target manajemen 7-9% untuk pertama kalinya dalam tahun ini.
Baca Juga
BRI 130 Tahun: Dari Bank Rakyat Menjadi Bank Universal Indonesia
Beban provisi pada November 2025 mencapai Rp 4,3 triliun (+10% YoY, +37% MoM). Beban provisi selama dua bulan terakhir lebih rendah jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Oktober–November 2024), tetapi secara rasio Cost of Credit (CoC) levelnya masih tertolong tinggi. Secara rata–rata, CoC dalam 2 bulan terakhir berada di level 3,5%, dibandingkan 3,3% selama 9M25. Masih tingginya level provisioning ini sejalan proyeksi manajemen BBRI bahwa posisi CoC secara konsolidasi pada akhir 2025 akan berada sedikit di atas rentang guidance 2025 di kisaran 3,2–3,3%. Sementara itu, opex kembali meningkat dengan tumbuh +7% YoY selama November 2025, dibandingkan kenaikan +1% YoY selama 9M25.
Mengutip Stockbit, Jumat (26/12/2025) dari aspek likuiditas dan biaya pendanaan, kinerja BBRI di atas relatif sejalan dengan yang terlihat pada anggota himpunan bank milik negara (Himbara) lainnya, seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI). Namun, perbedaan fokus/portofolio kredit di mana BBRI lebih berfokus pada segmen UMKM, sementara BMRI dan BBNI lebih condong ke segmen korporasi berpotensi menjelaskan perbedaan tren beban provisi antara BBRI versus BMRI dan BBNI belakangan ini, mengingat belum meratanya kondisi antar segmen.

