Dony Oskaria: Rebranding BRI Harus Diikuti Transformasi Fundamental
Poin Penting
| ● | Rebranding BRI harus disertai transformasi fundamental, bukan sekadar perubahan logo atau visual, melainkan pembenahan tata kelola, manajemen risiko, permodalan, efisiensi, dan kinerja keuangan. |
| ● | Perubahan menjadi keharusan agar BRI tetap relevan dan kompetitif, seiring meningkatnya ekspektasi nasabah, kemajuan teknologi, dan persaingan yang makin ketat. |
| ● | Transformasi sejati menuntut perubahan mindset dan perilaku seluruh insan BRI, diwujudkan melalui layanan nyata yang inklusif, modern, dan benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. |
Oleh Primus Dorimulu
JAKARTA, Investortrust.id -- Wakil Menteri BUMN Dony Oskaria menegaskan bahwa rebranding yang dilakukan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk bukanlah sekadar perubahan visual atau penyegaran logo, melainkan harus dimaknai sebagai bagian dari transformasi mendasar dan berkelanjutan dalam cara perusahaan dikelola, dilihat, dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Dalam sambutannya pada acara peluncuran “Corporate Rebranding BRI”, Dony menyampaikan bahwa perubahan adalah keniscayaan bagi setiap perusahaan. Tidak ada entitas bisnis—termasuk BUMN—yang bisa bertahan tanpa kemampuan untuk terus berevolusi dan bertransformasi mengikuti tuntutan zaman, perubahan ekspektasi pelanggan, serta dinamika kompetisi yang semakin ketat. “Setiap perusahaan itu mengalami evolve, dia bertransformasi. Perubahan itu adalah suatu keharusan,” ujar Dony.
Ia menjelaskan, dorongan perubahan datang terutama dari pelanggan yang kini semakin kritis dan memiliki ekspektasi lebih tinggi. Perkembangan teknologi dan keterbukaan akses informasi membuat tidak ada lagi kesenjangan pengetahuan antarnegara maupun antarpelaku usaha. Dalam kondisi tersebut, perusahaan yang gagal beradaptasi berisiko tertinggal dan kehilangan relevansi. “Kalau satu perusahaan tidak melakukan perubahan, dia pasti akan mengalami kemunduran atau tertinggal. Tidak mampu lagi menghadapi kompetisi,” tegasnya.
Dony juga menyoroti perjalanan transformasi dunia usaha yang telah melewati berbagai fase, mulai dari era internet bubble, digitalisasi, hingga model startup. Namun menurutnya, saat ini dunia bisnis justru kembali ke fase yang paling esensial, yakni penguatan fundamental perusahaan. “Kita kembali lagi ke zamannya fundamental. Kita bicara lagi soal corporate governance, risk management, capital ratio, cost factor, dan net income,” ujarnya.
Dalam konteks inilah, rebranding BRI harus ditempatkan secara tepat. Dony menekankan bahwa branding bukan sekadar soal logo, warna, atau desain visual, melainkan tentang bagaimana sebuah perusahaan mendefinisikan dirinya dan ingin dipersepsikan oleh nasabah. “Branding itu adalah how we want to be perceived by our customer. Kalau perusahaan tidak mampu mendefinisikan itu, dia akan lari ke segala arah yang berantakan,” katanya.
Ia menyambut pernyataan manajemen BRI yang ingin memposisikan diri sebagai bank modern, inklusif, dan mampu melayani seluruh rakyat Indonesia, dari pelosok desa hingga perkotaan, dari segmen mikro hingga korporasi. Namun Dony mengingatkan bahwa perubahan persepsi tersebut hanya akan bermakna jika diwujudkan dalam layanan nyata yang menjawab kebutuhan masyarakat. “Kalau hari ini orang ingin transaksi digital 24 jam, ya itu yang harus dilakukan. Kalau orang berharap ada BRILink di seluruh Indonesia, ya itu yang harus dipenuhi,” ujarnya.
Baca Juga
BRI 130 Tahun: Dari Bank Rakyat Menjadi Bank Universal Indonesia
Lebih jauh, Dony secara tegas mengingatkan agar transformasi BRI tidak bersifat artifisial. Ia menolak perubahan yang hanya berhenti pada pencitraan atau gimmick branding tanpa penguatan substansi. “Kita tidak mau lagi era dipoles-poles, branding gimmick. Kita mau masuk ke era yang fundamental, sesuatu yang real,” tegasnya.
Menurutnya, transformasi sejati harus menyentuh mindset dan perilaku seluruh insan perusahaan, mulai dari manajemen puncak hingga karyawan di lapangan. Perubahan juga harus tercermin dalam cara perusahaan mengelola sumber daya manusia, membangun lingkungan kerja, serta menyatukan seluruh elemen organisasi dalam satu tujuan bersama. “Bukan hanya logo yang berubah, tapi perubahan mindset, perubahan behavior, perubahan cara kita mengelola perusahaan,” kata Dony.
Ia menegaskan bahwa tidak boleh ada sekat antara manajemen dan pekerja. Semua harus bergerak sebagai satu keluarga besar dengan tujuan yang sama, yakni membawa BRI menjadi perusahaan yang lebih kuat dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat Indonesia. “Tujuannya satu, tidak ada perbedaan. Tujuannya ingin membawa perusahaan ini menjadi lebih baik dan memberikan manfaat yang banyak bagi rakyat Indonesia,” ujarnya.
Dony menilai momentum rebranding ini sejalan dengan proses transformasi yang juga tengah berlangsung di tingkat nasional, termasuk dalam pengelolaan ekonomi dan tata kelola negara. Karena itu, BRI —bersama holding BUMN lainnya— harus berada di garis depan perubahan yang bersifat fundamental dan berkelanjutan.
Menutup sambutannya, Dony menyampaikan keyakinan bahwa transformasi yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan membawa BRI menjadi bank yang semakin relevan, kuat secara fundamental, dan benar-benar menjadi solusi keuangan bagi seluruh rakyat Indonesia. “Insya Allah perubahan ini akan membawa Bank Rakyat Indonesia menjadi bank yang terbaik bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya.
Baca Juga

