BRI 130 Tahun: Dari Bank Rakyat Menjadi Bank Universal Indonesia
Poin Penting
| ● | BRI bertransformasi menjadi bank universal tanpa meninggalkan fokus utama pada perbankan mikro dan UMKM, guna menjembatani ekonomi desa dan kota dalam satu ekosistem terintegrasi. |
| ● | Rebranding BRI bersifat strategis dan menyeluruh, mencakup penguatan identitas, digitalisasi, konsistensi sub-brand, serta penyesuaian persepsi agar relevan bagi segmen urban dan generasi muda. |
| ● | UMKM tetap menjadi tulang punggung bisnis BRI, dikembangkan melalui ekosistem pembiayaan, digitalisasi transaksi, dan integrasi rantai pasok yang mendukung pertumbuhan berkelanjutan bank. |
Oleh; Primus Dorimulu
JAKARTA-Investortrust.id— Di usia 130 tahun, tidak banyak bank di dunia yang mampu tetap relevan tanpa kehilangan jati diri. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk —yang lahir di Purwokerto pada akhir abad ke-19– adalah salah satunya. Dari sebuah lembaga keuangan kecil yang melayani rakyat jelata, BRI kini berdiri sebagai bank dengan jaringan terluas di Indonesia, menjangkau desa, kota, bahkan wilayah yang tak tersentuh bank lain.
Namun usia panjang bukan jaminan masa depan. Justru di titik inilah BRI memilih mengambil langkah besar: bertransformasi menjadi bank universal, tanpa meninggalkan akar terdalamnya, layanan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan ekonomi rakyat. “Fokus utama BRI tetap pada micro credit, pada perbankan mikro. Tapi, kita mengembangkan konsep BRI menjadi universal bank,” ujar Hery Gunardi, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk yang juga CEO BRI Group pada acara launching “BRI Corporate Rebranding” di Sky Lounge Menara Brilian, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (16/12/2025). Hadir pada kesempatan itu, Dony Oskaria, COO Badan Pengelola Investasi Danantara, Preskom PT BRI Tbk Kartika Wirjoatmodjo, para komisaris, direksi, dan manajemen puncak BRI serta para pemimpin media massa.
Di bawah kepemimpinan CEO BRI Group Hery Gunardi, transformasi itu tidak dilakukan setengah hati. Rebranding, digitalisasi, pembenahan budaya, hingga redefinisi identitas menjadi satu rangkaian perjalanan strategis yang akan menentukan wajah BRI ke depan. “BRI tidak mungkin keluar dari fokus utamanya, yaitu perbankan mikro. Tetapi, kami mengembangkan BRI menjadi universal bank yang menyatukan ekonomi desa dan ekonomi kota dalam satu ekosistem,” kata Hery.
Rebranding BRI, demikian Hery, dirancang sebagai perubahan struktural, bukan kosmetik. Identitas baru BRI mengusung semangat universal namun personal. Mendukung siapa pun, di mana pun mereka berada tanpa kehilangan kedekatan khas bank rakyat. Memasuki usia 130 tahun, BRI akan fokus melakukan transformasi dan digital perbankan. “Kami ingin refresh (menyegarkan kembali) brand ini agar BRI hadir dengan identitas yang lebih jelas dan lebih kuat di mata nasabah,” tuturnya.
Warna “Nusantara Blue”, penyempurnaan logo, dan pembaruan arsitektur brand menjadi simbol dari arah baru itu. Seluruh sub-brand —BRImo, BRI Prioritas, BRI Private Banking, BRILink, tabungan junior, kartu debit dan kredit— ditata ulang agar lebih konsisten dan terstruktur.
Janji yang diusung sederhana, namun ambisius: “Satu Bank untuk Semua.” Artinya, BRI ingin hadir untuk seluruh spektrum ekonomi Indonesia —dari petani dan pedagang mikro hingga korporasi dan high net worth individual (HNWI)— dalam satu ekosistem yang dikelola secara terintegrasi.
Keputusan untuk melakukan rebranding didorong oleh alasan yang kuat. Berdasarkan survei dari Kantar, Kadence, dan Nielsen, BRI perlu melakukan corporate rebranding. Ada tujuh insight dari survei itu. Pertama, dipercaya dan mudah diakses, tapi terlalu tergantung pada citra kerakyatan. Kedua, muncul persepsi tua di kalangan segmen urban dan anak muda.
Ketiga, layanan digital yang diberikan ke publik belum dianggap aspiratif atau menarik. Keempat, koneksi emosional dengan brand masih lemah. Kelima, ekspektasi brand belum selaras dengan ekspektasi Gen Z. Keenam, terjadi ketidaksesuaian sistemik di berbagai sub-brand. Brand tidak konsisten dan terstruktur. Ketujuh, less considered di segmen urban. Barrier to entry ke segmen bisnis consumer, kecil-menengah, dan HNWI.
BRI adalah bank yang sangat dipercaya dan mudah diakses. Namun, kata Hery, riset dari Kantar, Kadence, dan Nielsen menunjukkan sebuah paradoks: BRI kuat di akar rumput, tetapi kurang dipertimbangkan di segmen urban dan generasi muda. Persepsi “bank tua”, layanan digital yang belum aspiratif, serta koneksi emosional yang lemah dengan Gen Z menjadi sinyal bahwa perubahan tidak bisa ditunda.
“Layanan digital belum dianggap aspiratif dan koneksi emosional dengan brand masih lemah. BRI masih less considered di segmen urban, consumer, small–medium, dan high net worth individual,” urai Hery.
Hery membaca pesan ini dengan jernih. Rebranding bukan sekadar mengganti logo atau warna, melainkan membangun ulang makna. “Strong brand akan menciptakan meaning dan trust di benak nasabah. Untuk itu, brand BRI harus relevan, berdiferensiasi, dan konsisten di seluruh touch point,” ujarnya.
Dorongan perubahan, kata Dony Oskaria, COO Badan Pengelola Investasi Danantara, terutama datang dari pelanggan yang kini semakin kritis dan memiliki ekspektasi lebih tinggi. Perkembangan teknologi dan keterbukaan akses informasi membuat tidak ada lagi kesenjangan pengetahuan antarnegara maupun antarpelaku usaha. Dalam kondisi tersebut, perusahaan yang gagal beradaptasi berisiko tertinggal dan kehilangan relevansi. “Kalau satu perusahaan tidak melakukan perubahan, dia pasti akan mengalami kemunduran atau tertinggal. Tidak mampu lagi menghadapi kompetisi,” tegasnya.
Dony juga menyoroti perjalanan transformasi dunia usaha yang telah melewati berbagai fase, mulai dari era internet bubble, digitalisasi, hingga model startup. Namun menurutnya, saat ini dunia bisnis justru kembali ke fase yang paling esensial, yakni penguatan fundamental perusahaan. “Kita kembali lagi ke zamannya fundamental. Kita bicara lagi soal corporate governance, risk management, capital ratio, cost factor, dan net income,” ujarnya.
Dalam konteks inilah, rebranding BRI harus ditempatkan secara tepat. Dony menekankan bahwa branding bukan sekadar soal logo, warna, atau desain visual, melainkan tentang bagaimana sebuah perusahaan mendefinisikan dirinya dan ingin dipersepsikan oleh nasabah. “Branding itu adalah how we want to be perceived by our customer. Kalau perusahaan tidak mampu mendefinisikan itu, dia akan lari ke segala arah yang berantakan,” kata Dony.
Perubahan yang diharapkan, lanjut Dony, bukan sekadar perubahan logo, melainkan transfomasi budaya kerja seluruh karyawan dan itu semua akan tercermin pada peningkatan kinerja perusahaan. “Tidak sekadar rebranding, tapi penerapan dengan benar lima poin yang disampaikan oleh CEO BRI. Itu baru transformasi sejati,” kata Dony.
Tetap Memperkuat Mikro
Meski menjadi bank universal, BRI tetap di posisinya sebagai bank UMKM terbesar di Indonesia dengan pendekatan yang kian komprehensif.Hery menjelaskan, strategi BRI terhadap UMKM tidak lagi bertumpu semata pada penyaluran kredit, melainkan pada pembangunan ekosistem UMKM yang berkelanjutan dari hulu ke hilir.
Hery menegaskan, UMKM tidak lagi diposisikan hanya sebagai debitur, tetapi sebagai bagian integral dari rantai pasok nasional yang terhubung dengan sektor korporasi, consumer banking, hingga ekonomi perkotaan. Pendekatan ini menjadi pembeda utama BRI dibandingkan perbankan lain. “Bisnis mikro dan small segment kita bangun ekosistemnya. Kita menyambungkan antara perusahaan besar yang punya supply chain dengan pelaku mikro dan UMKM di dalamnya,” ujar Hery.
Melalui strategi tersebut, UMKM tidak hanya memperoleh akses pembiayaan, tetapi juga akses pasar, transaksi, dan digitalisasi usaha. Dengan strategi ini pula, nasabah UMKM mampu naik kelas dan lebih tangguh menghadapi dinamika serta gejolak ekonomi.
Hery menjelaskan bahwa jutaan UMKM binaan BRI kini menjadi mesin utama transaksi ritel melalui berbagai kanal digital dan fisik, seperti BRImo, QRIS, agen BRILink, hingga EDC BRI. Aktivitas transaksi yang masif dari sektor UMKM ini menjadi sumber penting CASA (current account saving account) atau dana murah yang memperkuat struktur pendanaan perseroan. “Kalau mobile banking dipakai, merchant dipakai, QRIS dipakai, BRILink dipakai, kita dapat dua hal: dana murah dan fee-based income,” katanya.
Dengan demikian, UMKM tidak lagi dipandang sebagai sekadar penerima fasilitas perbankan, melainkan mitra strategis yang berkontribusi langsung terhadap profitabilitas dan keberlanjutan bisnis BRI dalam jangka panjang.
Jika saat ini kredit kepada usaha mikro mencapai 60% dari total kredit, demikian Hery, ke depan kredit ke segmen mikro dipertahankan, minimal 40% atau akan bergerak di kisaran 40%-60%. Untuk melayani seluruh segmen nasabah, BRI memperkuat kredit konsumer dan wholesale banking, termasuk kredit korporasi.
Kredit konsumer (consumer credit) adalah fasilitas pinjaman yang diberikan bank kepada individu untuk membiayai kebutuhan pribadi, bukan untuk usaha atau kegiatan produktif bisnis. Kredit konsumer, antara lain, mencakup kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor (KKB), dan kredit multiguna (personal loan).
Sedangkan wholesale banking adalah layanan bank untuk nasabah korporasi dan institusi. Wholesale melayani korporasi besar —swasta maupun BUMN—pemerintah, dan lembaga keuangan. Layanan wholesale, antara lain, pembiayaan korporasi (corporate loan, syndicated loan), cash management (pengelolaan arus kas perusahaan), trade finance (LC, SKBDN, bank garansi), foreign exchange (FX), dan treasury.
Dalam agenda transformasi digital, BRI menempatkan UMKM sebagai target utama inklusi keuangan digital. Melalui BRImo, QRIS, EDC, serta jaringan agen BRILink yang tersebar hingga pelosok desa, BRI mendorong pelaku usaha kecil—mulai dari warung tradisional hingga pedagang desa—masuk ke dalam sistem keuangan formal dan berbasis digital.
Digitalisasi tersebut membuka akses yang lebih luas bagi UMKM terhadap berbagai layanan keuangan, mulai dari pembiayaan lanjutan, pencatatan transaksi yang lebih rapi, layanan remittance, hingga produk turunan seperti asuransi mikro dan pembiayaan emas.
Dengan volume transaksi BRImo yang telah melonjak lebih dari dua kali lipat dalam beberapa waktu terakhir, BRI memandang digitalisasi UMKM bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan mesin pertumbuhan jangka panjang yang akan menopang ekspansi bisnis bank ke depan.
Hery juga menjelaskan peran strategis BRI sebagai delivery channel utama kebijakan pemerintah yang menyasar UMKM. Hampir seluruh program nasional, mulai dari Kredit Usaha Rakyat (KUR), subsidi pembiayaan, hingga program ketahanan pangan dan penguatan ekonomi desa, disalurkan melalui BRI. “BRI memang diharapkan menjadi tulang punggung UMKM Indonesia,” ujarnya.
Dengan porsi penyaluran KUR terbesar secara nasional serta jaringan terluas di Indonesia, BRI memegang peran krusial dalam menjaga daya hidup UMKM, terutama di masa pemulihan ekonomi dan transformasi menuju ekonomi digital.
Lebih jauh, Hery menegaskan bahwa keberpihakan BRI pada UMKM bukan semata kewajiban administratif sebagai bank milik negara, melainkan identitas bisnis yang justru menjadi keunggulan kompetitif perseroan. “BRI tidak melihat UMKM sebagai beban, tapi sebagai kekuatan. Dari sanalah skala ekonomi, transaksi, dan pertumbuhan jangka panjang dibangun,” kata Hery.
Dalam kerangka tersebut, rebranding dan transformasi BRI sebagai bank universal justru diarahkan untuk memperkuat peran UMKM, bukan menjauhinya. BRI ingin tumbuh besar bersama UMKM, menjembatani ekonomi desa dan kota, serta memastikan bahwa modernisasi perbankan berjalan seiring dengan penguatan ekonomi rakyat.
Lima Nilai, Satu Arah
Transformasi BRI tidak akan berjalan tanpa fondasi budaya yang kuat. Karena itu, lima nilai inti menjadi kompas bagi seluruh insan Brilian, sebutan bagi karyawan BRI. Kelima nilai itu adalah integritas, kolaboratif, customer centricity, growth mindset, dan trustworthiness.
Integritas ditempatkan sebagai nilai nomor satu. Di era digital dan transparansi, demikian Hery, tata kelola yang kuat menjadi prasyarat mutlak. Sementara growth mindset mendorong insan Brilian untuk terus berkembang, belajar, dan berinovasi.
“Harapannya, satu atau dua tahun ke depan, ketika orang bertemu insan BRI, sudah kelihatan pola berpikir dan bertindaknya. Itu orang BRI,” kata Hery. Budaya baru ini dibangun dengan pendekatan bottom-up. Bukan instruksi sepihak dari atas, melainkan nilai yang tumbuh dari bawah dan bertemu di tengah.
“Budaya tidak bisa ditransfer secara top-down. Budaya harus dibangun dari bawah, bottom-up, lalu bertemu di tengah,” ungkap bankir yang sukses melakukan rebranding PT Bank Syariah Indonesia. Integritas adalah faktor utama untuk memperkuat good corporate governance.
Jika budaya adalah jiwa transformasi, maka digitalisasi adalah mesinnya. BRI hari ini memiliki dua pilar digital utama: BRImo untuk ritel dan QLola untuk transaksi wholesale. Angkanya berbicara lantang. Volume transaksi harian BRImo melonjak dari sekitar Rp 14 triliun menjadi Rp31 triliun—lebih dari dua kali lipat dalam waktu singkat.
Peningkatan ini bukan hanya soal teknologi, tetapi perubahan perilaku nasabah. Mobile banking dipakai, QRIS digunakan, merchant EDC aktif, dan agen BRILink menjadi simpul transaksi di berbagai pelosok negeri.
BRI terus menyempurnakan teknologi, UI/UX, dan fitur digital. Versi baru BRImo tengah disiapkan, menunggu izin regulator, sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
Menyatukan Desa dan Kota
Di tengah ekspansi ke segmen urban, consumer, dan korporasi, BRI menetapkan satu garis merah yang tidak akan dilanggar: UMKM tetap menjadi jantung bisnis. BRI tidak mungkin keluar dari fokus utamanya. “Fokus utamanya tetap pada micro credit, pada perbankan mikro. Nasabah mikro saat ini di atas 60% dan ke depan akan kita jaga di kisaran 40%-60%,” jelas Hery.
BRI memang diharapkan menjadi tulang punggung UMKM di Indonesia. Porsi segmen mikro saat ini bahkan masih berada di atas 60%. BRI menjadi tulang punggung berbagai program pemerintah, dari bantuan sosial, subsidi perumahan, ketahanan pangan, hingga Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pada 2025, BRI menargetkan penyaluran KUR sekitar Rp 100 triliun dari total KUR bnasional lebih dari Rp 200 triliun,porsi terbesar dibanding bank lain.
Dengan jaringan sekitar 7.400 unit kerja yang tersebar hingga pelosok, bahkan di kapal, BRI memainkan peran yang tak tergantikan dalam ekosistem UMKM Indonesia. Konsep bank universal ala BRI bukanlah meninggalkan desa untuk mengejar kota. Justru sebaliknya: menyatukan desa dan kota dalam satu sistem keuangan nasional.
Inilah diferensiasi BRI. Ketika banyak bank membangun dari atas ke bawah, BRI membangun dari bawah ke atas, lalu menyatukannya dalam satu manajemen, satu ekosistem, satu brand. “Universal bank bukan berarti meninggalkan UMKM. Justru memperluas layanan dalam satu kesatuan. Menghubungkan ekonomi desa dan ekonomi kota,” tegas Hery.
Di usia 130 tahun, BRI memilih untuk tidak berpuas diri. Rebranding, transformasi budaya, dan digitalisasi adalah cara BRI menjawab masa depan. “Satu Bank untuk Semua” bukan sekadar slogan. Ia adalah pernyataan identitas. Jika suatu hari ada pertanyaan sederhana, “Mana bank seluruh rakyat Indonesia, jawabannya tak ragu lagu, ya BRI!” ujar Hery.
Buy and Hold
Preskom BRI Kartika Wirjoatmodjo menegaskan bahwa dinamika harga saham BRI tidak bisa dilepaskan dari proses transformasi fundamental yang sedang dijalankan perseroan. Menurutnya, arah transformasi BRI saat ini memang logis dan konsisten dengan perubahan lanskap industri perbankan, terutama melalui penguatan transformasi digital dan pengembangan ekosistem bisnis.
BRI tidak lagi semata-mata diposisikan sebagai bank mikro, melainkan sebagai bank dengan konsep ekosistem menyeluruh yang mencakup segmen korporasi, komersial, konsumer, dan mikro, dengan mikro tetap menjadi core business utama. Melalui pendekatan ekosistem dan supply chain, BRI berupaya menghubungkan perusahaan besar dengan pelaku UMKM agar pelaku mikro dapat masuk ke dalam rantai pasok yang lebih besar, berkelanjutan, dan produktif.
Dengan strategi ini, BRI diharapkan tetap dominan di pedesaan (rural) sekaligus mampu memenangi persaingan di wilayah perkotaan (urban). Kartika menyebut transformasi ini sebagai upaya menjadikan BRI “satu bank untuk semua”, baik di desa maupun di kota.
Lebih jauh, Kartika menjelaskan bahwa pengembangan ekosistem digital BRI tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan berbagai pemangku kepentingan, termasuk BUMDes, UMKM, serta program-program pemerintah dan swasta. Dengan UMKM yang terintegrasi dalam supply chain yang kuat, keberlanjutan usaha (sustainability) pelaku UMKM akan lebih terjamin.
Pendampingan UMKM tidak lagi bersifat parsial, tetapi masuk ke dalam satu pola besar ekosistem digital yang memungkinkan pelaku usaha kecil naik kelas dan bertahan dalam jangka panjang. Inilah yang menurut Kartika menjadi basis pertumbuhan BRI ke depan.
Transformasi Tidak Instan
Menjawab pertanyaan terkait harga saham BRI, Kartika secara terbuka mengakui bahwa transformasi tidak bisa menghasilkan hasil instan. Transformasi bukan hanya menyangkut perubahan bisnis, tetapi juga mencakup operasi, teknologi, sumber daya manusia, branding, dan yang paling krusial adalah budaya kerja.
Menurutnya, budaya kerja yang kuat akan berbanding lurus dengan kinerja perusahaan. Namun, membangun budaya membutuhkan waktu. Sepakat dengan Hery Gunardi, ia memperkirakan proses transformasi ini memerlukan setidaknya dua tahun agar hasilnya terlihat lebih optimal.
Karena itu, Kartika mengimbau investor untuk bersikap rasional dan berorientasi jangka panjang. Ia bahkan menyampaikan pesan langsung kepada investor agar tidak bersikap spekulatif, melainkan menjadi investor yang sabar, dengan strategi “buy on dip” atau “hold”, bukan jual-beli jangka pendek.
Kartika menekankan bahwa transformasi BRI baru berjalan sekitar tujuh bulan, sehingga wajar jika pasar belum sepenuhnya merefleksikan nilai intrinsik BRI. Namun ia optimistis, seiring berjalannya waktu, dampak transformasi akan semakin terlihat.
Ia menyampaikan keyakinannya bahwa tahun 2026–2027 akan menjadi fase di mana kinerja BRI membaik secara signifikan, dan pada saat itu BRI diharapkan sudah “take off” dengan laju pertumbuhan yang lebih kencang dan berkelanjutan. ***

