Begini Target Terbaru Saham BBCA, Potensi Cuan masih Besar
JAKARTA, investortrust.id – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) diprediksi lanjutkan pertumbuhan laba bersih sebesar 2% pada 2026. Pertumbuhan ini ditopang oleh ekspansi kredit dan penurunan biaya pencadangan, meski tekanan margin bunga bersih (NIM) masih berlanjut akibat imbal aset produktif (earning asset yield) cenderung melemah.
Meski pertumbuhan laba cenderung melambat tahun 2026, BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA dengan target harga direvisi turun dari Rp 11.200 menjadi Rp 10.800. Valuasi ini dihitung menggunakan GGM dengan cost of equity rata-rata 6.8% dan proyeksi ROE tahun depan sebanyak 19.8%, menghasilkan fair value PBV 4.4x.
Baca Juga
BCA UMKM Fest 2025 Sukses Digelar, Nilai Penjualan Total Naik 19% Jadi Rp 20,3 Miliar
BRI Danareksa Sekuritas menempatkan saham BBCA sebagai pilihan utama untuk saham sektor keuangan berkat kekuatan dana murah dan kualitas aset yang lebih defensif. Risiko yang perlu dicermati mencakup potensi pelemahan kualitas aset dan yield kredit yang lebih rendah dari ekspektasi.
Analis BRI Danareks Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Victor Stefano mengatakan, NIM BBCA diperkirakan turun 27 bps pada 2026 akibat penyusutan earning asset yield hingga 34 bps, sejalan dengan tren penurunan suku bunga acuan dan ketatnya persaingan kredit di segmen wholesale. Meski demikian, beban dana (cost of fund/CoF) diperkirakan membaik 9 bps yang diharapkan membantu untuk menahan tekanan margin.
Hal ini diprediksi menjadikan laba bersih perseroan tahun depan mencapai Rp57,6 triliun atau tumbuh 2% yoy. Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan kredit sebanyak 7,9%, dibandingkan estimasi tahun 2025 mencapai 6,4%. Loan to Deposit Ratio (LDR) juga diperkirakan naik ke 85%, menopang pertumbuhan pendapatan bunga bersih (NII) yang relatif stabil di tengah penurunan NIM.
Baca Juga
Begini Rekomendasi dan Target Saham BBCA Usai Umumkan Dividen Interim Rp 55 per Saham
Cost of credit (CoC) BBCA turut diperkirakan turun menjadi 0,40% pada 2026, dibandingkan 0,45% di tahun 2025, yaitu mencerminkan kualitas aset yang lebih baik di segmen konsumer serta berkurangnya kebutuhan write-off di segmen korporasi dan komersial.
Di tengah lemahnya permintaan kredit konsumer, khususnya kredit kendaraan bermotor, BBCA fokus mendorong pertumbuhan dari segmen korporasi blue-chip demi menjaga kualitas aset. Indeks transaksi bisnis menunjukkan tren peningkatan sejak kuartal ketiga 2025, sementara indeks belanja konsumen masih berfluktuasi.
Sejumlah analisa tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas memangkas estimasi laba BBCA tahun 2025 dan 2026 masing-masing sebesar 3% dan 6%. Revisi ini mencerminkan asumsi NIM yang lebih rendah serta kenaikan tipis CoC. Dampaknya, estimasi imbal hasil ekuitas (ROE) dipangkas menjadi 20.7% untuk 2025 dan 19.8% untuk 2026.

