Harga Sahamnya Melejit 203% dan Diborong Investor Asing, Saham BUMI makin Dekat Masuk MSCI?
JAKARTA, investortrust.id – Potensi masuknya saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dalam daftar Morgan Stanley Capital International (MSCI) Indonesia Index pada Februari 2026 menjadi sorotan pasar. Ekspektasi tersebut menguat, seiring lonjakan harga dan likuiditas saham BUMI dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham BUMI naik 64 poin atau 23,53% ke level Rp 336 pada perdagangan Rabu (10/12/2025). Sedangkan kenaikan harga dalam tiga bulan terakhir telah terjadi lompatan lebih dari 203,64% yang berdampak terhadap.
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai narasi masuknya BUMI ke MSCI bukan lagi sekadar rumor, tetapi telah bertumpu pada perhitungan kapitalisasi pasar berbasis free float, metrik utama penilaian MSCI.
Baca Juga
WSBP Tuntaskan Konversi Utang Rp 3,2 Triliun, Restrukturisasi Melesat & Siapkan Babak Baru Pemulihan
“Dengan struktur kepemilikan publik yang membaik serta likuiditas yang meningkat, pasar mulai mengantisipasi kemungkinan BUMI naik kelas ke panggung global,” ujar Hendra saat dihubungi investortrust.id di Jakarta, Rabu (10/12/2025).
Berdasarkan data, saham BUMI juga didukung free float besar mencapai 28,28%, ambang harga kelayakan BUMI untuk masuk MSCI diperkirakan berada di sekitar Rp 305 per saham. Namun jika menggunakan free float teranyar versi IDX/KSEI sebesar 33,818%, angka tersebut turun ke sekitar Rp 275 per saham.
“Secara ekonomi pasar, skenario MSCI menjadi semakin realistis, karena harga kelayakan kini tidak jauh dari level perdagangan saat ini,” tambah Hendra.
Hendra juga mencermati derasnya arus dana asing. Investor asing tercatat membukukan net buy sekitar Rp 520 miliar dengan volume transaksi mencapai 1,8 miliar saham.
“Lonjakan likuiditas dan aliran dana asing menunjukkan bahwa BUMI mulai diposisikan bukan hanya sebagai saham trading, tetapi sebagai kandidat investasi struktural yang tengah diuji kelayakannya oleh pasar global,” tuturnya.
Baca Juga
Rebound IHSG Berlanjut di Sesi II, Saham MORA hingga BRPT masih Jadi Penopang
Meski demikian, Hendra menegaskan bahwa proses masuk MSCI menuntut konsistensi harga, kapitalisasi pasar, dan likuiditas. Volatilitas jangka pendek tetap mungkin terjadi setelah lonjakan berbasis ekspektasi.
Namun jika BUMI mampu bertahan di atas ambang harga kelayakan hingga periode evaluasi MSCI, peluang konfirmasi semakin besar. “Dalam skenario itu, bukan tidak mungkin BUMI kembali diperdagangkan di kisaran Rp 500,” ungkapnya.
Secara historis, level tersebut bukan area baru bagi BUMI. Jika benar masuk MSCI, aliran dana pasif dari ETF dan reksa dana indeks global berpotensi menciptakan permintaan struktural yang menopang harga saham dalam jangka panjang. “Dana pasif biasanya masuk bertahap namun konsisten, sehingga dapat menjaga harga di level yang lebih tinggi,” tutup Hendra.

