Pasar Keuangan Diproyeksi Menguat pada 2026, Yield SBN Turun Moderat
JAKARTA, investortrust.id – Prospek pasar keuangan pada 2026 memasuki fase yang lebih positif. Proyeksi ini didukung pelemahan bertahap indeks Dolar AS dan imbal hasil US Treasury, seiring peluang pelonggaran moneter lanjutan oleh The Federal Reserve (The Fed).
Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menyebutkan bahwa imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) berdenominasi rupiah juga diperkirakan turun moderat pada 2026. Penurunan tersebut menjadi efek dari ekspektasi turunnya suku bunga kebijakan The Fed dan Bank Indonesia (BI).
Baca Juga
KB Bank Gelar Economic Outlook 2026, Prospek Ekonomi Indonesia Diperkirakan Tetap Kuat
Dalam laporan Permata Institute for Economic Research (PIER) bertajuk Reviving Domestic Growth, Navigating Global Shocks, Josua menjelaskan Rupiah berpotensi menguat secara bertahap. Penguatan ini ditopang prospek aliran modal investasi dan portofolio asing. Rupiah diproyeksi berada di kisaran Rp 16.200–16.400 per dolar AS, sedikit lebih kuat dibanding estimasi akhir 2025.
PIER memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional 2025 berada di level 5–5,1% dan meningkat pada 2026 ke kisaran 5,1–5,2%. Sementara inflasi diperkirakan naik moderat, namun tetap terkendali di bawah 3%, sehingga memberi ruang bagi BI untuk mempertahankan kebijakan moneter yang akomodatif.
Josua menyebut inflasi berpotensi naik ke kisaran 2–2,5% pada akhir 2025 dari 1,57% pada 2024, dan bertahan pada rentang yang sama sepanjang 2026.
Baca Juga
IHSG Berpeluang Tembus 9.000, Mandiri Sekuritas: Hanya Soal Waktu
Di sisi eksternal, kinerja perdagangan diproyeksi tetap mencatatkan surplus pada 2025 meski cenderung menyempit. Transaksi berjalan juga diperkirakan tetap berada dalam zona aman, membuka peluang pelonggaran moneter lanjutan hingga 2026.
Fundamental ekonomi yang kuat serta stabilitas politik yang lebih baik diyakini menjaga prospek investasi asing tetap solid. Cadangan devisa diproyeksikan meningkat, sementara aliran dana portofolio diperkirakan pulih dalam jangka menengah seiring meredanya tekanan global.

