PGAS Diproyeksi Tumbuh Moderat 2025, Buyback Asing Meningkat dan Strategi FSRU Jadi Andalan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) diprediksi mencatat pertumbuhan kinerja keuangan yang moderat pada 2025. Konsensus Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai bahwa EBITDA PGAS berpotensi naik 0,7% (yoy) menjadi US$ 932,6 juta ditopang kenaikan permintaan gas dan utilisasi pipa.
Sebaliknya laba bersih PGAS diproyeksikan turun 4,8% (yoy) menjadi US$ 323 juta, seiring tantangan ketidakpastian regulasi dan potensi penundaan ekspansi infrastruktur. Didukung prediksi tersebut, analis Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Farhan dan Wilbert Arifin menilai bahwa saham PGAS masih menarik meski menghadapi risiko jangka pendek. “PGAS tetap memiliki posisi yang baik untuk meraih keuntungan dari transisi energi Indonesia,” tulis riset pada Selasa (2/9/2025).
Baca Juga
Arief Kurnia Nakhodai PGN (PGAS), Tony Hoesodo Didapuk Jadi Komut
Sedangkan hingga 1 September 2025, saham PGAS ditutup Rp 1.665, naik 6,9% sepanjang tahun berjalan (YTD). Secara valuasi, PGAS diperdagangkan dengan rasio EV/EBITDA 3,0x dan P/E 8,6x pada proyeksi 2025, mencerminkan stabilitas arus kas serta kekuatan pasar di distribusi gas nasional. Investor asing juga mencatatkan beli bersih Rp 255 miliar, sehingga total beli bersih asing 2025 telah mencapai Rp 274 miliar. Net buy ini mencerminkan kepercayaan tinggi asing terhadap prospek PGAS.
Rekomendasi beli saham saham PGAS ini juga didukung peran strategis PGAS dalam transisi energi melalui pengoperasian Floating Storage Regasification Unit (FSRU) Nusantara Regas Satu, terminal LNG pertama di Indonesia yang beroperasi sejak 2012. FSRU yang berlokasi 15 km lepas pantai Teluk Jakarta ini menyuplai sekitar 60% kebutuhan listrik PLN di Jakarta dan Jawa Barat.
Baca Juga
Pasokan Gas PGN (PGAS) Mulai Pulih, Industri Kembali Beroperasi
Dengan kapasitas penyimpanan 125.000 m³ dan regasifikasi 500 MMSCFD, FSRU memungkinkan pemanfaatan LNG domestik dari Bontang, Tangguh, hingga Donggi Senoro untuk kebutuhan elektrifikasi. Gas hasil regasifikasi dialirkan melalui pipa bawah laut ke fasilitas penerima di Muara Karang, sebelum disalurkan ke pembangkit listrik PLN serta jaringan distribusi PGAS dan Pertagas.
Ke depan, PGAS menghadapi risiko penurunan pasokan gas dari Blok Medco Corridor, yang diperkirakan turun dari 410 BBTUD pada 2024 menjadi 129 BBTUD di 2028. Untuk menutup gap, PGAS meningkatkan bauran LNG dari 3% pada 2024 menjadi 10% di 2025, serta 15% dalam jangka menengah. Strategi ini akan ditopang ekspansi FSRU baru dengan estimasi belanja modal sekitar US$ 400 juta, yang diharapkan memperkuat pasokan energi bersih di wilayah timur Indonesia.

