IHSG Berpeluang Tembus 9.000, Mandiri Sekuritas: Hanya Soal Waktu
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Mandiri Sekuritas (Mansek) menilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi menembus level psikologis baru di 9.000 dalam waktu dekat. Peluang tersebut ditopang keberhasilan indeks cetak rekor pada pembukaan perdagangan pagi ini ke level 8.749.
Baca Juga
Mansek: Kenaikan Free Float akan Dongkrak Likuiditas dan Minat IPO di BEI
Direktur Utama Mansek Oki Ramadhana menyatakan bahwa reli IHSG menuju 9.000 hanya menunggu momentum. Ia mengingatkan bahwa dalam beberapa bulan terakhir IHSG sudah mencetak rekor tertinggi (all time high/ATH) sebanyak 22 kali.
“Sekarang kita lihat saja sudah berapa kali touch peak-nya. Sudah 20 kali-an. Jadi kalau bisa achieve 9.000, itu as a matter of time saja,” ujarnya di Jakarta.
Baca Juga
Mansek Siapkan 4–5 IPO Besar di 2026, Satu Emiten Super Lighthouse
Optimisme tersebut diperkuat kuatnya pergerakan investor ritel. Oki mencontohkan transaksi harian di aplikasi Growin milik Mansek yang sempat menembus Rp 2,6 triliun per hari. “Menurut saya itu most likely akan tembus. Retail transaction value-nya kencang banget. Di Growin kami pernah touch Rp 2,6 triliun per day. Luar biasa,” tambahnya.
Oki menilai valuasi saham di BEI masih relatif murah dengan proyeksi pertumbuhan laba (EPS) emiten rata-rata sekitar 12%, termasuk saham non-blue-chip yang memiliki fundamental kuat. “Lihat fundamental, technical, liquidity. Banyak yang bagus, bukan hanya blue-chip,” katanya.
Baca Juga
IHSG Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, Pencapaian Target 9.000 Akhir 2025 Terbuka Lebar
Hingga 3 Desember 2025, IHSG sudah mencatatkan 22 kali ATH. Direktur Utama BEI, Iman Rachman, menyampaikan bahwa rekor tersebut terjadi dalam dua periode Menteri Keuangan, yaitu Sri Mulyani dan Purbaya Yudhi Sadewa. Era Menkeu Purbaya mendominasi dengan 21 kali ATH, sementara Sri Mulyani satu kali.
Purbaya sebelumnya menyatakan IHSG berpeluang menembus 9.000 sebelum akhir tahun. Menurutnya, optimisme pasar terbentuk dari respons investor terhadap kebijakan dan pandangan fundamental ekonomi. Ia menegaskan bahwa target tersebut didukung pola historis dan analisis jangka panjang, di mana pasar saham cenderung naik empat hingga lima kali lipat dari titik terendah menuju puncak siklus.

