PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Sambut Baik Rencana Peningkatan Free Float Saham di Bursa Efek Indonesia
Poin Penting
|
JAKARTA, Investortrust.id - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menyambut baik rencana Otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) yang akan meningkatkan porsi saham free float secara bertahap, dari 7,5% saat ini menjadi 10%, dengan harapan di masa depan dapat mencapai 20%-30%.
Rencana ini diyakini akan meningkatkan likuiditas di pasar modal Indonesia, terutama dalam saham-saham perbankan yang selama ini memiliki potensi pertumbuhan yang baik namun terkendala oleh terbatasnya free float saham yang dapat diperdagangkan oleh publik.
Direktur Utama PT BRI, Hery Gunardi, dalam kesempatan berbicara di acara CEO Networking 2025 di Hotel St Regis, Jakarta, pada Selasa (18/11/2025), menyatakan bahwa peningkatan free float saham di pasar modal akan sangat bermanfaat untuk menciptakan lebih banyak peluang bagi investor yang ingin berpartisipasi dalam pertumbuhan perbankan Indonesia. Dengan adanya kenaikan free float dari 7,5% ke 10%, diharapkan akan semakin memperbesar peluang bagi investor untuk mengakses saham-saham yang sebelumnya terbatas, sehingga dapat mendongkrak likuiditas pasar dan memberikan dampak positif terhadap perkembangan sektor perbankan di Indonesia.
"Bursa dengan policy free float yang naik dari 7,5% ke 10%, harapannya meningkatkan likuiditas di capital market, pasar modal," kata Hery.
Ia pun menganalogikan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) yang sempat ia pimpin sebelum menakhodai BRI. Menurutnya BRIS memiliki pertumbuhan kredit yang sangat baik, dan market cap yang juga mentereng di lantai bursa, hingga price to book value yang bagus bagi para investor. "Tapi gimana? Investornya nggak bisa beli karena free float -nya hanya 7,5%. Harusnya nanti mungkin bisa meningkat ke 20%-30%. Sehingga liquidity-nya makin banyak dan makin banyak juga masyarakat dan investor yang bisa bertransaksi saham perbankan yang ada," imbuhnya.
Sebelumnya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah mengemukakan rencananya bersama otoritas bursa untuk meningkatkan porsi free float. Dikemukakan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon, Inarno Djajadi, dalam sebuah acara di Bali pada 15 November 2025, akan ada tahapan kenaikan free float hingga mencapai 25%.
"Mungkin target kita memang 25%, tetapi nggak mungkin kita langsung ke 25% karena konsekuensinya itu cukup banyak. Jadi kita akan secara bertahap naikkan. Mungkin dalam waktu dekat itu kita akan naikkan ke 10%," ujar Inarno. Kenaikan ini diharapkan dapat diterapkan pada calon emiten yang akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) agar penyesuaian dapat berjalan dengan lancar.
Baca Juga
Rencana peningkatan free float ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat pasar modal Indonesia dan mendorong peningkatan daya tarik pasar saham domestik bagi investor, baik lokal maupun internasional. Jika tercapai, hal ini juga akan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pasar modal terbesar di Asia Tenggara.
Keamanan Transaksi di BRI
Dalam ajang CEO Networking 2025, Hery Gunardi juga menyampaikan bahwa PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) terus memperkuat keamanan transaksi digital banking mereka. Dalam menghadapi ancaman serangan siber yang terus berkembang, Hery Gunardi menegaskan bahwa BRI telah membangun sistem pertahanan yang sangat kuat untuk melindungi nasabah.
"Ada pagar, ada 'anjing galak' yang jaga di situ. Kemudian ada sniper, macam-macam. Jadi kita punya lingkungan untuk menjaga (terjadinya) cyber attack itu berlapis-lapis," jelasnya, menggambarkan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi terhadap potensi serangan siber. Sistem keamanan ini dijaga 24 jam sehari, 7 hari seminggu, untuk memastikan bahwa transaksi nasabah tetap aman.
BRI juga terus memperkuat fondasi teknologi dengan membangun sistem core banking yang kuat, mendigitalkan layanan, dan menyiapkan fraud detection system (FDS) untuk mendeteksi transaksi yang tidak normal. Hery Gunardi menjelaskan, FDS tidak bisa lagi dilakukan secara manual dan harus menggunakan teknologi canggih.
"Jika melihat transaksi anomali, sistem sudah bisa melihat. Ini kalau normal lewat, yang nggak normal atau anomali geser dulu, dia periksa," ujarnya, menunjukkan betapa pentingnya teknologi dalam menjaga keamanan transaksi, mengingat volume transaksi yang sangat besar.
Lebih lanjut, BRI juga fokus pada penguatan kemampuan jangka panjang dengan memanfaatkan teknologi data analitik dan big data. Dengan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), BRI berharap dapat menawarkan pengalaman transaksi yang lebih modern dan efisien bagi nasabahnya. Misalnya, nasabah yang ingin membeli rumah baru dengan menggunakan fasilitas KPR BRI bisa melakukan transaksi secara digital, melihat desain rumah, memilih harga, dan bahkan mendapatkan penawaran KPR tanpa harus datang ke kantor bank.

