IHSG Tetap Bullish di Tengah Ketidakpastian Global, OJK: Downside Risk Sudah Terprediksi
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai tetap resilien meski ketidakpastian global masih statis. Hingga 17 November 2025, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat IHSG telah 14 kali mencetak rekor all time high (ATH) sejak awal tahun.
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengingatkan bahwa IHSG pernah terkoreksi tajam 17% pada 18 November 2024 dan ditutup di level 7.134. Enam bulan kemudian, tepatnya 16 Mei 2025, IHSG berada di posisi 7.106. “Kalau kita lihat 12 bulan lalu dan 6 bulan lalu, seakan-akan dari 7.134 ke 7.106 itu hampir flat, tidak ada dinamika,” ujar Mahendra dalam CEO Networking 2025 di St Regis, Selasa (18/11/2025).
Baca Juga
IPO Asia Tenggara Bergairah, Malaysia dan Indonesia Pimpin Penggalangan Dana
Mahendra menjelaskan bahwa di tengah periode tersebut, IHSG sempat jatuh hingga ke level 6.000 pada April 2025, tepat tiga pekan sebelum 16 Mei. Penurunan itu terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana kenaikan tarif dagang pada perayaan Liberation Day. Kini, kata Mahendra, kondisi pasar relatif lebih, dibandingkan periode itu. Namun secara fundamental, tidak ada perubahan signifikan selama 6 hingga 12 bulan terakhir.
Menurutnya, Indonesia tetap berada dalam lanskap global yang sarat ketidakpastian, mulai dari ketegangan geopolitik, dinamika perang dagang, hingga realignment dan reallocation rantai pasok global akibat friksi AS–China. Dampak tersebut terus menekan arus perdagangan internasional dan meningkatkan biaya logistik.
Mahendra mengungkapkan bahwa saat pertama kali duduk di Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sebagai Ketua DK-OJK pada 2022, ia memprediksi tensi geopolitik baru akan mereda 10 tahun kemudian. Kini, ia menilai kondisi global justru telah memasuki fase yang tidak akan banyak berubah. “This is it, we are in the new geopolitical normal,” tegasnya.
Ia mencontohkan negosiasi tarif dagang Indonesia–AS yang masih berjalan hingga kini. Situasi tersebut mencerminkan bahwa perubahan nyata belum terjadi sejak awal perundingan.
Baca Juga
IHSG 2025 Melesat dan Pecah Rekor, BEI Bidik Indonesia Masuk 10 Bursa Terbesar Global
Mahendra menilai pergerakan IHSG akhir-akhir ini menunjukkan bahwa pelaku pasar telah belajar untuk mengubah sudut pandang terhadap Indonesia, terlepas dari konstelasi global yang stagnan. Ketidakpastian kini dianggap sebagai hal yang normal, sehingga pasar lebih fokus menilai fundamental domestik. “Tentang bagaimana kita memahami kondisi perekonomian, sektor keuangan, fiskal-moneter, industri, konsumsi domestik, stabilitas sosial politik keamanan, hingga kondisi UMKM dan ekonomi daerah,” jelasnya.
Dengan segala kelebihan dan kekurangan ekonomi nasional, Mahendra melihat IHSG saat ini mencerminkan realitas bahwa dorongan dari faktor global sangat kecil. “Dengan kata lain kondisi global ekonomi sudah kita antisipasi memiliki downside risk yang besar untuk bisa memburuk dan memburuk lebih cepat. Karena itulah kondisi global yang new normal itu,” pungkas Mahendra.

