IHSG 2025 Melesat dan Pecah Rekor, BEI Bidik Indonesia Masuk 10 Bursa Terbesar Global
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan ketahanan pasar modal Indonesia tetap solid sepanjang 2025, di tengah dinamika global yang penuh tantangan. Ketahanan ditunjukkan atas kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) telah lebih dari 18% sepanjang year to date (ytd) dan berhasil catatkan 10 kali rekor tertinggi.
Demikian penjelasan Direktur Utama BEI Iman Rachman pada acara CEO Networking 2025 yang digelar di Jakarta, Selasa (18/11/2025). Acara ini dihadiri lebih dari 400 peserta dari kalangan perusahaan tercatat, anggota bursa, asosiasi, pemimpin redaksi media massa, hingga SRO.
Baca Juga
Iman mengatakan, IHSG berhasil melesat lebih dari 18% year to date (ytd) dan sudah 10 kali menembus level all time high (ATH) di atas 8.000 sepanjang 2025. Kapitalisasi pasar juga menembus lebih dari Rp 1.500 triliun dengan rata-rata nilai transaksi harian berada di atas Rp 15,5 triliun. “BEI kini menjadi one billion stock exchange. Pencapaian ini tidak hanya menunjukkan optimisme pasar, tetapi juga ketahanan ekonomi yang konsisten,” ujarnya.
Dibandingkan bursa kawasan Asia Tenggara, dia mengatakan, nilai transaksi harian BEI sudah lebih tinggi dari bursa Singapura dan hanya sedikit di bawah bursa Thailand. Begitu juga dengan perdagangan surat utang, transaksi melalui Sistem Perdagangan Alternatif (SPA) rata-rata telah menembus Rp 6 triliun per hari. Perdagangan non-saham, nilai transaksi mencapai Rp 5,3 triliun dan transaksi unit karbon sudah mencapai Rp 28 miliar.
Iman menambahkan, BEI telah berhasil mencatat 24 emiten baru melakukan IPO saham tahun ini, sehingga jumlah perusahaan tercatat naik menjadi 964 emiten. Di sisi lain, jumlah investor baru pasar modal telah bertambah 4,5 juta investor baru, sehingga total investor mencapai 19,4 juta.
Pergeseran Transaksi
Dia menambahkan, BEI mencatatkan adanya pergeseran pola transaksi saham di BEI. “Jika sebelumnya investor cenderung fokus pada saham berkapitalisasi besar, seperti LQ45 dan IDX80, kini minat meluas ke saham-saham non-indeks yang memiliki potensi pertumbuhan menarik. Porsi transaksi non-LQ45 dan non-IDX80 terus meningkat, menandakan pasar yang semakin variative,” ujarnya.
Begitu juga dengan daftar emiten kapitalisasi pasar terbesar di BEI mengalami perubahan. Jika pada 2020 daftar 10 besar didominasi sektor perbankan, kini bergeser ke emiten sektor energi, komoditas, dan sumber daya alam. “Ini mencerminkan perubahan arah investor ke sektor yang lebih produktif dan berorientasi ekspor. Likuiditas saham menjadi faktor kunci menjaga daya tarik emiten,” kata Iman.
Top 10 Bursa Dunia
Guna menjaga momentum pertumbuhan, BEI menyiapkan Master Plan 2026–2030 yang menargetkan Indonesia masuk 10 besar bursa dunia, baik dari sisi kapitalisasi pasar maupun nilai transaksi.
Baca Juga
BEI juga memproyeksikan nilai rata-rata transaksi harian pada 2026 berada di Rp 14,5 triliun dengan 239 hari bursa, serta menargetkan pencatatan 555 efek baru dan penambahan 2 juta investor baru.
Saat ini, kapitalisasi pasar saham Indonesia berada di peringkat 21 dunia dan nilai transaksi harian berada di peringkat 17 secara global.

