IPO Asia Tenggara Bergairah, Malaysia dan Indonesia Pimpin Penggalangan Dana
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) di Asia Tenggara menunjukkan tren kuat sepanjang tahun ini, dengan Malaysia dan Indonesia menempati posisi teratas sebagai pasar paling aktif dari sisi jumlah pencatatan dan penggalangan dana.
Laporan terbaru Deloitte menegaskan dominasi dua negara tersebut dalam memimpin volume IPO kawasan. Malaysia memimpin dengan 48 IPO saham yang menghimpun US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 18,33 triliun, sebagian besar melalui ACE Market. Meski total dana yang terhimpun menurun, termasuk market capitalization IPO dan jumlah pencatatan, Malaysia tetap berada di jalur mencapai target 60 IPO pada akhir 2025.
Baca Juga
IHSG 2025 Melesat dan Pecah Rekor, BEI Bidik Indonesia Masuk 10 Bursa Terbesar Global
Sektor produk industri dan konsumer menjadi penopang utama pasar IPO Malaysia. THMY Holdings Berhad dan Oriental Kopi Holdings Berhad mencatat debut mengesankan, masing-masing melonjak 193,55% dan 98,86% pada hari pertama perdagangan. Tahun ini, Malaysia juga mencatat secondary listing pertama dari UMS Integration Ltd yang sebelumnya tercatat di SGX, serta kehadiran Cuckoo International (MAL) Berhad, anak usaha Cuckoo Holdings Co Ltd dari Korea.
Capital Markets Services Partner Deloitte Malaysia Wong Kar Choon menegaskan, pipeline IPO Malaysia sangat beragam, dengan aktivitas kuat di sektor consumer goods, produk industri, energi, dan sumber daya. Menurutnya, insentif pemerintah dan minat investor yang meningkat menjadi pendorong utama.
“Meski ada ketidakpastian geopolitik, tarif perdagangan, dan tekanan supply chain, perusahaan-perusahaan konsumer yang mapan tetap menjadi tulang punggung pasar IPO dan ekonomi Malaysia,” ujarnya dalam konferensi pers daring, Selasa (18/11/2025).
IPO Saham Indonesia
Indonesia mencatat 24 IPO dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai US$921 juta atau Rp 15,35 triliun. Meski jumlah pencatatan lebih rendah dibanding Malaysia, Indonesia menunjukkan performa kuat dari sisi nilai penggalangan dana, terutama melalui emiten sektor energi dan sumber daya.
IPO besar Indonesia tahun ini datang dari PT Merdeka Gold Resource Tbk (EMAS) dengan raihan dana US$279 juta (Rp 4,65 triliun), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) dengan perolehan dana US$144 juta (Rp 2,4 triliun), PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) yang berafiliasi dengan Agung Sedayu Group dan sektor konsumer diperkuat oleh debut PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI).
Baca Juga
OJK dan BEI Kompak Bakal Perkuat Pendalaman Pasar hingga Pengawasan
Capital Markets Services Leader Deloitte Southeast Asia Tay Hwee Ling menyatakan, Indonesia tetap menjadi pasar yang kompetitif dengan prospek kuat. “Aktivitas IPO di Indonesia didorong sektor industri, energi, konsumer, dan layanan kesehatan, dengan preferensi investor pada perusahaan yang memiliki fundamental kuat dan dukungan pemerintah,” ujarnya.
Ia menambahkan, minat terhadap sektor infrastruktur dan energi, khususnya energi terbarukan, meningkat seiring berkembangnya pipeline proyek strategis Indonesia dan percepatan transisi energi bersih. “Meskipun sentimen pasar menguat pascapemilu, investor tetap berhati-hati di tengah tekanan makro seperti penurunan harga komoditas, ketegangan perdagangan global, dan penyesuaian tenaga kerja. Pipeline IPO kuartal IV 2025 mencakup perusahaan teknologi, logistik, dan jasa keuangan yang berpotensi menarik minat besar jika mampu menunjukkan profitabilitas dan ketahanan,” tuturnya.

