Menguat pada Akhir Pekan, Rupiah Bertengger di Level Rp 16.710
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Nilai tukar rupiah menguat 22 poin ke level Rp 16.710 per dolar AS pada Jumat (14/11/2025) sore dibandingkan hari sebelumnya. Mata uang Garuda ditransaksikan pada kisaran Rp 16.700 hingga Rp 16.715 per dolar AS pada akhir pekan berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor).
Pergerakan rupiah dipengaruhi berbagai faktor, baik global maupun domestik. Di Asia, indeks saham sebagian besar ditutup melemah. Nikkei turun 1,8% ke 50.377 dan Shanghai terkoreksi 1% ke level 3.990. Kondisi ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap perubahan sikap the Fed yang lebih hawkish. Hal itu mendorong investor menjauhi aset berisiko.
“Pasar kini menyesuaikan kembali ekspektasi mereka terhadap pemangkasan suku bunga the Fed pada Desember dengan probabilitas turun menjadi sekitar 50% dari 69% awal pekan ini,” ujar Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro.
Baca Juga
Rupiah Menguat Tipis di Awal Perdagangan, Sentimen The Fed Masih Membayangi
Sejalan dengan itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah 0,02% ke posisi 8.370 mengikuti pelemahan pasar saham global. Hampir semua sektor IHSG berakhir di zona merah, dipimpin penurunan sektor industri dan kesehatan.
“Investor akan memantau perkembangan rilis data AS setelah pemerintah kembali beroperasi, serta keputusan kebijakan Bank Indonesia (BI) pekan depan,” kata Andry.
BI mencatat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stabil di angka 6,12%. Pada Kamis (13/11/2025), imbal hasil US Treasury 10 tahun naik ke posisi 4,119%.
Baca Juga
BI Proyeksikan Rupiah Rata-Rata Rp 16.430 per Dolar AS pada 2026
Data BI menunjukkan, pada 10-13 November 2025, investor asing mencatatkan penjualan neto sebesar Rp 3,79 triliun, terdiri atas beli neto Rp 3,92 triliun di pasar saham, jual neto Rp 6,33 triliun di pasar SBN, dan Rp 1,39 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Selama 2025, hingga 13 November 2025, asing membukukan penjualan neto senilai Rp 37,24 triliun di pasar saham, Rp 6,45 triliun di pasar SBN, dan Rp 140,4 triliun di SRBI.
“BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia,” tutur Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso.

