Begini Target Harga Saham GOTO Usai Rumor Merger Grab–GOTO kembali Mencuat
JAKARTA, investortrust.id – Kabar rencana penggabungan usaha antara dua raksasa layanan digital Asia Tenggara, Grab Holdings Ltd (Grab) dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali mencuat dan mengguncang pasar. Berbeda dari rumor sebelumnya, isu kali ini menguat setelah Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi membenarkan adanya pembicaraan terkait potensi merger di Kompleks Istana Merdeka, Jumat (7/11/2025).
Konfirmasi tersebut langsung memicu sentimen positif di bursa, mendorong saham GOTO melesat tajam. Investor menilai peluang lahirnya entitas digital raksasa dengan dominasi pasar yang sangat kuat, mulai dari transportasi online, e-commerce, logistik, hingga layanan keuangan digital.
Baca Juga
Pelaku Pasar Antusias, Saham GOTO Menguat Terdorong Pembahasan Merger
Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai tren teknikal saham GOTO saat ini mengarah positif dengan peluang kenaikan lebih lanjut. “Secara teknikal, tren jangka pendek saham GOTO kini bergerak positif dengan peluang menuju target harga Rp 72 dan target harga kedua Rp 90, sementara rekomendasi tetap trading buy selama harga bertahan di atas support psikologis Rp 60,” jelas Hendra kepada investortrust.id, Senin (10/11/2025).
Jika proses merger benar-benar terealisasi, Hendra menambahkan, GOTO berpotensi bertransformasi menjadi entitas digital yang lebih efisien dan menuju profitabilitas. “Jika merger terjadi, bukan mustahil GOTO berubah dari saham burn rate menjadi saham profit maker yang menjadi primadona baru sektor digital Indonesia,” ujarnya.
Secara fundamental, merger dinilai dapat mempercepat langkah GOTO menuju profitabilitas berkelanjutan. Dalam dua tahun terakhir, GOTO telah menunjukkan perbaikan kinerja melalui peningkatan EBITDA dan arah laba operasional yang lebih jelas. Sinergi dengan Grab diperkirakan dapat menghasilkan efisiensi dari sisi logistik, operasional, dan ekosistem fintech.
Baca Juga
Istana Buka Suara soal Rencana Merger GoTo dan Grab, Libatkan Danantara
Di sisi lain, Grab telah membukukan laba sejak 2023, menunjukkan disiplin biaya dan manajemen yang kuat. Namun, Hendra mengingatkan potensi biaya integrasi dan restrukturisasi yang mungkin menekan kinerja jangka pendek. “Dari sisi Grab, jika penggabungan dilakukan penuh, kerugian GOTO yang belum pulih akan ikut terkonsolidasi. Namun dengan posisi kas kuat dan profitabilitas stabil, Grab dinilai mampu menanggungnya, terutama jika merger dilakukan bertahap atau melalui mekanisme tukar saham,” jelasnya.
Meski peluang sinergi dinilai besar, langkah korporasi ini dipastikan akan menjadi perhatian Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Entitas gabungan diperkirakan akan menguasai pangsa pasar signifikan di transportasi online, pengantaran makanan, logistik, hingga pembayaran digital, sehingga isu monopoli tidak dapat diabaikan.
Namun dari sudut pandang pasar modal, dominasi pasar justru dianggap sebagai katalis positif. Efisiensi biaya, margin keuntungan yang lebih tinggi, dan skala bisnis yang semakin besar dinilai dapat meningkatkan daya tarik GOTO bagi investor dalam jangka menengah.

