Saham GOTO Jatuh Usai Bantah Merger, Keinginan Merger Ditengarai Datang dari Investor Ini
JAKARTA, investortrust.id – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membantah rencana merger dengan Grab Holdings Ltd. Hal ini terungkap dalam klarifikasi remis perseroan yang menyebutkan tidak ada kesepakatan perseroan dengan pihak manapun.
Usai manajemen buka suara, saham GOTO langsung diganjar anjlok pada penutupan perdagangangan sesi I Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (5/2/2025). Saham GOTO anjlok ke level Rp 82 atau terkoreksi sebanyak 5,75%.
Terkait isu merger ini, analis BRI Danareksa Sekuritas Niko Margaronis & Kafi Ananta dalam komentar pasar hari ini menilai bahwa keinginan merger tersebut kemungkinan datang dari investor aktivis GOTO. Para pemegang saham ini berharap dengan merger GOTO strategi percepatan keuntungan berinvestasi saham GOTO tercapai.
Baca Juga
IHSG Sesi I Ditutup Turun 40 Poin, Sebaliknya Tiga Saham Ini Melambung
Merger, ungkap BRI Danareksa Sekuritas, merupakan strategi tercepat untuk mencapai profitabilitas. Merger membuat industri makin sehat melalui kompetisi menurun, nilai tawar perseroan akan lebih baik dengan pengemudi, dan pencapaiaan keuntungan lebih terbuka dalam jangka panjang.
“Pandangan kami bahwa investor aktivis ini kemungkinan besar menilai bahwa merger sebagai cara untuk mempercepat GOTO dalam mencapai profitabilitas ke depan,” tulis riset tersebut.
Meskipun demikian, BRI Danareksa Sekuritas menilai, saat ini, GOTO masih memiliki sumber daya yang memadai untuk mencapai tujuan menaikkan nilai perserusahaan. Di antaranya sumber daya data analytics, peluncuran beragam inovasi produk layanan ODS dan penguatan segmen bisnis fintech perseroan.
Baca Juga
Jika Merger dengan Grab Terwujud, GOTO bakal Mendapatkan Manfaat Ini
Dealstreet Asia dalam berita yang diterbitkan Selasa (4/2/2025) menyebutkan bahwa pembahasan merger antara Grab dan GoTo kembali mengemuka dan mendapatkan momentum dalam beberapa minggu terakhir. Sejumlah sumber menuturkan yang mengetahui pembicaraan tersebut menuturkan kesepakatan merger Grab dan GOTO ditargetkan tercapai tahun 2025 atau tidak sama sekali.
Memandang kabar tersebut, Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai bahwa GOTO kini belum mampu mencetak laba bersih, meskipun efisiensi biaya besar-besaran sudah diwujudkan. Berbeda dengan Grab yang berhasil mencetak laba sebesar Rp 236 miliar atau US$ 15 juta pada kuartal III-2024.
"Jadi, kalau misalnya terjadi merger, nantinya pelayanan terkait dengan e-commerce maupun juga on demand di Indonesia itu semakin meningkat dan semakin berkembang dengan pesat," kata Nafan.

