Ada Peluang Reli Bitcoin, Raksasa Keuangan Global JPMorgan Prediksi BTC Bakal Tembus US$ 170.000
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id - Anjloknya harga Bitcoin (BTC) baru-baru ini yang sempat anjlok hingga di bawah US$ 100.000 telah memicu kekhawatiran yang meluas di pasar kripto. Tetapi kekhawatiran itu tak berlaku bagi pemain institusional besar seperti JPMorgan.
Menurut laporan, analis JPMorgan telah mengeluarkan prospek bullish yang mengejutkan untuk Bitcoin, memperkirakan potensi lonjakan hingga US$ 170.000 atau setara Rp 2,8 miliar dalam 6 hingga 12 bulan ke depan. Prediksi bullish ini telah menarik perhatian pasar kripto yang lebih luas, terutama karena volatilitas dan likuidasi terus menguji sentimen investor dan menekan harga.
Menilik CoinMarketCap, Sabtu (8/11/2025) pukul 07.45 WIB, BTC diperdagangkan di level US$ 102.846,91 atau naik 1,54% dalam 24 jam terakhir. Kenaikan harga Bitcoin ini turut didorong oleh lonjakan aktivitas perdagangan. Volume transaksi dalam 24 jam terakhir meningkat 45,75% menjadi US$ 92,15 miliar. Kapitalisasi pasar (marketcap) Bitcoin juga mengalami penguatan 1,53% menjadi US$ 2,05 triliun.
Secara teknikal dalam 24 jam terakhir, pergerakan Bitcoin sempat berada di kisaran US$ 101.000 sebelum mengalami pemulihan dan kembali bergerak menguat menuju kisaran US$ 104.000. Namun, menjelang pagi ini, harga terkoreksi tipis ke area US$ 102.800-an.
Saat ini, jumlah Bitcoin yang beredar mencapai 19,94 juta BTC dari total pasokan maksimum 21 juta BTC. Sementara nilai kapitalisasi pasar dibandingkan dengan total nilai Bitcoin yang akan beredar penuh (FDV) tercatat US$ 2,15 triliun.
Baca Juga
Bitcoin Bertahan di Atas "Support" Psikologis US$ 100.000, Investor Pantau Level Kunci
Analis ETF senior di Bloomberg Eric Balchunas baru-baru ini berbagi wawasan dari para analis JPMorgan, yang dipimpin oleh Direktur Pelaksana Nikolaos Panigirtzoglou, yang menyajikan argumen bullish yang meyakinkan untuk harga Bitcoin. Dalam salah satu catatan riset mereka, analis bank tersebut berpendapat bahwa nilai pasar Bitcoin saat ini jauh lebih rendah nilainya dibandingkan dengan emas.
Mereka memperkirakan bahwa setelah kondisi leverage normal, mata uang kripto terkemuka ini dapat naik menuju US$ 170.000. Khususnya, mereka memperkirakan BTC akan mencapai target bullish ini dalam 6-12 bulan ke depan, yang menunjukkan peningkatan 65,9% dari level harga saat ini di atas US$ 102.400.
Melansir dari Tradingview, Sabtu (8/11/2025) para analis menekankan bahwa pasar kripto yang lebih luas telah mengalami koreksi hampir 20% dari level tertinggi sebelumnya, terutama didorong oleh likuidasi besar-besaran dalam kontrak berjangka perpetual. Gelombang terbesar diamati pada 10 Oktober, menyusul pengumuman tarif agresif Presiden AS Donald Trump terhadap Tiongkok, yang memicu likuidasi rekor yang menghapus miliaran dolar dalam posisi leverage di seluruh bursa, peristiwa terbesar dalam sejarah kripto.
Baca Juga
Harga Bitcoin Sempat Anjlok ke Bawah US$ 100.000 Pertama Kalinya Sejak Juni, Ini Penjelasannya
Meninggalkan pasar kripto tanpa ruang untuk pemulihan, peristiwa likuidasi dahsyat lainnya terjadi pada 3 November, memperdalam koreksi setelah eksploitasi senilai US$ 120 juta pada Market Maker Balancer memicu kembali kekhawatiran atas keamanan protokol DeFi. Namun, terlepas dari volatilitas yang meluas dan penurunan pasar ini, analis JPMorgan tetap optimis terhadap Bitcoin, kemungkinan memandang peristiwa likuidasi ini sebagai pembersihan yang diperlukan untuk menghilangkan spekulasi yang berlebihan.
Para analis yakin bahwa deleveraging yang terus-menerus akhirnya berakhir, membuka jalur potensial bagi akumulasi institusional yang lebih stabil. Mereka memperkirakan nilai Bitcoin dapat pulih dan menguat secara signifikan mulai sekarang hingga Oktober 2026, mendukung proyeksi bullish kemungkinan reli ke level tertinggi sepanjang masa.
Analisis teknis terbaru dari analis pasar kripto, Sulianto Indria Putra, menggemakan optimisme bullish terhadap prospek harga Bitcoin. Ia menyoroti bahwa grafik mingguan mata uang kripto menunjukkan Exponential Moving Average (EMA) 50 minggu terus bertindak sebagai level support siklus yang kuat. Setiap kali BTC menyentuh EMA ini dalam siklus bullish sebelumnya, secara historis Bitcoin mengalami rebound dengan momentum kenaikan yang kuat.
Berdasarkan grafik analis, Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$ 102.400, tepat di atas EMA 50 minggu di sekitar US$ 100.900, di mana pergerakan harga menunjukkan konsolidasi, bukan breakdown. Suli berpendapat bahwa posisi ini menunjukkan bahwa pasar sedang membentuk titik terendah yang lebih tinggi dalam tren bullish yang sedang berlangsung. Meskipun sentimen bearish dan penurunan harga meluas, analis tersebut berpendapat bahwa Bitcoin masih dapat menguat secara signifikan hingga US$ 150.000 antara akhir 2025 dan awal 2026.

