Meski MD Entertaintment (FILM) Merugi, Sahamnya Direkomendasikan Beli dengan Target Harga Tinggi, Kok Bisa?
JAKARTA, investortrust.id – PT MD Entertainment Tbk (FILM) mencatatkan penurunan kinerja keuangan hingga kuartal III-2025, seiring minimnya perilisan film baru di bioskop. Penurunan utama dipicu atas kejatuhan pendapatan dari segmen bioskop hingga 78,8% secara kuartalan dan 73,1% secara tahunan akibat jumlah film yang tayang berkurang sejalan dengan penurunan jumlah penonton.
Laporan kinerja FILM menyebutkan perseroan berbalin menjadi rugi bersih Rp 68,1 miliar hingga kuartal III-2025, dibandingkan periode sama tahun lalu dengan laba bersih Rp 103 miliar. Sebaliknya pendapatan naik sebanyak 16,8% dari Rp 348,1 miliar menjadi Rp 406,4 miliar. Bahkan pendapatan dan laba QoQ anjlok.
Baca Juga
Dampak Penerapan AI, PHK di AS Melonjak ke Level Tertinggi dalam Dua Dekade
Analis Samuel Sekuritas Fadhlan Banny mengatakan, segmen digital menjadi penopang utama pertumbuhan kinerja FILM. Pendapatan digital meningkat 16,1% secara kuartalan dan melonjak 64,0% secara tahunan menjadi Rp 55,3 miliar, didorong ekspansi kerja sama dengan platform OTT, termasuk Netflix. Secara kumulatif, pendapatan FILM selama sembilan bulan pertama 2025 mencapai Rp 406,4 miliar atau tumbuh 16,8% dibanding tahun lalu.
Estimasi Kinerja FILM
Sumber: Samuel Sekuritas
Segmen penyiaran masih menjadi beban kinerja dengan sumbangan 90% terhadap total rugi bersih perusahaan. Akibatnya, EBIT kuartal berjalan tercatat negatif Rp 37 miliar. “Kendati demikian, tanda pemulihan mulai terlihat. MDTV berhasil naik ke jajaran 10 besar stasiun televisi dengan jumlah penonton terbanyak di Indonesia, meningkat signifikan dari posisi sebelumnya di peringkat 16. Ini merupakan hasil awal dari strategi reposisi konten dan penonton yang sedang dijalankan. Biaya operasional juga kian terkendali,” tulis riset tersebut.
Baca Juga
Wall Street Ambruk Tertekan Saham AI, Dow Anjlok Hampir 400 Poin
Dengan melihat pola tersebut, Samuel Sekuritas memprediksi, kinerja FILM akan berbalik positif dalam jangka menengah. Tahun ini, perseroan diprediksi masih merugi Rp 57 miliar akibat pemulihan MDTV yang lebih lambat dari ekspektasi awal. Namun, prospek jangka panjang dinilai tetap menarik ditopang ssinergi dengan SBS, penyiar terbesar kedua di Korea Selatan.
Perbaikan prospek jangka panjang juga didukung peluncuran platform OTT internal MD Now yang mendukung monetisasi konten dan IP, potensi pembalikan kinerja segmen penyiaran, target posisi bebas utang pada 2026 yang mendukung profitabilitas. “Dengan mempertimbangkan potensi pertumbuhan tersebut, saham FILM layak dipertahankan beli dengan target harga Rp 7.000 per saham,” tulis riset tersebut.

