BRMS Terkerek Target Produksi Emas, Sahamnya Direvisi Naik
JAKARTA, investortrust.id – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) terus mencatat kemajuan signifikan dalam pengembangan proyek emas Citra Palu Minerals (CPM). Proyek tambang bawah tanah tersebut kini berada pada tahap tunneling tahap kedua, dengan fasilitas pengolahan tengah ditingkatkan kapasitasnya menjadi 2.000 ton per hari dari sebelumnya 500 ton per hari.
Ekpansi produksi tersebut mendorong sejumlah sekuritas untuk merevisi naik target harga saham BRMS. BRI Danareksa Sekuritas dalam riset terakhirnya merekomendasikan beli saham BRMS dengan target harga direvisi naik menjadi Rp 1.080.
Baca Juga
Target Harga Tinggi, Bumi Resources (BRMS) Siap Gandakan Produksi Emas hingga Lonjakan Laba Ini
Begitu juga dengan analis UOB Kay Hian Sekuritas merevisi naik target harga saham BRMS menjadi Rp 1.080. Target harga tersebut merefleksikan gencarnya ekspansi kapasitas dan peluang peningkatan cadangan tembaga dalam waktu dekat. Target harga juga merefleksikan lompatan kinerja keuangan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas Naura Reyhan Muchlis dan Nashrullah Putra Sulaeman mengatakan, infrastruktur utama tambang CPM telah terpasang dan fasilitas pemrosesan mulai memasuki fase ketiga. Selain itu, pengeboran infill yang sedang berlangsung membuka potensi peningkatan cadangan mineral, semakin memperkuat prospek produksi bawah tanah di tahun-tahun mendatang.
Di tengah perkembangan tersebut, BRMS menaikkan proyeksi kinerja keuangan seiring revisi asumsi harga emas global. Perusahaan kini menggunakan asumsi harga emas lebih tinggi, yaitu US$3.500/US$4.100/US$4.400 per troy ounce untuk 2025–2027.
Baca Juga
Harga Emas Dunia Bertahan di Sekitar US$ 4.000, Investor Tunggu Sinyal The Fed
“Dengan penyesuaian itu, proyeksi laba bersih BRMS untuk 2025/2026/2027 direvisi naik masing-masing 12%, 79%, dan 96%. Pertumbuhan kinerja diperkirakan ditopang oleh peningkatan harga jual dan leverage operasional ketika produksi masuk fase peningkatan kapasitas pada 2027,” tulisnya.
Hal ini mendorong BRI Danareksa Sekuritas merevisi naik target harga saham BRMS menjadi Rp 1.080 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Target tersebut mencerminkan valuasi yang lebih tinggi dari aset bawah tanah CPM serta prospek monetisasi yang semakin jelas.
Sementara itu, analis UOB Kay Hian Sekuritas Benyamin Mikael mengatakan, Bumi Resources Minerals (BRMS) mencatat peningkatan laba bersih signifikan pada kuartal III-2025. Laba bersih mencapai US$ 15 juta, tumbuh 123% secara tahunan dan naik 85% dibanding kuartal sebelumnya. Kinerja ini ditopang oleh kenaikan volume penjualan emas serta harga jual rata-rata (ASP) yang lebih tinggi.
Baca Juga
XLSmart (EXCL) Siap Ikuti Lelang Frekuensi 2,6 GHz untuk Perluas Jaringan 5G Nasional
Secara volume, penjualan emas pada kuartal III-2025 mencapai 17.500 ounce, meningkat 3% dibanding kuartal sebelumnya. Harga jual emas juga naik 5,7%. Selain itu, tidak adanya beban satu kali (one-off expenses) turut memperkuat capaian laba. Dengan demikian, laba bersih BRMS selama sembilan bulan pertama 2025 mencapai US$38 juta, naik 142% dibanding periode yang sama tahun lalu. Realisasi tersebut telah mencapai 80% dari estimasi laba tahun penuh.
Ke depan, BRMS tengah melakukan peningkatan kapasitas pabrik CIL pertama dari 500 menjadi 2.000 ton per hari (tpd), yang ditargetkan rampung pada semester II-2026. Selama proses peningkatan kapasitas, operasi pabrik tersebut sementara dihentikan sehingga menekan produksi jangka pendek. Sementara itu, pabrik CIL kedua telah beroperasi sekitar 4.500 tpd sejak pertengahan 2025 sehingga menopang produksi.
Baca Juga
Reliance Sekuritas Rekomendasi Beli 4 Saham Hari Ini, Ada TPIA hingga ASRI
Pengembangan tambang bawah tanah Poboya juga berjalan sesuai rencana oleh PT Macmahon Indonesia. Produksi dari tambang bawah tanah ini ditargetkan mulai pertengahan 2027, dengan kadar bijih lebih tinggi yakni 3,5–4,9 gram per ton dibanding sekitar 1,5 gram per ton saat ini. Kombinasi peningkatan kapasitas pabrik dan produksi tambang bawah tanah menjadi pendorong utama proyeksi produksi 2030 sebesar 246.000 ounce.
Selain itu, BRMS dinilai berpotensi masuk dalam indeks MSCI Indonesia. Dengan kapitalisasi pasar sekitar US$8 miliar dan perkiraan free float-adjusted market cap mencapai US$ 2,7 miliar, BRMS telah melampaui ambang batas minimum sebesar US$ 1,56 miliar. Persentase free float sekitar 32,85% juga selaras dengan kriteria indeks, sehingga BRMS berpeluang menjadi kandidat dalam tinjauan indeks mendatang.

