IHSG Sesi I Melesat 1,16%, Saham Emiten Prajogo Pendongkrak
JAKARTA, investortrust.id – Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) sesi I, Senin (3/11/2025), ditutup melesat 94,95 poin (1,16%) menjadi 8.258. Rentang pergerakan 8.163-8.272 dengan nilai transaksi Rp 8,85 triliun. Grup emiten yang dikendalikan Prajogo Pangestu jadi pendongkrak.
Kenaikan tersebut sejalan dengan penguatan sejumlah sektor saham, seperti sektor konsumer primer naik 2,08%, sektor infrastruktur 1,82%, sektor transportasi 1,95%, sektor energi naik 1,16%, sektor material dasar menguat 0,97%, dan sektor keuangan 0,34%. Sebaliknya pelemahan melanda saham sektor property, industry, serta konsumer non primer.
Baca Juga
Menteri PU Bidik Perbaikan 1.278 Km Jalan Daerah Rampung Akhir 2025, Cek Progresnya
Penopang utama indeks datang dari kenaikan saham big cap, seperti BREN naik 6,63%, BRPT menguat 5,22%, ASII naik 2,85%, dan CUAN menguat 2,99%. Kenaikan juga melanda saham DSSA, MLPT, dan BBCA.
Adapun saham dengan kenaikan paling pesat hingga auto reject atas (ARA), yaitu saham UVCR naik 33,78%, RANC menguat 25% menjadi Rp 1.000, ATIC naik 25% menjadi Rp 625, FPNI naik 24,27% menjadi Rp 256, dan POLU menguat 19,98% menjadi Rp 26.125. Meski tak ARA, saham KICI melesat 33,68% menjadi Rp 258, JATI dan naik 30% menjadi Rp 143.
Adapun pergerakan IHSG sepanjang Oktober 2025 menguat sebanyak 102 poin atau 1,27%dari 8.061 akhir September menjadi 8.163 per akhir Oktober 2025. Meski demikian, indeks sempat menyentuh level penutupan tertinggi baru bulan ini 8.274 pada 23 Oktober dan level intraday tertinggi baru sepanjang masa level 8.354 pada 24 Oktober 2025.
Baca Juga
Donald Trump Effect, Ini Dia 3 Koin Kripto yang Terpengaruh Pernyataannya
Di tengah penguatan tersebut sejumlah saham yang catatkan lomptan mengensakan bulan ini lebih dari 200%, yaitu saham SSTM menguat lebih dari 210% menjadi Rp 875, RISE melesat lebih dari 232% menjadi Rp 11.525, dan ASLI hampir mencapai 200% menjadi Rp 200.
Selain kenaikan indeks, pemodal asing mencatatkan pembelian bersih (net buy) lebih dari 13,71 triliun sepanjang Oktober 2025. Jika tak memperhitungkan crossing saham, pemodal asing membukukan penjualan bersih (net sell) saham mencapai Rp 554,31 miliar.

