Analis: Agar Harga Bitcoin Bisa Balik ke Level US$ 115.000, Sejumlah Hal Ini Harus Terjadi
JAKARTA, investortrust.id - Harga Bitcoin (BTC) tampaknya mulai kehilangan tenaga setelah reli 10% dari level terendah US$ 103.500 pada 17 Oktober lalu.
Sejumlah analis menilai, agar Bitcoin dapat menembus kembali level psikologis US$ 115.000 dan berpotensi melanjutkan tren bullish, ada beberapa faktor penting yang harus terjadi dalam beberapa hari ke depan.
Menurut data Cointelegraph Markets Pro dan TradingView, Bitcoin sempat menembus beberapa level penting, termasuk 200-day simple moving average (SMA), level psikologis US$ 110.000, serta area support di US$ 114.000.
Manajer kekayaan asal Swiss yaitu Swissblock menyebut bahwa kekuatan Bitcoin saat ini akan diuji pada kemampuan harga mempertahankan area US$ 114.000.
“Minggu ini adalah soal konfirmasi, membuktikan bahwa Bitcoin sedang membentuk dasar (bottom) dan mampu menahan support di US$ 114.000,” tulis Swissblock dalam unggahan di platform X, dilansir dari CoinTelegraph, Rabu (29/10/2025).
Baca Juga
Mereka menambahkan, momentum harga sejak flash crash pada 11 Oktober masih negatif, sehingga diperlukan ‘momentum ignition’ atau dorongan baru dari sisi pembeli.
“Untuk mempertahankan kelanjutan tren naik, Bitcoin harus menciptakan tekanan beli baru untuk mempertahankan area US$ 114.000 dan mulai membangun struktur bullish yang baru dari sana,” jelas Swissblock.
Analis kripto Rekt Capital juga menekankan pentingnya konfirmasi teknikal melalui retest di area US$ 114.500 untuk memastikan level tersebut berubah menjadi support yang kuat.
Baca Juga
Harga Bitcoin Menguat, Apakah Ini Waktunya Untuk Berinvestasi?
Sementara itu, analis Daan Crypto Trades menilai, bertahannya 200-day exponential moving average (EMA) di US$ 114.000 menjadi faktor kunci untuk arah pergerakan berikutnya.
Meskipun secara teknikal Bitcoin masih berada di area positif, para analis menyoroti minimnya pembeli dan rendahnya aktivitas jaringan sebagai penyebab utama stagnasi harga.
Data Glassnode menunjukkan, indikator spot cumulative volume delta (CVD) dan perpetual CVD memang masih negatif, namun mulai datar dalam dua pekan terakhir. Hal ini menandakan bahwa tekanan jual agresif sudah mulai berkurang.
Meski begitu, volume perdagangan spot Bitcoin justru menurun 17,5% dalam sepekan terakhir, dari US$ 15,2 miliar menjadi US$ 12,5 miliar. Glassnode menilai, penurunan ini menunjukkan bahwa kenaikan harga menuju US$ 116.000 belum didukung oleh partisipasi pasar yang luas.
“Penurunan volume menunjukkan fase konsolidasi dengan partisipasi yang menurun. Harga mungkin naik, tapi belum dikonfirmasi oleh arus masuk (inflows) yang kuat,” tulis Glassnode dalam laporan Weekly Market Impulse teranyarnya.
Glassnode menambahkan, peningkatan volume perdagangan spot dapat menjadi sinyal awal fase akumulasi baru yang mendorong reli lebih lanjut. Namun untuk saat ini, aktivitas onchain masih lemah, terlihat dari menurunnya jumlah alamat aktif, volume transfer, dan biaya transaksi.
“Selama keyakinan investor belum meningkat dan permintaan belum meluas, Bitcoin kemungkinan akan tetap bergerak sideways dalam fase konsolidasi,” tambah Glassnode.
Sejumlah analis juga menilai bahwa kombinasi antara sinyal relative strength index (RSI) yang positif dan potensi pemangkasan suku bunga oleh The Fed bisa menjadi pemicu bagi reli Bitcoin berikutnya dalam beberapa hari ke depan.
Melirik data CoinMarketCap, Bitcoin saat ini berada di level harga US$ 112.515,07, Rabu (29/10/2025), pukul 8.33 WIB, atau menurun 1,42% dalam 24 jam terakhir.

