3 Hal ini Bisa Perkuat Hilirisasi Tembaga agar Produknya Bisa Bersaing di Pasar Global
JAKARTA, investortrust.id - Hilirisasi tembaga terus menjadi perhatian lantaran menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem industri nasional. Namun, keberhasilan hilirisasi masih memerlukan dukungan lintas sektor agar produk hilir yang dihasilkan mampu bersaing di pasar global.
Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Heri Firdaus menilai bahwa hilirisasi tembaga memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan energi dan industri nasional. Namun, menurutnya, daya saing produk hasil hilirisasi akan semakin kuat jika ditopang infrastruktur memadai, regulasi kondusif, serta ketersediaan energi yang stabil.
Baca Juga
Lapor ke Prabowo, Satgas Hilirisasi Fokus Industrialisasi Berkelanjutan
“Langkah yang telah diambil pelaku industri, termasuk MIND ID, sudah cukup strategis dalam mendukung hilirisasi. Namun, agar daya saing produk hilirisasi bisa optimal di pasar global, dibutuhkan dukungan dari berbagai sektor. Misalnya, pembangunan infrastruktur dasar dan konektivitas yang lebih baik,” ujar Heri dalam keterangannya, Selasa (11/3/2025).
Selain itu, dia menekankan pentingnya penguatan program pada sisi sumber daya manusia (SDM). Terlebih, sektor pertambangan tergolong sebagai industri padat modal dan membutuhkan kapabilitas SDM tinggi demi menjamin keberlanjutan.
Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) Rizal Kasli turut menyoroti tantangan utama hilirisasi, yakni membangun industri hilir yang mampu menghasilkan produk akhir (end product).
Menurutnya, keberadaan Danantara sebagai badan pengelola investasi (BPI) yang baru terbentuk, dapat menjadi solusi mengembangkan industri hilir tembaga. “Danantara telah terbentuk dan MIND ID merupakan bagian darinya. Keberadaan BPI tersebut memberi peluang membangun perusahaan baru yang khusus bergerak di bidang hilir untuk menghasilkan produk akhir berkualitas. Hal ini akan sangat menghemat devisa negara,” jelas Rizal.
Baca Juga
Pemerintah Siap Hilirisasi 21 Proyek, Investasi Awal US$ 40 Miliar
Di sisi lain, penguatan sektor hulu juga menjadi faktor penting dalam ekosistem industri tembaga. Data Badan Geologi 2023 menunjukkan bahwa cadangan tembaga Indonesia mengalami penurunan dari 28 juta ton pada 2020 menjadi 20,3 juta ton, dengan total cadangan bijih mencapai 3 miliar ton.
Saat ini, pengelolaan sumber daya tembaga nasional masih terkonsentrasi di PT Freeport Indonesia, dengan kepemilikan saham 41,23% oleh BUMN holding pertambangan MIND ID, 10% pemerintah daerah Papua, dan 48,77% oleh Freeport McMoRan. Dengan total kepemilikan Indonesia mencapai 51,23%, penguasaan sumber daya menjadi faktor kunci untuk memperkuat hilirisasi.
”Berdasarkan data Badan Geologi, sebaran sumber daya tembaga ini banyak di Nusa Tenggara, Papua, Kalimantan, dan Sumatera, sehingga diperlukan penguasaan wilayah pertambangan oleh MIND ID untuk dapat menjadi key player dalam industri tembaga,” tutup Rizal.

