Transformasi Hijau Berbuah, Bisnis Limbah TOBA Melonjak 1.048% di Kuartal III-2025
JAKARTA, investortrust.id – PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mencatat penurunan pendapatan konsolidasian sebesar 14% menjadi US$ 288,2 juta hingga kuartal III-2025. Pelemahan akibat tekanan harga batu bara yang menggerus kinerja segmen pertambangan, meski bisnis hijau perseroan mulai menunjukkan hasil positif. Adapun, EBITDA disesuaikan positif mencapai US$ 31,84 juta.
Sebaliknya segmen bisnis non batu bara menunujukkan pertumbuhan mengensankan untuk periode sama. Hal ini sejalan dengan transformasi TBS yang telah sepenuhnya keluar dari bisnis PLTU dan berfokus pada tiga pilar hijau, yaitu pengelolaan limbah melalui anak usaha CORA Environment, kendaraan listrik melalui anak usaha Electrum, dan energi terbarukan (mini-hidro Lampung & PLTS Batam).
Baca Juga
TOBA Energi Fokus ke Limbah dan Energi Terbarukan, Begini Potensi Sahamnya
Direktur TOBA Julie Oktarina menyampaikan bahwa tahun ini menjadi momentum penting bagi TBS untuk memperkuat fondasi bisnis hijau setelah menuntaskan fase awal transformasi dan divestasi dua PLTU. “Kami kini fokus memperkuat operasional di seluruh pilar hijau. Dengan kas kuat, struktur keuangan sehat, dan strategi jelas, TBS siap masuk fase optimalisasi profitabilitas dan sinergi antar pilar pada 2026,” ujarnya di Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Meski pendapatan menurun, segmen non-batubara tumbuh signifikan. Bisnis pengelolaan limbah menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 39% dari total pendapatan, melonjak 1.048%, dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kinerja keuangan TOBA turut dipengaruhi rugi non-tunai bersifat satu kali (non-recurring) dari divestasi PLTU dan biaya akuisisi bisnis hijau. Jika faktor tersebut dikecualikan, TOBA mencatat laba sekitar US$ 1,8 juta dengan EBITDA disesuaikan sebesar US$ 31,8 juta.
Dari sisi likuiditas, posisi kas meningkat menjadi US$ 89 juta per akhir kuartal III-2025, naik dari US$ 68 juta di akhir 2024. Peningkatan ini ditopang oleh hasil divestasi serta penerbitan Sukuk Wakalah dan Obligasi Berkelanjutan I Tahun 2025.
Baca Juga
Pendapatan Segmen Energi Hijau Melesat 440%, Analis Sebut Transformasi TOBA Berada di Jalur Tepat
Langkah strategis lainnya adalah peluncuran identitas baru CORA Environment di Singapura, menggantikan Sembcorp Environment. Melalui CORA, TBS memperluas bisnis pengelolaan limbah dan teknologi waste-to-energy secara regional. Saat ini CORA memiliki lebih dari 700 karyawan dan 300 armada operasional, serta menyiapkan investasi lebih dari US$ 200 juta dalam lima tahun ke depan untuk memperkuat jaringan recycling hingga 2026.
Bisnis pengelolaan limbah yang dirintis sejak 2018 kini menjadi motor pertumbuhan utama TOBA, dengan rencana ekspansi ke Thailand, Vietnam, dan Malaysia. Fokusnya mencakup pengembangan infrastruktur waste-to-energy dan kolaborasi kebijakan lingkungan lintas negara.
Baca Juga
Net Sell Melanda Rp 1,37 Triliun, Investor Asing Obral Saham Bank Ini
Sementara itu, ekosistem kendaraan listrik Electrum terus berkembang. Hingga September 2025, terdapat 6.400 motor listrik beroperasi dengan dukungan 360 stasiun penukaran baterai (BSS) — meningkat 25% dari semester sebelumnya. Aktivitas penukaran baterai mencapai 850 ribu kali per bulan, menekan emisi karbon lebih dari 25 ton CO₂ per hari.
Di sektor energi terbarukan, PLTMH Sumber Jaya berkapasitas 6 MW mulai beroperasi awal tahun ini turut memperkuat bauran energi bersih TOBA. Selain itu, proyek PLTS Terapung Tembesi di Batam bersama PLN Nusantara Power ditargetkan beroperasi komersial pada pertengahan 2026. “EBITDA kami tetap kuat berkat kontribusi pengelolaan limbah dan kendaraan listrik. Portofolio hijau TBS kini tumbuh sekaligus matang secara operasional,” tutup Julie.

