Kiwoom Sekuritas: Telekomunikasi dan Utilitas Diprediksi Tetap Resilien, Meski Infrastruktur Tertekan
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Kiwoom Sekuritas menilai kinerja emiten sektor infrastruktur Indonesia masih menghadapi tantangan berat hingga akhir tahun. Meski begitu, subsektor telekomunikasi dan utilitas tetap menjadi yang paling tangguh di tengah penurunan margin dan efisiensi.
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas, menjelaskan bahwa sektor infrastruktur masih terbebani tantangan likuiditas dan efisiensi operasional. “Telekomunikasi dan utilitas menjadi yang paling resilien, meski laba bersih menurun akibat kompetisi tarif dan biaya proyek baru,” ujarnya, Rabu (22/10/2025).
Baca Juga
Ditopang Faktor Ini, Laba Atribusi Petrosea (PTRO) Melesat 142% hingga Kuartal III-2025
Sebaliknya, sektor transportasi dan konstruksi sipil mencatat kinerja paling lemah. “Kenaikan biaya bunga, keterlambatan proyek, dan fluktuasi volume lalu lintas menjadi faktor utama pelemahan tersebut,” kata Liza.
Meski demikian, Kiwoom melihat peluang pemulihan pada paruh kedua 2025, didorong oleh proyek publik dan stimulus fiskal pemerintah.
Pada subsektor telekomunikasi, pendapatan mencapai Rp 139,7 triliun, turun 5% dibanding tahun sebelumnya. Laba bersih juga terkoreksi 5% menjadi Rp 15,1 triliun, namun margin laba bersih tetap stabil di 11%, menandakan profitabilitas masih terjaga meski terjadi moderasi pertumbuhan data.
Baca Juga
Saat Harga Bergerak Stagnan, Investor Institusi Ini Getol Tambah Saham Mitratel (MTEL)
Sementara itu, subsektor transportasi infrastruktur mencatat pendapatan Rp 20,1 triliun atau turun 5% yoy. Namun, laba bersih merosot 68% menjadi Rp 3 triliun, dengan margin laba anjlok dari 44% menjadi 15%, dipicu kenaikan biaya operasional, fluktuasi volume lalu lintas, dan beban bunga tinggi.
Kinerja terlemah terlihat pada heavy construction & civil engineering, yang membukukan penurunan pendapatan 27% yoy menjadi Rp 30,1 triliun. Sektor ini menanggung kerugian Rp 3,1 triliun, turun 123% yoy, akibat keterlambatan proyek, tekanan arus kas, serta kenaikan biaya material dan bunga.
Adapun subsektor utilities masih menunjukkan pertumbuhan pendapatan 7% yoy menjadi Rp 14,5 triliun, meski laba bersih turun 39% menjadi Rp 4,1 triliun. Margin laba menyempit dari 50% menjadi 29%, dipengaruhi biaya awal proyek dan volatilitas tarif.
Baca Juga
Laba Atribusi Jasa Marga (JSMR) Semester I 2025 Turun, Pemicunya Ini
“Walau margin tertekan, sektor utilitas masih memperlihatkan ketahanan di tengah fluktuasi biaya dan faktor cuaca,” jelas Liza.
Secara keseluruhan, Kiwoom Sekuritas menilai sektor infrastruktur masih dalam fase konsolidasi dengan tekanan margin yang kuat. Namun, dukungan kebijakan pemerintah dan percepatan proyek strategis nasional berpotensi menjadi katalis perbaikan kinerja pada semester II-2025.
Kiwoom Sekuritas menilai sektor infrastruktur masih tertekan pada semester I-2025, namun subsektor telekomunikasi dan utilitas tetap paling tangguh.

