Saat Harga Bergerak Stagnan, Investor Institusi Ini Getol Tambah Saham Mitratel (MTEL)
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id – Investor institusi asing dan domestik terpantau agresif menambah kepemilikan saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel sepanjang tahun ini. Aksi tersebut dilakukan saat harga saham MTEL menunjukkan penurunan harga sepanjang year to date (ytd).
Langkah agresif institusi asing menambah saham di MTEL didukung sejumlah faktor, seperti Mitratel merupakan emiten infrastruktur telekomunikasi terbesar di Indonesia, royal membagikan dividen, kas dan setara kas paling besar Rp 2,76 triliun mengalahkan TBIG senilai Rp 798 miliar dan TOWR bernilai Rp 782,29 miliar hingga semester I-2025, serta MTEL didukung induk usaha operator telekomunikasi, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dengan pangsa pasar terbesar di Indonesia.
Baca Juga
Mitratel (MTEL) Dapat Restu Buyback, Sahamnya Diprediksi makin Atraktif
Berdasarkan data Bloomberg hingga akhir September, tiga investor institusi ini justru agresif menambahk kepemilikan dengan membeli jutaan saham MTEL sepanjang tahun ini. Di antaranya, Manulife Financial Corporation memborong sebanyak 22,15 juta saham MTEL, Saudi Economics & Development Securities Co memborong 10,14 juta saham, dan Henan Putihrai Asset Management dari dalam negeri memborong 8,32 juta saham MTEL.
Begitu juga dengan investor institusi Blackrock terpantau masih getol mempertahankan saham di MTEL dengan penambahan tipis, sehingga total saham MTEL yang dikuasainya meningkat menjadi 43,85 juta saham MTEL. Adapun investor institusi asing yang masih mempertahankan saham MTEL dalam jumlah besar, yaitu GIC Pte Ltd lebih dari 5%, Virtus Investment Partners, Vanguard Group, Jackson National Asset Management, hingga Prudential Plc.
Pengamat pasar modal Redy Octa mengatakan, Mitratel (MTEL) memiliki sejumlah sentimen positif yang bisa menopang pergerakan harga sahamnya ke depan. Di antaranya, anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) ini tengah menggelar pembelian kembali (buyback) saham dengan target dana Rp 1 triliun.
Baca Juga
IHSG Dibuka Melesat 1%, Saham Sektor Perbankan Dimotori BBCA Jadi Penggerak
“Buyback merupakan sentimen positif bagi suatu emiten dengan ekspektasi bisa memberikan dorongan untuk investor meyakini bahwa manajemen internal yakin akan kinerja perusahaan kedepan secara fundamental dan momentum, sehingga hal ini dapat menguatkan harga sahamnya,” ujarnya di Jakarta, kemarin.
MTEL, terang dia, juga didukung atas tren penurunan suku bunga ke depan baik dari The Fed maupun BI Rate yang diharapkan menjadi katalis positif bagi MTEL. Penurunan suku bunga akan membiat beban bunga perseroan lebih rendah, memperkuat arus kas, dan membuka potensi untuk melakukan ekspansi.
Potensi Rebound
Terkait pergerakan harga, saham MTEL di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin ditutup di level Rp 545. Dengan harga tersebut, saham MTEL telah melemah dari penutupan akhir tahun 2024 level Rp 645 menjadi Rp 545 atau turun 15,5%. Penurunan tersebut berbanding terbalik dengan kinerja yang terus menunjukkan peningkatan.
Laba tahun berjalan MTEL berhasil naik dari Rp 1,06 triliun menjadi Rp 1,09 triliun, sehingga laba per saham emiten ini mencapai Rp 13 hingga semester I-2025. Pendapatan perseroan juga konsisten meningkat dari Rp 4,49 triliun menjadi Rp 4,59 triliun untuk periode sama.
Baca Juga
Pendapatan dan Laba Mitratel (MTEL) Naik di Semester I-2025, Fokus Fiberisasi dan Inovasi Digital
Dengan koreksi tersebut, saham MTEL underperformed terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) yang berhasil menguat sebanyak 13,86% ke level tertinggi baru di atas 8.061 hingga akhir kuartal III-2025. Kinerja MTEL juga underperformed terhadap indeks sektor infrastruktur yang melonjak tajam 25,6% hingga akhir September 2025.
Selain itu, MTEL menjadi saham menara telekomunikasi satu-satunya dengan pelemahan teradalam periode Januari-September 2025 dengan penurunan lebih dari 15%. Penurunan harga tersebut berbanding terbalik dengan posisi Mitratel sebagai perusahaan infrastruktur telekomunikasi terbesar di Indonesia dengan prospek kinerja keuangan tren bertumbuh.

