Bagikan

IHSG Berpotensi “Rebound”, Kiwoom Sekuritas Pertahankan Target 8.000 di Akhir Tahun

Poin Penting

Kiwoom Sekuritas memproyeksikan IHSG masih berpotensi menguat ke level 7.800–8.000 hingga akhir 2025 meski tekanan global akibat krisis kredit dan ketegangan AS–China menekan pasar.
Pelemahan IHSG dipicu kepanikan global dan rumor domestik soal kebijakan pemerintah terhadap saham besar serta pengendalian “saham gorengan”.
Dukungan likuiditas Rp 16 triliun dari BPI Danantara dan kinerja emiten kuartal III diharapkan menjadi katalis positif untuk menjaga stabilitas dan memperkuat pasar saham domestik.

JAKARTA, investortrust.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih berpeluang melambung kembali setelah terpuruk alias mengalami rebound hingga akhir tahun meski sentimen global tengah menekan pasar domestik. Dengan alasan itu, Kiwoom Sekuritas Indonesia mempertahankan target IHSG di level psikologis 8.000.

“Menimbang begitu banyak volatilitas di pasar secara short to mid term, Kiwoom Research tetap pertahankan target IHSG akhir tahun di range 7.800-8.000,” kata Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata dalam risetnya, dikutip Sabtu (18/10/2025).

Liza menilai pelemahan IHSG belakangan ini lebih mencerminkan kondisi risk-off mode global, bukan semata-mata karena faktor fundamental dalam negeri. Tekanan yang dialamipasar saham domestik belakangan ini sepenuhnya merupakan cerminan kepanikan global.

Baca Juga

Saat IHSG Anjlok 4,14% Sepekan, Saham Emiten Emas Justru Bersinar, Ada ARCI hingga EMAS  

“Tekanan IHSG pada Jumat (17/10/2025) sepenuhnya merefleksikan risk-off mode global. Memang koreksi teknikal, namun turut disumbang oleh bagian dari kepanikan global akibat kombinasi krisis kredit di AS dan ketegangan geopolitik AS-China,” ujar dia.

Liza memaparkan, lonjakan gagal bayar korporasi di AS, seperti First Brands, Tricolor Holdings, Zions Bancorporation, dan Western Alliance telah menimbulkan kekhawatiran efek domino di sektor keuangan. Kondisi tersebut membuat investor global beramai-ramai melepas aset berisiko, yang ditunjukkan oleh melesatnya harga emas ke level US$ 4.300.

“Meroketnya gold ke 4.300-an jadi indikator terdepan kalau pasar ekuitas mulai goncang,” imbuh dia.

Menurut Liza Camelia, tekanan juga diperparah oleh rumor domestik mengenai sikap pemerintah terhadap pasar saham. “Ada juga rumor di domestik bahwa pemerintah, khususnya Menkeu Purbaya, ingin melihat IHSG yang sesungguhnya tanpa intervensi saham-saham konglomerat besar, sekaligus menyinggung tentang pengendalian saham-saham gorengan,” ungkap Liza.

Baca Juga

IHSG Melemah 4,14% hingga Terburuk di Asia Sepekan, Market Cap ‘Ambyar’ Rp 814 Triliun  

Ia menambahkan, kabar tersebut memicu aksi jual pada sejumlah saham kapitalisasi besar, seperti BREN, CDIA, DSSA, DCII, TPIA, BRPT, dan CUAN. Kondisi ini membuat tekanan terhadap IHSG kian dalam, terutama karena struktur kepemilikan asing di saham perbankan masih dominan.

Statistik harian BEI (17 Oktober 2025). Sumber: BEI 
 

“Dalam konteks itu, pelemahan hari ini justru memperlihatkan wajah riil pasar ketika faktor support system sementara dilepas,” tandas dia.

Meski demikian, Liza menegaskan, katalis positif tetap ada di tengah gejolak global. Rencana Badan Pengelola Investasi (BPI)  Danantara mengucurkan dana sekitar Rp 16 triliun ke pasar modal dapat menjadi bantalan likuiditas yang dapat memperbaiki kedalaman pasar.

“Alokasi tersebut diharapkan bisa menjadi liquidity buffer untuk  menahan kejatuhan lebih dalam, sekaligus memperbaiki kedalaman pasar yang selama ini terlalu tipis dibanding negara tetangga, seperti India dan Hong Kong,” jelas dia.

Posisi investor asing di BEI (17 Oktober 2025). Sumber: BEI  

Baca Juga

Saham Konglomerasi Berguguran, IHSG Akhir Pekan Anjlok 2,57%  ke Bawah 8.000

Kiwoom Sekuritas melihat pergerakan IHSG ke depan sangat ditentukan dua faktor utama, yakni  stabilisasi sektor keuangan di AS dan realisasi suntikan likuiditas domestik oleh Danantara.

Namun, Liza Camelia  tetap mengingatkan bahwa volatilitas masih tinggi selama belum ada respons kebijakan konkret dari The Fed maupun China, terutama terkait perang tarif yang akan memuncak pada 1 November serta potensi berkepanjangan  government shutdown di AS.

Selain faktor eksternal, Liza menyoroti pentingnya kinerja emiten domestik sebagai penggerak pasar dalam waktu dekat. “Secara korporasi domestik, kita juga tengah menantikan kinerja kuartal III yang harusnya sudah mulai rilis pekan depan. Earnings-driven atau cerita pendapatan akan jadi driver market ke depan,” tutur dia.

The Convergence Indonesia, lantai 5. Kawasan Rasuna Epicentrum, Jl. HR Rasuna Said, Karet, Kuningan, Setiabudi, Jakarta Pusat, 12940.

FOLLOW US

logo white investortrust
Telah diverifikasi oleh Dewan Pers
Sertifikat Nomor1188/DP-Verifikasi/K/III/2024