Saat IHSG Anjlok 4,14% Sepekan, Saham Emiten Emas Justru Bersinar, Ada ARCI hingga EMAS
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Di tengah anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 4,14% dalam sepekan terakhir, saham-saham emiten emas justru tampil cemerlang. Sejumlah saham di sektor logam mulia mencatat penguatan signifikan, dipimpin oleh PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), perusahaan ritel emas, dengan kenaikan 45,89% sepanjang periode pengamatan.
Kinerja kuat saham emiten emas di tengan penurunan IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan minat kuat investor terhadap aset yang dianggap “safe haven” di tengah gejolak pasar. Lonjakan harga emas global turut mendorong reli saham-saham produsen dan penjual logam mulia di dalam negeri.
Baca Juga
IHSG Melemah 4,14% hingga Terburuk di Asia Sepekan, Market Cap ‘Ambyar’ Rp 814 Triliun
Sedangkan kenaikan harga saham tambang emas dalam sepekan, yaitu PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) menguat 34,11%, PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) naik 22,41%, PT Indika Energy Tbk (INDY) menguat 14,86%, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) naik 12,85%, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menguat 9,04%, dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) bertambah 8,11%, dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menguat 4,63% dalam sepekan.
Kinerja solid saham-saham emas ini berbanding terbalik dengan IHSG yang mengalami penurunan paling dalam di kawasan Asia sepanjang pekan ini. Penguatan harga saham emas tersebut ditopang berlanjutnya kenaikan harga emas pekan ini hingga sempat tembus di atas level US$ 4.300 per ons di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok serta ketidakpastian akibat penutupan sebagian pemerintahan AS.
Kenaikan harga emas ini menandai momentum baru bagi logam mulia yang selama ini menjadi aset safe haven bagi investor ketika pasar global bergejolak. Secara keseluruhan, logam kuning telah menguat lebih dari 60% sepanjang tahun ini, didorong oleh kombinasi faktor geopolitik, ekspektasi penurunan suku bunga, pembelian besar-besaran oleh bank sentral, tren de-dolarisasi, serta arus masuk dana ke exchange-traded fund (ETF) berbasis emas.
Baca Juga
Moody’s Sebut Sistem Perbankan AS Masih Kuat Meski Ada Kredit Macet
Analis di MarketPulse OANDA, Zain Vawda, menyebut arah pergerakan emas akan bergantung pada kejelasan pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS menjelang 2026 serta dinamika hubungan AS–Tiongkok. “Jika tidak tercapai kesepakatan antara AS dan Tiongkok, dan hubungan kedua negara terus memburuk, hal itu bisa menjadi pemicu yang dibutuhkan emas untuk menembus level US$ 5.000 per ons,” ujar Vawda dilansir CNBC.
Di sisi lain, pelaku pasar juga memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Oktober dan satu kali lagi pada Desember, dengan probabilitas masing-masing 98% dan 95%. Penurunan ini biasanya menjadi katalis positif bagi emas, karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) sehingga cenderung diminati saat suku bunga turun.
Sementara itu, HSBC menaikkan proyeksi rata-rata harga emas tahun 2025 menjadi US$ 3.355 per ons, didorong lonjakan permintaan safe haven, ketegangan geopolitik, dan pelemahan dolar AS. Reli ini menegaskan tren peningkatan minat investor terhadap aset logam berharga di tengah ketegangan global dan prospek penurunan suku bunga di ekonomi utama dunia.
Grafik Saham Emas

