Moody’s Sebut Sistem Perbankan AS Masih Kuat Meski Ada Kredit Macet
Poin Penting
- Moody’s menilai tidak ada tanda krisis sistemik di perbankan AS meski muncul kasus kredit macet.
- Beberapa bank seperti Zions dan Western Alliance melaporkan kerugian dari pinjaman otomotif.
- CEO JPMorgan Jamie Dimon sempat peringatkan risiko lebih besar, namun Moody’s menilai situasi terkendali.
- Ekonomi AS dinilai tetap tangguh, dengan kualitas kredit yang masih stabil dan prospek membaik.
NEW YORK, investortrust.id - Meskipun ada kekhawatiran mengenai kredit macet di bank-bank menengah AS, analis senior di Moody’s Ratings menyebutkan hampir tidak ada bukti adanya masalah sistemik.
Baca Juga
Kekhawatiran Kredit Bermasalah Tekan Wall Street, Dow Anjlok 300 Poin
Marc Pinto, kepala global kredit swasta lembaga tersebut, mengakui dalam wawancara di CNBC, Jumat (17/10/2025), bahwa ada kekhawatiran tentang standar pemberian pinjaman yang longgar dan beberapa kelonggaran dalam persyaratan yang diterapkan lembaga terhadap pinjaman. Namun, ia mengatakan ketika melihat sistem secara keseluruhan, tidak ada tanda-tanda penularan yang dapat memicu krisis keuangan yang lebih luas.
“Ketika kami menggali lebih dalam dan melihat apakah ada perubahan dalam siklus kredit—yang tampaknya menjadi fokus pasar—kami tidak menemukan bukti apa pun. Itu yang kami lihat hari ini. Tentu saja itu bisa berubah, tetapi jika kami melihat angka kualitas aset selama beberapa kuartal terakhir, kami hampir tidak melihat adanya penurunan,” beber Pinto.
Saham perbankan anjlok secara luas pada Kamis setelah Zions Bancorp dan Western Alliance Bancorp mengungkapkan adanya kredit bermasalah terkait kebangkrutan dua pemberi pinjaman otomotif. Kekhawatiran ini telah menekan saham bank investasi Jefferies bulan ini sejak mengungkapkan eksposur terhadap pembuat suku cadang mobil yang bangkrut, First Brands.
Kerugian meluas di seluruh sektor pada Kamis karena kekhawatiran meningkat bahwa risiko bisa lebih luas. CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon sempat menarik perhatian awal pekan ini ketika mengatakan dalam panggilan laporan keuangan bank bahwa “ketika Anda melihat satu kecoak, mungkin ada lebih banyak lagi.”
Pinto menepis,“satu kecoak tidak berarti sebuah tren.” Faktanya, kata Pinto, tingkat gagal bayar pada utang berimbal hasil tinggi tahun ini relatif rendah, berada di bawah 5%, dan diperkirakan akan turun di bawah 3% pada 2026. Sebagai perbandingan, selama krisis keuangan 2008, tingkat gagal bayar utang berimbal hasil tinggi mencapai dua digit.
Pada saat yang sama, ekonomi AS terbukti lebih kuat dari yang diperkirakan, tambah Pinto, meski ada kekhawatiran berkelanjutan tentang lemahnya pasar tenaga kerja dan dampak tarif Presiden Donald Trump terhadap inflasi dan permintaan konsumen. Pinto mengatakan ia menghadiri konferensi minggu ini dengan sekitar 2.000 bankir “dan salah satu kata yang terus saya dengar adalah ketahanan.”
Baca Juga
Powell: Ekonomi AS Mulai Pulih, tapi Pasar Tenaga Kerja Masih Lemah
“Dengan melihat pertumbuhan PDB, kita tampil jauh lebih baik dari yang banyak orang kira enam bulan lalu,” ujarnya. Jadi, menurut dia, dengan kondisi kredit saat ini, pertumbuhan PDB, dan penurunan suku bunga yang diharapkan, kami merasa kualitas kredit berada di tempat yang cukup baik hari ini dan bahkan berpotensi membaik.”
Sentimen pasar tampak membaik pada Jumat setelah aksi jual besar pada Kamis.
Dana yang diperdagangkan di bursa SPDR S&P Regional Banking, yang melacak pemimpin pasar menengah, jatuh 6,2% pada Kamis tetapi naik 2% pada perdagangan pra-pasar Jumat.

