IHSG Rontok 2,57% ke 7.915, Analis: Terjadi Fase Konsolidasi, Bukan Bearish!
Poin Penting
|
JAKARTA, investortrust.id — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencatat koreksi tajam pada akhir pekan ini. Pada penutupan perdagangan Jumat (17/10/2025), IHSG turun 2,57% ke level 7.915,66, menandai tekanan jual besar-besaran yang telah menekan indeks lebih dari 3% dalam sepekan. Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa pasar sedang memasuki fase konsolidasi setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi di level 8.288.
Analis Pasar Modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai pelemahan IHSG saat ini belum mengindikasikan tren bearish yang berkepanjangan. “Kondisi ini memperkuat sinyal bahwa pasar sedang memasuki fase konsolidasi, bukan sepenuhnya bearish, di mana investor cenderung mengambil posisi aman setelah kenaikan yang sangat cepat dalam beberapa bulan terakhir,” ujar Hendra kepada investortrust.id, Jumat (17/10/2025).
Baca Juga
Meski IHSG Anjlok, Asing justru Net Buy Jumbo Rp 3,03 Triliun Borong Saham Ini
Secara teknikal, IHSG kini berada di bawah pola lower wedge dengan area support penting di kisaran 7.805 dan area kuat di 7.448–7.548, sementara resistance jangka pendek berada di 8.285. Menurut Hendra, jika indeks mampu bertahan di atas support tersebut, peluang rebound masih terbuka, terutama apabila tekanan eksternal mulai mereda.
Tekanan terbesar datang dari saham-saham konglomerat seperti BREN, DSSA, BRPT, dan CUAN yang sebelumnya menjadi motor penggerak reli IHSG. Menurut Hendra, koreksi tajam yang menimpa emiten besar tersebut merupakan bentuk profit taking yang wajar.
“Selama beberapa bulan terakhir, saham-saham ini sudah melonjak sangat tinggi, didorong oleh euforia terhadap kinerja kuat sektor energi, digital, dan keuangan. Namun kini investor tampak memilih mengamankan keuntungan di tengah meningkatnya ketidakpastian global,” jelasnya.
Ia menegaskan, koreksi kali ini belum menandakan berakhirnya era saham konglomerat, melainkan fase penyesuaian valuasi setelah reli besar. “Justru ketika tekanan jual mulai mereda, saham-saham besar tersebut masih berpotensi menjadi penopang IHSG kembali, mengingat fundamental bisnis mereka tetap solid dan terus ekspansif,” tambah Hendra.
Saham Pilihan
Di tengah pelemahan pasar, Hendra melihat peluang akumulasi pada saham-saham unggulan LQ45 yang kini sedang diskon. Ia merekomendasikan saham BBCA speculative buy dengan target Rp7.950, saham TLKM buy on weakness di kisaran Rp2.780 dengan target Rp3.100, dan saham ASII buy on weakness di area Rp5.400 dengan target Rp6.000.
“Koreksi pasar kali ini bisa dimanfaatkan investor sebagai momentum akumulasi bertahap pada saham-saham berkapitalisasi besar dengan fundamental kokoh,” ujarnya.
Baca Juga
Pemerintah Anggarkan Rp 1,4 Triliun untuk 80.000 Peserta Magang Fresh Graduated Batch 2
Selain faktor teknikal, ketidakpastian global juga menjadi pemicu utama koreksi pasar. Sentimen negatif datang dari memanasnya perang dagang AS–China, ancaman government shutdown di Amerika Serikat yang telah berlangsung 16 hari, serta kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global. Kondisi tersebut mendorong investor sementara beralih ke aset safe haven seperti emas, yang bahkan menembus rekor baru di US$4.340 per troy ounce pada Jumat sore.
Meski demikian, Hendra menilai perpindahan dana ke emas hanya bersifat sementara. “Fundamental pasar saham domestik masih kuat didukung stabilitas makroekonomi dan potensi penurunan suku bunga BI pada kuartal mendatang,” katanya.
Dari sisi domestik, koreksi IHSG juga mencerminkan penilaian pasar terhadap satu tahun pemerintahan Prabowo–Gibran. Investor masih menanti arah kebijakan ekonomi dan fiskal yang lebih jelas, khususnya dalam menjaga defisit APBN serta mempercepat proyek strategis nasional.

